Tampilkan postingan dengan label Zain oul Mottaqin Ahmed. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zain oul Mottaqin Ahmed. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2016




KAU BER-ISLAM, TAPI KAU KEHILANGAN MUHAMMAD

Oleh: Ahmed Zain Oul Mottaqin

Bang apakah ibu-ibu Tionghoa itu salah karena meminta suara azan dari toa masjid dikecilkan?

Sejauh ini yang saya lihat dia salah. Mungkin dia lagi stres, atau anaknya sedang sakit, atau apalah kita tidak tahu. Yang jelas dia memang "nekad" mengusik hal sensitif, dan dia salah.

Lalu apakah tanggapan ormas islam yang mengamuk, melempari rumah ibu itu, dan membakar vihara sudah benar?

Itu jelas JAUH LEBIH STRES lagi. Hanya karena tingkah seorang ibu berusia 46 tahun, lalu kalian para pria yang mengaku muslim langsung berubah menjadi preman pasar. Ibu itu hanya sendiri dan ia tidak membawa pasukan seorangpun. Kalau anda mau marah, ya laporkan ke RT/Lurah setempat dan minta ibu itu dinasehati. Bukannya mengamuk dan membakar 10 vihara seperti preman.

Lho tapi kan ibu itu duluan yang mulai?

So what kalau dia yang mulai? Apa itu jadi alasan pembenaran bagimu untuk melakukan pembalasan yang jauh lebih sadis? 

Anda muslim kan? Sejak kapan jadi muslim mengajarkan anda membalas kezaliman dengan kezaliman yang lebih parah. Bahkan dalam Qur'an Allah mengajarkan kita dalam menghadapi perbuatan buruk orang lain "ldfa' billati hiya ahsanus sayyiata" >> “Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik."

Bahkan jika emosi anda sudah di ubun-ubun hingga anda tak kuasa untuk tak membalas, maka Allah membatasi boleh membalas asal proporsional sesuai dengan kezaliman yang ditimpakannya padamu, "Wajaza’u sayyiatin sayyiatun mistluha" >> balasan keburukan adalah keburukan YANG SERUPA, tidak melampaui sedikitpun. Karena membalas dengan cara yang lebih sadis adalah kezaliman. Dan Allah membenci orang-orang yang zalim.

Terus umat islam harus diam saja dengan tingkah ibu tersebut?

Beragama tidak berarti memendekkan sumbu. Panjangkan sumbumu sedikit agar pikiran yang lebih proporsional bisa masuk! Kau sebut islam agama Rahmatan lil 'Alamin, tapi baru disenggol sedikit oleh ibu-ibu tua sumbumu sudah meledak. Kau sebut umat islam adalah umat yang kuat, tapi dari kelakuanmu kemarin kau hanya menunjukkan islam agama yang kuat di otot, tapi tidak di kedewasaan berpikir. Kau sebut islam agama berkelas, tapi kau melayani protes seorang ibu tua hingga ramai-ramai membakar tempat ibadahnya. Tidak usah lah dulu bicara islam, tanya dirimu sendiri apakah sikap seperti itu jantan?

Terus apa saranmu bang?

Jangan lemahkan islam yang kuat dengan tindakan kerdilmu. Jangan hinakan islam yang suci dengan perbuatan nista. 

Kau tahu apa yang dilakukan Sayyidul Wujud Muhammad pada seorang yahudi tua yang tiap hari meludahi & melempari kotoran padanya? Ia jenguk dan doakan sang yahudi ketika yahudi itu sakit. Kau tahu apa yang dilakukan Muhammad pada seorang yahudi buta yang tiada hari tanpa mencacinya? Ia suapi setiap hari dengan tangannya sendiri tanpa sang yahudi tahu bahwa yang menyuapinya adalah Muhammad yang selalu ia caci. Itulah islam. Ber-islamlah seperti islam-nya Muhammad, bukan islam ala egomu. Jangan sampai kau hanya ber-islam, tapi kau kehilangan Muhammad.

Minggu, 03 Juli 2016


Oleh : Ahmad Zainul Muttaqin

PERNYATAAN RESMI PFLP (FRONT POPULER UNTUK PEMBEBASAN PALESTINA) MENGENAI "NORMALISASI" HUBUNGAN TURKI DAN ISRAEL

Saya terjemahkan pernyataan resmi Front PFLP Gaza langsung dari website resmi mereka:

"Normalisasi hubungan antara Turki dan Israel adalah sangat MENCURIGAKAN dan MENGANCAM. Langkah "normalisasi" hanyalah PENIPUAN Rezim Erdogan yang sebenarnya tidak pernah menghentikan kerjasama ekonomi, militer dan keamanan-nya dengan Israel. Isu blokade Gaza hanyalah kartu yang dimainkan dalam kerangka konflik regional.

PFLP dengan ini menyerukan seluruh faksi Palestina untuk bersatu untuk menghadapi bahaya yang ditimbulkan oleh aliansi ini yang merupakan pengepungan bagi front Muqawwamah (perlawanan) di kawasan khususnya Muqawwamah Palestina. 

Hubungan regional antara Turki dan Zionis adalah bersifat DALAM DAN KEKAL, jauh melampaui frase "normalisasi" dan "pemulihan hubungan".

Volume perdagangan antara Turki dan Zionis Israel sama sekali tidak menurun dalam beberapa periode terakhir, bahkan meningkat dua kali lipat di era sekarang. Aliansi antara Turki dan entitas Zionis dimaksudkan untuk melawan kemajuan gerakan-gerakan revolusi di kawasan, dan skema Zionis UNTUK MENJARAH GAS ALAM MILIK RAKYAT PALESTINA, yang nilai kerjasamanya 800 Miliar US DOLLAR, yang nilainya jauh lebih berharga bagi Borjuis Turki dan entitas Zionis daripada seluruh rakyat arab.

Disaat rakyat Palestina menyerukan boikot terhadap negara Zionis, Erdogan justru menguatkan hubungannya dengan Zionis dengan biaya yang ditanggung rakyat Palestina, khususnya Gaza."

Sumber: Website resmi PFLP 

Rabu, 23 Maret 2016


Oleh: Ahmed Zain Oul Mottaqin

Turki dipuja-puja para akhi wa ukhti polos di negeri ini sebagai negara "islami" yang dipimpin Presiden Islam yang menentang Sekularisme, dan bahkan pemimpinnya diagung-agungkan sebagai sosok "Khalifah Islam" ideal.

Tapi tiap lihat TV semua image indah itu hancur. Sinetron-sinetron Turki yang beredar sangat liberal, mengumbar aurat dan minim pesan moral, tak ada bedanya dengan Telenovela-telenovela Meksiko. Seperti Joda Akbar, bahkan gw[saya]  ingat drama pertama Turki yang diputar di negeri ini yang menceritakan Kekhalifahan Ottoman 'King Sulaiman' [Abad Kejayaan] adalah acara TV di Indonesia yang paling banyak sensornya karena belahan buah dada terhambur kemana-mana. Sungguh sangat disayangkan (kenapa disensor).. eeehh.

