Tampilkan postingan dengan label Suriah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suriah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2016

Beberapa anggota teroris FSA yang akan Selfi menggunakan HP yang juga difungsikan sebagai detonator


Sebuah ledakkan dahsyat menimpa beberapa anggota teroris Suriah dari faksi pemberontak FSA (Tentara Pembebasan Suriah) ketika sedang ingin mengambil foto selfie sesama Anggota. Salah satu anggota yang mengambil foto selfie itu ternyata tidak menyadari bahwa smartphone yang digunakannya untuk foto adalah sebuah detonator pemicu bom yang akan di gunakan untuk meledakkan mobil.

Akibat selfie menggunakan ponsel yang digunakan untuk detonantor bom, akhirnya sebuah ledakan terjadi. Rekaman video berikut ini menunjukkan detik-detik sebelum terjadinya sebuah ledakan.

Sebuah video Anggota teroris FSA  Meledak Akibat Selfie yang berdurasi sekitar 29 detik ini menunjukkan bagaimana detik-detik sebelum terjadinya ledakan. Awalnya anggota tersebut mengangkat telepon genggam untuk melakukan selfie. Tidak lama kemudian, terjadi sebuah ledakan keras di sekitar area tersebut.

Hingga saat ini, belum diketahui berapa korban tewas atau luka-luka akibat insiden tersebut. Bagi yang ingin melihat bagaimana ledakan keras ini terjadi. Berikut adalah videonya:

Sabtu, 17 September 2016

"Spetznaz" Pasukan khusus Rusia yang dikirim ke Suriah untuk hancurkan ISIS


Inilah dia "Spetznaz" _ Pasukan Hantu yang sangat melegenda!

Dikatakan sebagai Divisi Pasukan Khusus yang sangat mumpuni dengan kemampuan serba bisa di setiap medan dan cuaca yang ekstrem sekalipun!

Mereka ada di sana untuk satu alasan, menghabisi semua ancaman terhadap kedaulatan Suriah. Dengan cara apapun. Dan dengan misi itu mereka akan memastikan posisi Rusia di Timur Tengah,” tambah sang sumber yang menjelaskan juga kalau presidennya mengklaim misi mereka adalah pembantaian ISIS namun pesawat tempurnya juga membantu Assad menghabisi para pemberontak yang ingin menggulingkan pemerintahan yang sah di Suriah.

Di sebut pasukan hantu dikarena segala sesuatu dari awal perekrutan hingga pelatihan -pelatihan khusus untuk pasukan ini benar benar sangat rahasia dan jauh dari publikasi apapun...
Pergerakan mereka begitu senyap nan mematikan, pasukan andalannya "Sang Beruang Merah" ini dikenal sangat loyal, berdedikasi dan sangat efektif dalam misi-misi tertentu.

Dengan memiliki warisan dan tradisi pengalaman perang sejak PD pertama & PD II, tak ayal lagi jikalau banyak lawan sangat gentar dengan pasukan ini!

Apakah ini merupakan tanda "Merah" dalam konflik yang belum berkesudahan di Syria sana?!?

Karena jika Russia telah mengirimkan pasukan ini ke suatu wilayah, berarti ada sesuatu yang sangat penting yang dipertaruhkan di wilayah tersebut!

Sumber: ArRahmaNews

Sabtu, 20 Agustus 2016


Oleh: Denny Siregar

Beredar viral foto seorang anak kecil dengan tubuh berdarah akibat rumahnya hancur dibom dan duduk diam di kursi oranye.

Foto itu diklaim sebagai korban pengeboman pasukan Bashar Assad Suriah. Dengan mudahnya gambar dan video itu beredar dimana2 dengan tujuan akhir mengutuk kekejaman Bashar Assad. 

Perang propaganda untuk membentuk stigma kekejaman Bashar semakin kencang. Salah satunya dilakukan oleh organisasi hak asasi manusia yang diberi nama White Helmets atau Helm Putih.

White Helmets ini selalu ada saat kejadian sebagai yang paling cepat. Bahkan ketika terjadi pemenggalan oleh ISIS kepada warga Suriah setempat, mereka sudah ada disana dan bertindak sebagai tim rescue dengan membungkus jasad. 