Baca Juga :
Video Khalifah Erdogan saat Berpesta dan Berpelukan Dengan Penyanyi Berambut Pirang

Lalu kita bertanya, apa saja yang sudah dilakukan sang 'Sultan Erdogan' pada industri perfilman di negaranya selama 13 tahun kekuasaannya? Kini hampir 2.000 orang warganya hendak ia penjarakan karena dianggap 'menghina' dirinya, tapi film-film liberal pamer buah dada dan paha aduhai ia biarkan bebas bertebaran, bahkan jadi komoditas ekspor negaranya.
Inikah 'Khalifah' idolamu ya akhi? Pretttt...

Tag: #Joda Akbar, #Kekhalifahan Ottoman , #Abad Kejayaan, #Khalifah Erdogan, #King Sulaiman 

Sabtu, 05 Maret 2016



Oleh :Ahmed Zain Oul Mottaqin

Jawaban atas fitnah wahabi bahwa penembak Syaikh Al-Qarni adalah Syi'ah 


Beberapa kali saya dihubungi minta pendapat saya soal penembakan ulama Saudi Syaikh Aidh Al-Qarni guna mengcounter fitnah dari media-media takfiri dalam negeri yang begitu gencar menyebar berita bahwa pelakunya adalah Syi'ah.

Oke sini saya kasi tips, Allah dalam Qur'an memerintahkan kita jika datang orang fasiq kepadamu membawa berita maka cek-lah (fatabayyanu) secara teliti kebenarannya agar kamu tidak menimpakan musibah pada suatu kaum tanpa tahu kebenarannya yang menyebabkan kamu menyesal. 

Ingat! Perintah Allah ini hanya berlaku bagi berita-berita yang dibawa orang fasiq, yang cirinya adalah sudah terbukti berkali-kali berdusta. Lalu media mana di muka bumi ini yang lebih sering terbukti menebar Hoax & Fitnah selain media-media takfiri seperti Arrahmahdotcom, eramuslim, kiblatnet, pkspiyungan, nahimunkar dll? Silakan cari! 

Sementara saya sendiri sudah berkali-kali baca dari media-media Internasional termasuk dari media Saudi sendiri seperti Al 'Arabiya bahwa kecurigaan terbesar pelaku penembakan adalah simpatisan ISIS, dimana ISIS sendiri sudah memasukkan Syaikh Aidh al Qarni sebagai salah satu list target mereka.

Saya sendiri sudah menerapkan kaidah bahwa berita apapun yang berasal dari media-media takfiri hukum asalnya adalah dusta, sampai datang bukti-bukti nyata yang membenarkannya. Dan seharusnya kaidah inilah yang diterapkan oleh mereka yang masih merasa dirinya waras.

Pelajarilah latar belakang Syaikh tersebut. Siapapun yang mengenal Syaikh al Qarni pasti paham bahwa penulis buku "La Tahzan" tersebut bukan termasuk ulama Saudi yang berpaham takfiri. Bahkan dia terkenal dengan pernyataannya yang berisi seruan toleransi dan perdamaian antara muslim Sunni dan muslim Syi'ah dan sikapnya yang keras mengutuk kelompok barbar ISIS.

Beliau jelas tidak bisa disamakan dengan para ulama Salafy takfiri Saudi semacam Alu Syaikh atau Muhammad al Arifi, tapi ia hanya bisa disamakan dengan ulama Salafy moderat semacam Syaikh Hasan bin Farhan al Maliki yang toleran terhadap Syi'ah.

Kalau anda mau tahu siapa sebenarnya penembak Syaikh ini, maka lihatlah golongan mana yang paling kepanasan ketika ada ulama penyeru persatuan Sunni-Syi'ah datang. Rasanya baru kemarin kita menyaksikan ulama Sunni moderat Grand Syaikh al Azhar Ahmad Thayyeb datang menyerukan persaudaraan Sunni-Syi'ah, lalu lihat sendiri golongan manakah yang paling kepanasan dan selalu menjelekkan kedatangan beliau? Apa kasus Abu Aqila kemarin belum bisa jadi pelajaran bagi kita? Sebaliknya, kaum Syi'ah justru menyambut hangat kedatangan beliau. 

Oh ya, kejadian penembakan ini kan di Mindanao Filipina ya. Saya belum pernah sekalipun mendengar adanya komunitas Syi'ah di Filipina, kalau komunitas Wahabi Radikal semacam Abu Sayyaf sih sering. 

Kamis, 25 Februari 2016



Oleh: Ahmad Zain Oul Muttaqin 

Para ulama besar Ahlusunnah yang DIAKUI DUNIA seperti Grand Syaikh Al-Azhar Ahmad At-Thayyeb dan tiga ulama Ahlusunnah Syam Syaikh Dr. Taufiq Al-Buthi, Syaikh M. Adnan Afyouni dan Syaikh Ahmad Badruddin Hassun telah datang ke Indonesia dan berkata bahwa Sunni-Syi'ah bersaudara, tidak ada pembantaian muslim Sunni oleh rezim Suriah, serta tidak ada yang namanya perang Sunni vs Syi'ah disana.


Tapi SEGELINTIR pengaku Ahlusunnah disini yang biasanya cirinya bercelana cingkrang, jenggot 5 lembar dan bergigi kuning meradang menuduh ulama-ulama besar tersebut sebagai pembela Syi'ah, Liberal dan Sekuler, serta meminta ulama-ulama tersebut jangan diundang lagi.

Bagi mereka yang boleh diundang hanyalah para "ulama" ileran dan bau jigong seperti Abu Jibril, Ahmad bin Zen Alkaf, Farid Okbah dkk yang paling jago teriak Syi'ah kafir, sesat, musyrik dll.
Karena semakin sering ulama besar Ahlusunnah dunia diundang, maka makin ketahuan bahwa makhluq jadi-jadian diatas hanyalah SEMPALAN di dalam tubuh Ahlusunnah.

Nah, sekarang tahu kan bedanya ulama Ahlusunnah kelas dunia dengan kelas jamban

Kamis, 04 Februari 2016



MUI telah mengeluarkan sertifikasi halal untuk produk Hijab

Oleh : Ahmed Zain Oul Mottaqin

Apa ini dimaksudkan agar memancing produk-produk lain baik itu baju, celana, kaos kaki, topi bahkan underwear untuk mengajukan sertifikasi Halal juga ?
Seharusnya bila ingin adil, MUI yang (merasa) punya tanggung jawab pada seluruh muslim di negeri ini juga sewajarnya mengeluarkan stempel Halal/Haram untuk seluruh merk produk di negeri ini, bukan hanya produk-produk yang datang kepada mereka meminta "stempel langit".

Negeri ini memang mayoritas muslim, namun muslim yang sangat "potensial" dengan pemahaman islam KTP-nya (dalam bahasa saya 'awam religius'). Dikit-dikit minta fatwa halal haram, bahkan untuk jadi sesat atau tidak pun harus dapat stempel dulu dari "Majelis Pemegang Otoritas Langit" ini.

Mungkin sudah bawaan pola pikir kita, persis saat sekolah yang penting intinya kejar ijazah dan dapat gelar, lalu setelah dapat ijazah baru bisa cari kerja. Tidak aneh banyak cara-cara konyol ditempuh untuk mendapat ijazah, dan biasanya tidak jauh dari yang namanya fulus.


Kita tergila-gila dengan selembar surat dan stempel birokrasi, lucunya hal ini sudah dibawa-bawa dalam ranah hukum agama yang sangat abstrak dan inheren dalam diri tiap manusia.

Setelah melihat sertifikasi halal untuk hijab ini kok saya jadi teringat ya sama ISIS yang mengeluarkan kartu 'Ghairu Kafir' (Kartu tanda bukan kafir) kepada warganya yang berlaku selama 3 bulan. (Oh ya, apa sertifikasi halal untuk Zoya juga ada jangka waktunya?)

Jika di negeri ini ada Lembaga yang katanya memegang otoritas langit untuk menghukumi Halal Haram segala sesuatu, lalu siapa yang akan menghukumi Halal/Haram apa yang dilakukan MUI ?

MUI sudahkah yang anda lakukan ini Halal ?

Tag: #MUI, #Jilbab Halal, #Sertifikat Halal

Selasa, 02 Februari 2016



Paranoid Terhadap Syi’ah, Siapa Yang Ajari Anda?

Oleh : Ahmed Zain Oul Mottaqin

Ini adalah tulisan kedua saya di rubrik Humaniora Kompasiana. Jika sebelumnya hampir semua tulisan saya ada di rubrik Politik khususnya membahas geopolitik Timur Tengah, disini rasanya saya ingin menumpahkan curahan hati saya mengenai Fenomena Paranoia sebagian muslim Indonesia terhadap sebuah mazhab islam yang bernama Syi’ah.

Saya selalu bingung dengan orang-orang yang ngakunya beragama tapi sibuk mengurusi “kesesatan” orang lain. Orang-orang yang mengaku mendapat petunjuk tapi ketakutan hingga paranoid terhadap orang-orang yang (katanya) tidak mendapat petunjuk.

Pengikut Syi’ah yang jumlahnya hanya SUPER MINORITAS di negeri ini begitu ditakuti oleh orang-orang paranoid ini seakan mereka adalah setan demit yang ada dimana-mana.
Kampanye-kampanye dan slogan-slogan penyesatan anti-Syi’ah oleh mereka dipropagandakan di seluruh penjuru mulai dari membuat parade besar-besaran hingga bungkus roti. Dan mereka bangga mengeluarkan dana besar untuk mega proyek pengkafiran terhadap sebuah mazhab yang diakui sebagai bagian dari islam dalam Deklarasi Amman yang ditandatangani lebih 500 ulama besar dunia.

Pengikut Syi’ah yang jumlahnya hanya seupil ini dianggap begitu menakutkan dan sangat mengancam hingga keberadaan mereka harus diberantas dengan dalih “menjaga aqidah umat.”
Memang terlihat sekali kaum paranoid ini SANGAT TIDAK BERIMAN DENGAN AYAT-AYAT ALLAH atau setidaknya telah menunjukkan diri bahwa mereka adalah kaum yang lemah iman. Orang-orang yang ketakutan dengan ajaran orang lain sebenarnya tidak beragama, tidak bertuhan bahkan layak disebut pendusta ayat-ayat Tuhan.

Ya anggap saja Syi’ah sesat, lalu sejak kapan Allah menyuruh kalian takut hingga paranoid terhadap orang-orang sesat? Bukankah Allah berfirman “La yadhurrukum man dholla idzah tadaytum” ->> Tiadalah orang yang sesat itu akan memberikan mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk.

Sungguh lucu kelakuan orang-orang ini. Di satu sisi mereka begitu menggebu dalam agama, berteriak-teriak kembalilah pada Qur’an dan sunnah, berteriak sesat dan kafir kepada golongan lain seakan mereka adalah orang-orang yang paling benar dan lurus. Tapi di sisi lain mereka begitu paranoid berteriak “waspadalah!” atau “awas!” dengan aliran ini dan aliran itu, bikin aliansi anti-ini anti-itu seakan-akan mereka tidak percaya dengan janji Allah tersebut. Apakah orang yang mendapat petunjuk harus ketakutan terhadap orang-orang sesat?

Logikanya justru seharusnya orang-orang sesat itu yang ketakutan terhadap orang yang mendapat petunjuk bukan? Eh jangan-jangan justru mereka yang sesat?

Saya jadi teringat dengan sindiran Syaikh Ahmad Deedat ketika melihat masih ada saudara-saudaranya sesama Sunni yang bersikap over-lebay terhadap Syi’ah. Beliau berkata “Kita penganut Sunni adalah 90% dari jumlah muslim dunia, sedangkan Syi’ah itu hanya 10%. Mereka yang minoritas ini menyerukan persatuan dengan anda dengan berkata “La Syi’ah La Sunniyah Wahdah Islamiyah” tapi kalian yang mayoritas malah ketakutan. Mereka yang seharusnya ketakutan.”

Apa orang-orang yang demen teriak kafir dan sesat itu mengingkari janji Tuhan? Tentu! Karena Allah sudah bersumpah kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk dengan kalimat “La yadhurrukum” yang menandakan orang yang mendapat petunjuk tidak perlu takut dengan orang-orang sesat dan tidak perlu paranoid teriak sesat kesana-kemari dengan dalih “menjaga aqidah”. Allah telah menjamin sedikitpun yang sesat takkan mengancam dan membawa mudharat bagi orang-orang yang mendapat petunjuk, ya kecuali memang mereka tidak mendapat petunjuk.

Allah tidak pernah menyuruh hamba-Nya ketakutan terhadap kesesatan orang-orang yang sesat. Jangankan terhadap orang sesat, terhadap Iblis yang merupakan Raja dirajanya segala kesesatan pun Allah tidak pernah mengajari kita untuk takut.
Bahkan dalam Qur’an diabadikan peristiwa ketika Iblis “mengancam” Allah bahwa ia akan menyesatkan segenap manusia, Allah hanya menjawab “Inna ‘ibaadii laysa laka ‘alayhim sulthonun illaa manittaba’aka minal ghaawiin” ->> Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.

Hamba Tuhan yang mendapat petunjuk tidak pernah risau dengan kesesatan orang-orang yang sesat. Karena mereka percaya terhadap janji Tuhan “La yadhurrukum” dan “Laysa laka ‘alayhim sulthonun”. Yang pantas risau itu hanya orang-orang yang ragu dan ingkar.
Orang-orang ini sebenarnya menderita gangguan psikologis paranoia akut. Sebagaimana orang yang takut akan sakit sebenarnya sudah sakit, orang yang takut akan mati sebenarnya sudah mati sebelum mati, orang yang takut terhadap kesesatan orang lain sebenarnya sudah sesat sendiri tanpa disadarinya.