Mereka tampak sebagai pahlawan hak asasi manusia. Tapi sebenarnya mereka adalah teroris berbaju LSM. Tugas mereka adalah melakukan propaganda untuk membangun stigma, menanamkan kebencian setahap demi setahap dan akhirnya akan menghembuskan isu sektarian.

WH didirikan pada Maret 2013 di Turki dan dipimpin oleh James Le Mesurier, mantan agen intel Inggris dengan rekam jejak di berbagai kawasan konflik (Bosnia, Kosovo, Irak, Lebanon, Palestina). Dana awal pendirian WH adalah 300 ribu dollar dan selanjutnya menerima donasi jutaan dollar (suplai logistik disediakan oleh Turki).

Telegraph menyebut Inggris telah menggelontorkan 3,5 juta pound. USAID memberi 16 juta dollar. Mesurier juga pernah menjadi staf di perusahaan keamanan swasta ( preman ) yg beroperasi di Irak, Olive and Good Harbour, yang terlink dengan BlackWater.


Model propaganda seperti ini, LSM berbaju HAM dengan rasa teroris, ciri khas perang media untuk membunuh karakter lawan yang ingin mereka kuasai. Mereka sudah menghajar Libya, menguasai Irak dan sekarang bermain di Suriah.

Perhatikan saja cara media internasional seperti BBC, CNN dan lainnya seirama dengan model pemberitaan media radikalis dalam menentukan siapa musuh. Jaringan mereka kuat, berdana besar dan terprogram. Bahkan rencananya, White Helmets akan diberikan hadiah Nobel Perdamaian untuk menguatkan posisi mereka di mata dunia internasional.

Kenapa saya harus mengangkat ini ? Karena beginilah yang sedang dan akan mereka lakukan di Indonesia.

Ingat kasus Freddy Budiman yang tiba2 menjadi malaikat, Santoso yang mendadak menjadi pahlawan dan pembakaran Vihara di Tanjung Balai ?

Model pemberitaan propaganda yang ujung2nya mengangkat isu sektarian dan menjatuhkan kewibawaan aparat juga pemerintah ini adalah pola yang mudah dikenal sebagai lapisan awal untuk membentuk benturan. Diangkat dulu kebanggaan agama sebagai mayoritas, dimunculkanlah tokoh sebagai pahlawan dan berujung pada benturan2 konflik sesuai peta di masing2 wilayah.

Ketika itu terjadi, akan datang LSM2 yang mengatas-namakan HAM dengan tujuan meningkatkan kebencian kepada pemerintah melalui propaganda mereka di media, baik mainstream maupun sosial. 

Jadi, kenali pola mereka, modus mereka dan jangan terpancing oleh aksi mereka dalam menguras emosi melalui media. Hilangkan sekat2 dan kebanggaan suku, ras juga agama sehingga tidak mudah mereka membenturkan kita. Dan terakhir, lawan propaganda mereka dengan propaganda juga. 

Secangkir kopi untuk semua pahlawan media yang terus membongkar aksi busuk mereka dengan keberanian dan keuletan tanpa mengenal lelah.

Disinilah jihad kita... 

Tambahan Redaksi: 
Untuk melihat bagaimana White Helmet Berganti Baju dari TERORIS ke Organisasi HAM dan Kemanusiaan silahkan lihat VIDEO berikut ini.. 




Oleh: Dina Y Sulaiman

Perhatikan bagaimana media arus utama seluruh dunia hampir serempak menjadikan bocah di kursi oranye sebagai headline dan 'simbol korban Assad'. Lalu disusul dengan narasi: "kita harus segera menerapkan 'no-fly-zone' di Suriah". Track record penetapan NFZ selama ini oleh PBB/NATO justru membuat rakyat sipil semakin menderita. Kapan2 saya bahas apa itu no-fly-zone, tapi terimakasih kalau ada yang bersedia bantu jelasin di komen.