Orang-orang yang lemah keyakinan memang selalu takut dengan tiap pandangan yang berbeda dari apa yang diyakininya. Sebagaimana orang yang tinggal di gubuk bambu akan selalu ketakutan dengan hujan sehingga angin semilir pun cukup membuatnya paranoid.

Sementara orang yang tinggal dalam rumah beton dan pondasi kuat tidak pernah khawatir dengan hujan bahkan badai sekalipun.
Memang benar kalimat bijak yang berkata “Orang yang ketakutan terhadap keyakinan orang lain sebenarnya tidak yakin dengan apa yang sedang diyakininya.”

Tag: #Paranoid Terhadap Syiah 

Jumat, 29 Januari 2016



Oleh: Ahmed Zain Oul Mottaqin

Setelah peristiwa Terorisme ISIS di Sarinah kemarin, para radikalis anti-NKRI kembali beraksi. Dengan jargon yang sama yaitu "Menegakkan Khilafah" kali ini secara terang-terangan mereka menyebarkan brosur Tabligh Akbar di Bekasi untuk berbuat makar terhadap NKRI.
Baca juga : Mewaspadai Agenda KHILAFAH Wahabi yang Mengancam NKRIOleh: Denny Siregar Sejak 4 tahun lalu saya tidak lelah mengabarkan bahayanya wahabisme
 Sekedar informasi, nama orang-orang yang menjadi narasumber diatas adalah para radikalis afiliasi kelompok Teroris Al-Qaeda dari kelompok Jabhat Nushrah yang mengacau di Suriah.

Abu Jibril ini adalah seorang Takfiri akut yang pernah berkata siapa yang ikut Pancasila maka ia akan binasa.

Nama Abu Jibril juga pernah disebut-sebut dalam tragedi bom bunuh diri di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di Jakarta pada 2009. Salah satu anaknya, yaitu Muhammad Jibril Abdurrahman alias Ricky Ardan divonis lima tahun penjara karena terbukti melakukan pidana terorisme. (Republika.com : Muhammad Jibril Dihukum Penjara 5 Tahun)

Bahkan anak Abu Jibril yang bernama Ridwan Abdul Hayyie juga telah tewas di Idlib Suriah Timur pada Maret 2015 kemarin bertempur bersama Al-Qaeda.(Tribun.com : Anak Abu Jibril Yang Ikut Kelompok Al qaedah Mati Di tembak Di Suriah)

Kira-kira apa hukumnya jika seorang WNI ikut-ikutan gerakan separatis makar di negara sahabat seperti Suriah? Bukankah ini pencederaan terhadap hubungan Diplomatik Indonesia-Suriah?

Sementara si Abu Tholut itu adalah mantan Narapidana Terorisme. Ia adalah mantan ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah yang punya keahlian meracik bom. Ia bebas dari LP Kedungpane pada Oktober 2015 dengan pembebasan bersyarat.

Yuk, mari kita rakyat Indonesia "buat rame" acara ini. Dan kepada Yth. Pak Kapolri Badrodin Haiti ayo terjunkan Detasemen Khusus 88 untuk "menggembirakan" acara makar ini.Kata Muttaqin

Kedaulatan negara ini sedang diuji dari dalam. Negara-negara luar akan melihat, jika kita tidak mampu menjaga kedaulatan kita dari dalam lalu bagaimana kita menghadapi ancaman kedaulatan dari luar?

Sudah cukup kita kecolongan dengan acara-acara makar seperti Deklarasi ISIS di Bundaran HI pada Maret 2014 lalu. Masa yang sekarang juga?

Mari tebas segala bentuk gerakan makar terhadap negeri ini. NKRI adalah karunia Tuhan yang dianugerahkan kepada kita lewat perjuangan berdarah-darah kakek nenek kita. Apa akan kita biarkan negeri ini jatuh ke tangan para separatis ini. Katakan pada para teroris itu, "KAMI TIDAK TAKUT. NKRI HARGA MATI !"

Rabu, 27 Januari 2016




SEBARKAN PADA DUNIA KONFLIK SURIAH BUKAN KONFLIK SUNNI VS SYI'AH

Oleh: Ahmed Zain Oul Mottaqin 

Tidak usah banyak berargumen, gambar ini sudah cukup menggambarkan bahwa para ulama pendukung utama Bashar al Assad adalah para Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Suriah.

Bila para Takfiri mengatakan pada anda bahwa perang Suriah adalah perang Sunni vs Syi'ah dan Rezim Assad adalah rezim Syi'ah yang hendak menghabisi rakyatnya yang Sunni, suruh mereka pelototi gambar ini dan tanya pada mereka siapa para ulama yang shalat bersama Assad ini. 

Tampak bersama beliau para ulama besar Aswaja Suriah seperti Syaikh Dr. Taufiq Al-Buthi (Putra As-Syahid Syaikh Said Ramadan Al Buthi), Syaikh Ahmad Badruddin Hassun (Grand Mufti Suriah), Syaikh Dr. Muhammad Syarif Showaf (Rektor Universitas Ahmad Kuftaro), Syaikh Dr. Muhammad Abdul Sattar Al-Sayyid (Menteri Awqaf), Prof. Dr. Hosamuddin Farfur (Rektor Universitas Al-Fatih Al-Islami), Syaikh M Adnan al Fayouni (Mufti Damaskus) dan para ulama Aswaja lainnya.

Hal ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kaum Ahlussunnah wal Jama'ah memiliki posisi istimewa di mata Assad dan ini sudah cukup untuk membungkam fitnah kaum Takfiri. Bahkan di foto itu hanya ada satu ulama Syi'ah yaitu Sayyid Fadi Burhan (Guru besar Hauzah Damaskus) dan ia pun hanya berada di shaf kedua.

Tuduhan Syi'ah adalah siasat para Wahabi Takfiri untuk menjatuhkan Pemerintahan sah yang sangat loyal terhadap kaum Aswaja dan sangat menjunjung Kebhinekaan rakyatnya.

Masih percaya konflik Suriah adalah perang Sunni vs Syi'ah?



PESAN MODERAT

Oleh: Ahmed Zain Oul Mottaqin 

Presiden RI Jokowi adalah seorang muslim, para pendukungnya disini multi agama baik Muslim (Sunni-Syi'ah), Kristen, Budha, Hindu, Konghucu dll.

Pemimpin besar Iran Sayyid Ali Khamenei adalah seorang muslim, mayoritas mutlak para pendukungnya di Iran adalah mayoritas mutlak kaum Syi'ah, Kristen bahkan Sunni.

Sekjen Hizbullah Sayyid Hasan Nasrullah adalah seorang muslim, pendukung fanatik gerakannya di Lebanon tidak hanya kaum Syi'ah, tapi juga Kristen dan Sunni.

Presiden Suriah Bashar al Assad adalah seorang muslim, pendukungnya adalah mayoritas rakyat Suriah yang majemuk Sunni, Syi'ah, Kristen, Druze dll. (lihat hasil pemilu Suriah Juni 2014)

Tahukah anda kesamaan para pemimpin diatas ?

Mereka semua adalah sosok yang dibenci habis-habisan kaum radikal, takfiri dan intoleran. 

Dan percayalah, pemimpin manapun yang masih memegang asas moderat dan mengayomi pluralitas/kemajemukan bangsanya akan menjadi objek kebencian kaum ini.

Karena apa?

Pada dasarnya orang-orang radikal ini merasa membela Islam, tapi tidak sadar sedang membenci Islam dengan menghina para pemimpin muslim yang moderat dan mempraktekkan sebenar-benarnya Islam yang Rahmatan lil 'Alamin.

Justru waspadalah terhadap pemimpin muslim yang hanya mendapat dukungan dari golongannya sendiri dan dijauhi kaum non-muslim. Sudahkah ia mempraktekkan ajaran agamanya yang 'al Hanifiyyah as Samhah'?

Pemimpin muslim sejati bukanlah pemimpin eksklusif yang hanya mendapat dukungan dari golongannya sendiri, tapi ia juga harus mendapat dukungan dari rakyatnya yang multi-agama, baik itu muslim maupun non-muslim. 

Maka sekali lagi waspadalah terhadap pemimpin muslim yang hanya mendapat dukungan dari golongan, ormas atau partainya sendiri. Itu artinya kaum non-muslim tidak merasakan hangatnya Islam yang ia bawa.

Dan siapapun yang menganggap bahwa Islam hanya membawa Rahmat kepada Muslim, maka sungguh ia tidak memahami agama yang dibawa Muhammad sang Nabi cinta.

Jumat, 22 Januari 2016

Tulisan menarik sebagai bahan renungan agar kita tidak menjadi Tuhan dengan merasa berhak untuk menghakimi keyakinan orang lain sebagai kafir, sesat dan halal darahnya untuk ditumpahkan, selamat merenung..


Oleh : Ahmed Zain Oul Mottaqin

Kalau anda bilang Islam, maka anda salah. Kalau anda bilang Kristen, anda juga salah. Kalau anda bilang Hindu, Budha atau Konghucu pun semua salah. Jadi yang mana yang benar ?

Kalau anda bilang agama yang diterima di sisi Tuhan adalah Islam, maka saya sebagai Muslim setuju. Kalau yang Nasrani bilang agama yang diterima di sisi Tuhan adalah Nasrani, ya sah-sah saja menurut pemahaman mereka. Agama yang diterima di sisi Tuhan jawabannya akan tergantung kepada siapa anda bertanya.

Tapi agama Tuhan sendiri itu apa?

Saya tidak akan menyebut agama disini sebagaimana agama yang anda anut. Tapi akan saya beri tambahan tanda petik "agama" untuk membedakan dengan agama dalam perspektif makhluq.

Jelas "agama" Tuhan adalah agama yang Dia tetapkan untuk menjadi "agama-Nya", sebagaimana Dia telah menetapkan sifat Maha Pengasih dan Penyayang untuk diri-Nya sendiri. Dia tetapkan sifat-sifat itu untuk diri-Nya padahal Dia Maha Mampu untuk menetapkan sifat yang lain. Tak ada yang menyuruh, tidak ada yang menyarankan, tidak ada konsekuensi dan pembalasan yang akan Dia terima akibat perbuatan-Nya. Konsekuensi dan pembalasan hanya berlaku untuk makhluq, bahkan kata "akan" dan "akibat" pun tidak cocok diterapkan pada-Nya, karena Dia tak terikat pada ruang dan waktu serta sebab dan akibat.

Agama adalah keterikatan, sedangkan Dia tak terikat. Bagaimana mungkin ada yang "mengikat" Dia, sedangkan segala sesuatu justru terikat pada-Nya. Hanya Dia yang ada sebelum yang ada itu ada. Karena Dia, maka yang tidak ada itu menjadi ada.

Ya, Tuhan bukan pemeluk Islam, bukan pemeluk Kristen, bukan pemeluk Hindu atau Budha, apalagi pemeluk Sunni atau Syi'ah. Tuhan itu Atheis. Jika kau sangka Tuhan itu menganut Theis-theis seperti dirimu apalagi pengikut ashobiyyah (fanatisme kelompok) seperti dirimu, maka kau sudah merendahkan-Nya dan menyamakannya dengan makhluq. Sedangkan Dia adalah Khaliq (yang menciptakan) bukan Makhluq (yang diciptakan).

Demikian "coretan" singkat saya malam ini. Yang setuju silakan, yang ga setuju silakan asal jangan ngamuk-ngamuk di status saya. Yang penting anda paham maksud tulisan saya yang ada di paragraph terakhir. Good nite.

Selasa, 12 Januari 2016



Agnes Monica dengan kostum seksi bertuliskan huruf arab

FENOMENA AWAM RELIJIUS DI NEGERIKU

Oleh: Ahmed Zain Oul Mottaqin 

1. Kemarin saya melihat postingan seorang muslimah di fb yang mengupload foto seorang wanita berjilbab mengenakan kalung salib. Setelah dia tanya ternyata wanita tersebut seorang Nasrani. Lalu si muslimah pengupload tersebut menyebutnya sebagai "penistaan terhadap islam."

2. Dulu juga ramai bersliweran di media sosial postingan beberapa wanita dan anak-anak Nasrani Orthodoks yang sedang beribadah mengenakan jilbab/kerudung, lalu mereka tulis "Berhati-hatilah telah muncul agama baru yang meniru-niru islam"

3. Bahkan yang terbaru kemarin, hanya karena Agnes mo [Agnes Monica-red] memakai kostum panggung seksi dengan tulisan arab المتّحدة lalu sebagian muslim heboh menyebutnya sebagai penistaan terhadap islam, padahal tulisan tersebut hanya bermakna persatuan.

Sebegitu 'mengerikan'-nya kah potret kejumudan umat islam di negeri ini?

Saya sebagai muslim justru merasa sangat aneh jika melihat simbol-simbol seperti jilbab dan huruf arab diidentikkan hanya dengan agama islam saja.

Pada zaman jahiliyah sebelum Rasulullah lahir, bahasa arab itu adalah bahasa sehari-hari bangsa jahiliyah tersebut bahkan mereka menjadikan syair-syair arab sebagai ukuran intelektualitas.

Kaum Kristiani di Mesir, Suriah, Palestina, Iraq setiap hari menyanyikan lagu rohani mereka memuji Yesus dan Bunda Maria pun dengan berbahasa arab.