Kali ini saya cuma ingin mengajak kita bertanya, mengapa bocah Palestina yang disembelih pelan-pelan, lalu kepalanya diangkat dengan wajah puas oleh Nurudin Zanki tidak dijadikan headline oleh semua koran itu? Fotografer si bocah di kursi oranye (Mahmoud Rslan) didapati berteman dan berpose bersama monster Nurudin Zanki ini. Saya tidak tega posting fotonya di sini. Yang kuat, bisa buka link yang saya taruh di komen.

NB: Nurudin Zanki bukan ISIS, tapi kelompok jihadis yang oleh media Barat disebut "moderate rebels" (pemberontak moderat). Sekali lagi, jangan tertipu nama dan klaim "ini jihadis beneran, itu ISIS". Mereka sama saja, dilihat dari ideologi dasar (Wahabi:red) dan metode sembelih2annya.

Oleh: Dina Y Sulaiman

Baca timeline pagi-pagi, banyak yang share foto bocah Suriah yang disebut sebagai korban bom. Berita ini disebarluaskan media Barat (dan diberitakan ulang berbagai media Indonesia).

Sekedar memberikan berita pembanding, silahkan baca analisis di sini

Beberapa poin yang saya ambil dari artikel tsb:

1. Di artikel ini ada analisis foto dan video, serta pembandingan dengan foto seorang anak yang ‘asli’ korban bom tapi tidak diberitakan luas.

2. Jurnalis yang disebut mengambil foto si bocah (Omran Daqneesh) bernama “Mahmoud Raslan”, tapi jika di-google, tidak ada rekam jejak karyanya yang lain.

3. Beberapa keanehan: si bocah terlihat dibawa ke dalam ambulan yang baru (in a brand new, very well equipped ambulance). Ada sekitar 15 pria berdiri di tempat itu dan tidak melakukan apapun (perhatikan: mrk katanya berada di lokasi yang “baru saja dibom”, tidak takut ada bom susulan?). Minimalnya ada 2 laki-laki disamping si videografer yang mengambil foto/video.

4. Di video diperlihatkan bahwa relawan yang menolong adalah White Helmets yang baru-baru ini mengajukan diri untuk menjadi pemenang Nobel Perdamaian 2016 (baca tulisan saya sebelumnya ttg siapa funding WH dan bahwa personel WH tak lain dari “jihadis” Al Qaida/Al Nusra yang berganti baju).

Video Omran Daqneesh dan bagaimana cara media mainstream memberitakannya, bisa lihat di sini.

List dan link  video-video While Helmets lainnya (dengan “skenario” yang mirip) bisa dilihat di sini.

Seiring dengan waktu, tak lama kemudian terungkap siapa Mahmud Raslan. Dia ternyata jihadis, pernah berpose dengan Nurudin Zanki (jihadis yang menyembelih bocah Palestina, yang sempat membuat heboh beberapa waktu yang lalu).

Berikut kompilasi foto yang diposting di FB oleh Dr. Tim Anderson (akademisi asal Australia):



Video-video berisi informasi lainnya mengenai Mahmoud Raslan bisa dibaca di facebook jurnalis 21st Century Wire Vanessa Beeley (dia pernah meliput langsung ke Suriah) khususnya di thread ini

Apakah Media Mainstream Selalu Benar/Selalu Salah?

Seorang komentator FB yang setau saya tingkat pendidikannya cukup tinggi, menyanggah status saya sebelumnya ttg White Helmets dan Bocah di Kursi Oranye dengan hujatan ‘delusional’ plus argumen kurang-lebih “semua media besar sudah memberitakan, kok menganggap kejadian si bocah itu palsu?” [sambil nyindir pulak: kecuali media Iran dan Rusia]. Padahal yang saya lakukan hanya memberikan pengimbangan berita yang berupa analisis video. Alih-alih memberi analisis sanggahan, dia malah ber-logical fallacy.

Dalam ilmu logika, argumen seperti itu masuk kategori kesalahan (fallacy) jenis“argumentum ad populum”(menganggap sesuatu itu benar hanya karena banyak orang mempercayainya). Atau bisa juga masuk ke “argumentum ad verecundiam” (menganggap sesuatu itu benar karena ada pakar atau institusi yang dianggap ‘hebat’ yang mengatakannnya).