Bahkan jauh sebelum datangnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, para wanita Nasrani Orthodoks sudah mengenakan kain penutup rambut setiap beribadah. Bahkan para biarawati pun mengenakannya sehari-hari. Lalu apa itu penistaan terhadap islam? Hellooow..

Banyak saudara kita disini yang cakrawala beragamanya masih sangat sempit. Mereka tidak sadar bahwa apa yang dijalani agamamu belum tentu milik agamamu sendiri. Simbol-simbol agama yang kau sebut syar'i itu juga merupakan simbol-simbol agama samawi lainnya.

Inilah fenomena awam religius di negeri kita. Dan sayangnya jumlah mereka sangat banyak di negeri ini. Kaum relijius dangkal dan sempit yang memahami agama hanya dari kulit dan simbol-simbol.

Dan orang-orang seperti inilah sasaran potensial cuci otak intoleransi dan takfirisme. Kaum ini akan 'terhipnotis' begitu melihat para ustadz bersorban, bergamis dan berjenggot lalu mengikutinya tanpa kritis. 

Mendengar ustadz-ustadz yang pandai mengutip teks agama dan sepenggal kalimat berbahasa Arab, awam relijius ini akan tunduk rebah menelan semua ujaran kebenciannya. Apalagi mendengar buaian surga dan janji 72 bidadari, para awam relijius ini pun akan rela mati menjemput 'jihad' dimanapun mereka diarahkan untuk 'berjihad'.

Proses pencarian agama mereka terhenti di ranah kulit. Dan tidak aneh orang-orang ini sangat menggandrungi para selebritis mendadak ustadz dan para muallaf mendadak ustadz (ahh you know lah siapa).

Dalam kitab Al Wala' wal Bara' disampaikan sebuah kalimat singkat, "Waspadalah terhadap para ahli ibadah yang bodoh", mereka sungguh bersemangat dalam ghiroh agama namun sayangnya karena tanpa dibekali kecerdasan dan daya kritis mereka justru menjadi duri dalam islam yang hakikatnya ajaran yang 'hanifiyyatus samhah' >> semangat mencari kebenaran dengan lapang dada & toleran tanpa fanatisme sempit.

Entah apa yang ada dalam mindset islam para manusia simbol ini. Di satu sisi, mereka merasa dihinakan jika simbol-simbol agama mereka dipakai umat agama lain seraya mereka sebut itu "penistaan". Tapi anehnya mereka tidak pernah marah jika simbol agama mereka seperti kalimat Tauhid dipakai untuk berbuat terorisme seperti yang dilakukan ISIS (padahal itu jelas-jelas merupakan simbol eksklusif islam).

Mereka tidak marah teriakan Takbir digunakan untuk mengebom masjid dan warga sipil. Mereka juga tidak marah simbol-simbol eksklusif islam tersebut digunakan para teroris untuk menyembelih tawanan hidup-hidup seraya dengan bangga menenteng kepala korbannya sembari pamer telunjuk ke atas lambang bertauhid.

Dan tidak aneh, golongan muslim jumud seperti ini biasanya yang paling doyan dengan berita dari media-media 'sumbu pendek' berbau 'religius' macam arrahmah dot com, fimadani, islampos, eramuslim, jonru, pkspiyungan dan sejenisnya yang doyan mencitrakan agama ini secara sempit dan intoleran.

Note: Mungkin foto dibawah ini bisa buat perbandingan siapa sesungguhnya yang melecehkan islam: Saudi Melecehkan Islam atau Agnesmo ? 





Tag:#berjihad, #sumbu pendek, #Muslim jumud, #selebritis, #Ustad Mualaf, #Nasrani Ortodoks, #Agnesmo, #Agnes Monica, #72 bidadari, #Fenomena, #Awam Relijius, #kostum panggung seksi,#Saudi Melecehkan Islam

Minggu, 10 Januari 2016





Oleh : Ahmed Zain Oul Mottaqin 

FALLACY AKUT FANS REZIM SAUDI

Gw [saya] copaskan dialog "ringan tapi barokah" gw 2 jam yang lalu di inbox: (dengan sedikit perbaikan ejaan)

-SENSOR-: 
Hei kafir, kalo lu benci Saudi ga usah sholat ngadep ka'bah ga usah haji ke mekkah. Semua itu punya Saudi. Lu solat aja ngadep karbala. Allah sudah menentukan makkah, madinah, masjidil haram ada di Saudi, umat islam wajib mencintainya.[Fitna Wahabi ini yang sering dituduhkan kepada syiah-red] 

Saya: 
Ok karena ini hari libur, maka anda sedang beruntung karena saya punya waktu lowong untuk menjawab:

1. Mekkah apalagi Ka'bah itu bukan punya Rezim Saudi, tapi MILIK ALLAH yang ditujukan untuk ibadah umat manusia sedunia. "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul (untuk beribadah) bagi umat manusia" (Al Baqoroh: 125) >> Ini untuk ibadah seluruh manusia, apa hubungannya dengan Rezim Saud?

2. Menyebut dua tempat suci itu milik Rezim Saudi adalah SYIRIK AKBAR. Kalau dulu kaum musyrikin Mekkah memelihara patung-patung berhala di dalam Ka'bah, anda hari ini malah menciptakan "berhala" baru bernama Rezim Saud yang anda anggap sebagai pemilik Baitullah. Camkan, "Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu" (Qs Al Hajj: 26)

3. Kalau anda bilang Ka'bah dan Mekkah itu punya Saudi. Lalu sebelum Rezim bughot Saudi itu berdiri di abad 20, Ka'bah dan Mekkah itu punya siapa? Numpang ya? 

4. Ada atau tidaknya Rezim Saudi itu tidak penting. Ribuan tahun sebelum Rezim itu berdiri, kiblat umat manusia sudah Ka'bah dan akan tetap Ka'bah. Lalu apa urusannya dengan Rezim Saud?

5. Saya tanggapi komen anda, kita wajib cinta Saudi karena tempat suci umat Islam Masjidil Haram ada disana.

Helloww.. Fallacy logika macam apa ini? Sejak kapan kemuliaan sebuah tempat suci diukur dari pemerintahan yang menguasainya? Lihat sana! Tempat suci kita Baitul Maqdis/Masjid Al-Aqsha di Jerusalem sekarang dikuasai Rezim Zionis Israel. Lalu apa wajib bagi kita mencintai Zionis Israel?

6. Pertanyaan bonus bagi anda. Siapa yang menyuruh Rezim idola kalian itu seenaknya mengubah nama negeri nabi (tanah Hijaz) dengan nama fam/marga keluarganya sendiri (Bani Su'ud) ? Apa negeri itu hanya milik keluarga Sa'ud? 

Nabi yang mulia saja tidak pernah mengubah nama tanah tersebut dengan nama keluarganya sendiri (Bani Hasyim). Siapa yang menyuruh mereka mendirikan Rezim Kerajaan Monarki di tanah Nabi? Apa Rezim ini yang kalian puja-puja?

Dan dialog pun tak berlanjut. Mungkin dia lagi bobo ciang (mari berkhusnu'dhon)

Tag: #fallacy logika, #rezim monarki, #masjidil haram, #baitul maqdis, #bani su'ud, #Masjid al-aqsa, #zionis israel, #ka'bah, #bani Hasyim 

Kamis, 07 Januari 2016

Oleh : Ahmed Zain Oul Mottaqin 

IRAN: "LU JUAL GUA BELI !!"

Kabarnya Saudi, Bahrain, Sudan dan Djibouti resmi memutus hubungan diplomatik dengan Iran.

Apa Iran pusing?


Iran itu sudah hampir 4 dekade diembargo segala sisi baik militer, diplomatik, ekonomi, perdagangan oleh negara-negara barat pasca revolusi Islam 1979, lalu apa hari ini ia mati? Apa ia melemah? Apa ia jatuh miskin?

Tidak! Jika bukan karena embargo itu, Iran tidak akan punya misil-misil balistik semacam Sejjil, Shahab dan Ghadr. Jika bukan karena embargo tersebut, Iran tidak akan punya satelit yang ia kirim sendiri ke luar angkasa. Jika bukan karena embargo, Iran tidak akan punya ilmuwan-ilmuwan cerdas yang mandiri dalam tekhnologi nuklir. Jika bukan karena embargo tersebut, mungkin Iran hari ini hanya akan jadi bangsa manja dan pembebek kepentingan asing. Iran itu bukti nyata negara tangguh hasil kuatnya konsep "The Power of Kepepet".

Lalu empat negara ini coba mengucilkan Iran? Mungkin pemimpin Iran dan rakyatnya hanya akan terpingkal-pingkal. Memangnya apa yang sudah 4 negara itu sumbangsihkan bagi kemajuan Iran? Ke-empat negara tersebut hanyalah para 'anak mama' yang mayoritas bergantung habis-habisan terhadap USA terutama dalam persenjataan militer.

Lalu apa hari ini para 'anak mama' tersebut berlagak ingin mengucilkan sebuah bangsa yang puluhan tahun terbukti kokoh dan mandiri melewati cobaan bertubi-tubi?

Lelucon telah terjadi. Dan hanya orang-orang waras yang menyadari bahwa itu lelucon. Ironisnya para pelakunya tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya hanyalah lelucon.

Iran pernah lapar, lalu ia membuat makanannya sendiri. Iran pernah hanya bersenjatakan senapan jadul, lalu ia membuat senjata bahkan misil-misil balistiknya sendiri. Iran pernah disepelekan, lalu kini ia malah berubah menjadi salah satu kekuatan paling diperhitungkan di Timur Tengah.

Apakah ke-empat negara tersebut tidak belajar dari sejarah bahwa pengucilan dan pemutusan hubungan diplomatik dengan Iran hanya justru akan membuat Iran menjadi lebih kuat dan mandiri.

Malah bisa jadi memang ini yang diinginkan Iran. Dengan ini Iran tidak perlu sungkan lagi mengambil sikap tegas di Yaman, tidak perlu ragu untuk memberi sumbangsih lebih nyata bagi perlawanan rakyat di Qatif Saudi. Sudah momen yang tepat bagi Iran untuk berteriak lantang di hadapan Saudi dkk,"Lu jual gua beli !".

Iran punya pemimpin kharismatik yang telah melewati pengalaman embargo berpuluh tahun. Iran punya pemimpin kharismatik yang jangankan hanya untuk berlapar ria, untuk mati pun puluhan juta rakyatnya rela pasang badan demi bangsa dan pemimpin besarnya.

Lalu siapa ke-empat negara tersebut? Prestasi apa yang sudah mereka hasilkan bagi bangsanya sendiri? 

Satu hal yang membuat saya tertawa adalah ketika membaca berita dari CNN kemarin, dimana rakyat Iran justru menjadikan aksi ke-empat negara tersebut sebagai bahan lelucon.

Contohnya Djibouti, dalam harian Telegram di Iran, seorang warga Iran berkata, "Satu hal bagus dibalik putusnya hubungan diplomatik ini adalah setidaknya kami jadi belajar geografi. Setidaknya kami tahu ada sebuah negara di dunia yang bernama Djibouti dan dimana lokasinya."

Sebuah bukti bahwa bangsa Iran bukan hanya kuat dan mandiri, tapi mereka juga punya selera humor yang tinggi. Jangankan untuk merasa takut, mereka bahkan menjadikan peristiwa ini sebagai bahan guyonan.

Seekor singa takkan pernah kehilangan tidur nyenyak hanya karena tingkah para domba.

Tag: #Embargo Iran, #Diplomatik Iran, #Embargo ekonomi, #Hubungan Diplomatik 

Rabu, 06 Januari 2016

Oleh : Ahmed Zain Oul Mottaqin 
Satu hal yang sangat saya apresiasi dari kawan-kawan Syi'ah di dunia maya ini adalah dalam menanggapi eksekusi Syaikh Nimr dan keluarganya oleh Rezim Saudi, mereka tidak pernah berteriak "Rezim Sunni telah membantai kaum Syi'ah".
Sungguh kontras dengan para Takfiri yang tiap mendengar kabar Rezim Iran menghukum gantung kaum Sunni (walaupun selalu bermodal berita Hoax) langsung berteriak "Rezim kafir Syi'ah telah membantai kaum Sunni".


Dalam hal ini kawan-kawan Syi'ah terlihat bersikap lebih dewasa. Walaupun dalam hal ini Rezim Saudi memang Sunni tapi mereka tidak terpancing dengan slogan-slogan perpecahan sektarian di antara umat Islam, karena mereka tahu Rezim Saudi yang membunuh Syaikh Nimr tidak layak menjadi representasi dunia Sunni.

Sebagai contoh, semasa Rezim Saddam Husein yang Sunni berkuasa, sudah jutaan kaum Syi'ah yang dibantai Rezim. Pernahkah sekali saja anda mendengar ada ulama besar Syi'ah disana yang berteriak "Rezim Sunni membantai kaum Syi'ah"? Tidak! Karena mereka melihat seorang Saddam tidak layak menjadi representasi wajah Sunni dan Sunni pun tidak mengajarkan hal seperti itu. Dan hanya orang-orang pilihan Tuhan yang diberi karunia mampu bersikap adil terhadap kaum yang mereka benci.

Mereka secara adil melihat nama besar mazhab Ahlussunnah tidak berhak diwakili para Kriminal ataupun para ekstrimisnya yang takfiri, tapi lebih layak diwakili oleh kalangan pengikutnya yang moderat seperti Aswaja NU (bukan NU Garis Lurus) yang toleran dan ramah (takfiri sering menyebut mereka sebagai liberal).

Dalam hal ini selayaknya saudara-saudara Sunni juga belajar untuk tidak menggeneralisir Syi'ah melalui kelakuan para ekstrimisnya yang ghulat, seperti Yassir al Habib dan Syaikh M Tawhidi yang di Iran sekalipun ceramah-ceramah mereka dicekal lantaran terlampau ekstrim dan seringkali menyerang simbol-simbol yang dihormati kaum Ahlusunnah (bahkan para ulama besar Syi'ah sendiri seperti Sayyid Ali Khamenei dan Sayyid Hasan Nasrullah pun tidak lepas dari serangan mereka).

Sayangnya oleh para Takfiri di kalangan Sunni, video-video pelaknatan, pencacian para sahabat dan istri Nabi serta aksi Tathbir (menyiksa diri hingga berdarah-darah di hari Asyura) yang biasa dilakukan para Syi'ah ekstrim tersebut di-blow up dan disebarkan secara masif ke segala penjuru sembari mereka katakan "Inilah Syi'ah". Padahal dua Marja' terbesar Syi'ah abad ini yang memiliki puluhan juta muqallid seperti Sayyid Ali Khamenei (Iran) dan Sayyid Ali Sistani (Iraq) sudah mengharamkan hal tersebut.

Satu hal yang harus diikuti yaitu fatwa Habib Ali al Jufri dimana beliau pernah berkata, "Jangan katakan seorang Sunni membunuh Syi'ah, jangan juga katakan seorang Syi'ah membunuh Sunni. Tapi katakan seorang Kriminal membunuh seorang manusia".

Beliau ini adalah seorang ulama besar Sunni moderat yang juga pernah berfatwa, "Musuh kalian yang sebenarnya adalah mereka yang berusaha meyakinkan bahwa kalian Sunni dan Syi'ah saling bermusuhan."

Dan dengan fatwa tersebut saya sangat paham siapakah yang dimaksud Habib Ali al Jufri sebagai "musuh kalian yang sebenarnya" tersebut, walaupun beliau tidak secara eksplisit menyebut nama suatu golongan.

Ada baiknya mulai sekarang kita belajar untuk tidak menggeneralisir sesuatu. Kelakuan ISIS yang (mengaku) Sunni tidak berhak mewakili Sunni dan menjadi gambaran wajah Sunni di mata muslim Syi'ah.

Begitu juga kaum Syi'ah ekstrim yang doyan berteriak melaknat simbol-simbol yang diagungkan kaum Sunni juga tidak layak menjadi representasi Syi'ah di mata kaum Sunni. Mereka hanya minoritas di mazhab masing-masing. Bisa disebut sebagai oknum yang gemar berpecah belah.

Bukankah anda tidak rela jika agama anda di-cap buruk sebagai teroris lantaran kelakuan ISIS dan Al-Qaeda? Lalu mengapa anda tidak mau bersikap adil dengan menerapkannya kepada agama atau mazhab orang lain?

Dalam Qur'an sendiri, dalam menyikapi orang-orang yang berbeda agama Allah telah memperkenalkan konsep 'kalimatun sawa'' yaitu 'the meeting point' atau poin pertemuan/kesamaan antara kita (muslim) dan mereka (non-muslim) demi pengembangan dialog dan paradigma dialog antar agama.

Lalu pertanyaannya, jika terhadap orang-orang yang berbeda agama saja Tuhan memperkenalkan konsep 'kalimatun sawa', lalu kenapa kita tidak menerapkannya terhadap saudara-saudara seagama yang sekedar berbeda mazhab?

Jika terhadap non-muslim konsep itu berlaku, kenapa terhadap sesama muslim tidak? Selama ini para takfiri justru sibuk mencari dan membesar-besarkan poin perpecah-belahan terhadap orang-orang yang berbeda mazhab darinya (apalagi yang berbeda agama).

Dialog-dialog antar mazhab Sunni-Syi'ah sudah sering dilakukan, baik di Universitas Al-Azhar Mesir dan di Konferensi-konferensi Islam di Iran, dan tak ada satupun yang berujung pada pengkafiran melainkan justru menghasilkan pendekatan (Taqrib) antar mazhab.

Bahkan dalam konferensi para ulama dunia di Amman Yordania sudah menghasilkan Deklarasi Amman yang menghasilkan point-point bahwa Ahlusunnah 4 Mazhab dan Syi'ah Imamiyah, Ismailiyah dan Zaidiyyah adalah saudara sesama muslim yang tidak halal untuk saling mengkafirkan apalagi menumpahkan darah satu sama lain.

Deklarasi ini sendiri sudah ditandatangani para ulama besar dunia seperti Habib Umar bin Hafidz, Habib Ali al Jufri, KH. Hasyim Muzadi, Sayyid Ali Khamenei, Sayyid Ali Sistani, Ayatullah Ali Tashkiri, Syaikh Yusuf Qorodhowi dan ratusan ulama besar Sunni-Syi'ah lainnya dari seluruh dunia.

Sayangnya masih banyak muslim awam kurang piknik di negeri ini yang tidak mengetahui hal ini. Bagaimana mungkin mereka tahu sedangkan media-media yang menguasai segala informasi tentang "Islam" di dunia maya justru dikuasai situs-situs Takfiri seperti Arrahmah dot com, voa-islam, eramuslim, panjimas, fimadani, nahimunkar, pkspiyungan dll yang mencuci otak kaum muslim awam untuk bersikap fanatik, takfiri dan intoleran.

Perlu diakui, kaum moderat di negeri ini kurang gerak dan kurang terorganisir sehingga suara mereka yang menyuarakan konsep Tuhan 'kalimatun sawa' dan toleransi itu justru kalah keras dan kalah populer.

Para penganut toleransi lebih banyak yang diam dalam melihat aksi-aksi takfirisme. Sehingga bisa dibilang toleransi orang-orang yang diam ini sudah sampai tahap 'kebablasan', dimana aksi diam mereka justru menunjukan bahwa mereka juga 'toleran' terhadap takfirisme.
Saya jadi teringat dengan sebuah pepatah (saya lupa asalnya dari mana) "Assakitu 'anil haqqi syaithonun akhros" >> Orang yang diam dari (menyuarakan) kebenaran adalah Setan yang bisu.

Mungkin sebaiknya para aktivis Anti-Takfirisme di negeri ini bersuara lebih lantang dalam menyuarakan sikapnya, mengorganisir gerakannya dan lebih keras dalam menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap kaum intoleran. Karena pesan Sayyidina Ali Kw sangat jelas, "Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir."
Hari ini tidak perlu takut mendapat julukan Liberal, Syi'ah, Kafir bla..bla..bla, karena menurut saya jika anda belum dijuluki begitu maka anda belum kaffah sebagai muslim moderat.

Tag: #islam moderat, #takfiri, #Sunni Syiah, #NUGL, #NU 

Terbaru

Seri Kekejaman ISIS

Video

Mengenang Kembali Bom Teroris Wahabi Saat Peringatan Maulid Nabi


VIDEO Terbaru

Random Post

↑ pks