Coba pikir, apakah hanya karena semua media mainstream memberitakan, sebuah berita DIPASTIKAN benar?

Belum luput dari ingatan, betapa seluruh media mainstream memberitakan bahwa Irak menyimpan senjata pembunuh massal. Atas alasan itu AS dan sekutunya menggempur Irak pada 2003, menggulingkan Saddam Husein, mendudukinya sampai sekarang. Data 2013, sedikitnya ada setengah juta orang Irak tewas akibat pendudukan AS sejak 2003. Pada 2011, dari mulut para pemimpin AS sendiri, muncul pengakuan: TIDAK ADA SENJATA PEMBUNUH MASSAL di Irak.

Di era digital ini, kebohongan akan terus terekam, tak terhapus.Dalam video ini, kedua versi pernyataan mereka disandingkan (awalnya bilang ada senjata pembunuh massal, lalu tahun 2011 bilang “tidak, saya tidak pernah bilang begitu”).

Sekedar info tambahan, versi lengkap video itu saya tayangkan dalam diskusi di sebuah kampus. Saat itu saya diundang oleh organisasi mahasiswa sebut saja, ABC. Di luar ruangan, organisasi mahasiswa yang lain, XYZ, menggedor-gedor, memblokir pintu masuk, berusaha membubarkan acara. Panitia sudah mengundang mereka untuk duduk di dalam, ikut diskusi. Saya juga tidak takut sama sekali, ayo adu data dan argumen. Eh, mereka tidak mau. Ya beginilah perilaku sebagian dari kita. Menyedihkan, padahal sudah ‘makan’ kuliahan.

Ini bukan cuma soal Suriah. Poin pentingnya ada di “kesalahan berpikir”; yang sangat berpengaruh pada bagaimana orang Indonesia memikirkan dan menganalisis situasi di negeri sendiri.


Note:
1. Bukan berarti apapun yang berasal dari media mainstream harus ditolak dan apapun yang dikatakan media anti-mainstream musti diterima. Kita fokus pada isi, bukan “siapa”. Contoh kasus, buku saya Prahara Suriah pun banyak mengambil sumber dari media mainstream (terutama mengenai aktivitas para “jihadis” karena dulu cuma wartawan dari media mainstream yang bisa masuk dengan aman ke wilayah jihadis), tapi dianalisis dan ditriangulasi dengan data&dokumen yang lain.

2. Apa sih tujuan kebohongan tersebut? Utk kasus Irak (2003) dan Libya (2011), tujuannya mencari dukungan publik dan PBB agar AS dkk diizinkan menginvasi kedua negara itu. Untuk kasus Suriah (2016), tujuannya agar publik dan PBB mendukung diberlakukannya no-fly-zone di Suriah.

Track record kebohongan AS selama ini demi memicu perang, baca di sini: Sejarah Kebohongan Perang AS

Kebohongan yang disebarkan soal Suriah berupa foto dan video sudah sangat banyak, berikut ini kompilasinya (file PDF), sudah 123 halaman (itupun belum semua karena kebohongan baru terus diproduksi).

Selasa, 02 Agustus 2016


Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi kabar jatuhnya sebuah helikopter militer negara itu, setelah ditembak di wilayah Suriah pada hari, Senin (1/8/2016) WIB.

Helikopter Mi-8 ditembak jatuh di atas wilayah udara Provinsi Idlib.
Saat itu, heli dalam penerbangan kembali ke pangkalan militer Rusia di wilayah pesisir, setelah mengantar bantuan kemanusiaan ke Kota Aleppo.

Berdasarkan data yang ada, heli tersebut memiliki tiga kru, dan dua petugas dari Pusat Rekonsiliasi.

Dalam video nampak TERORIS Suriah menyiksa  2 jasad kru helikopter yang membawa misi kemanusiaan di Suriah. 



Senin, 11 Juli 2016


Seorang jurnalis Saudi menyatakan bahwa niatan Riyadh untuk mengirim lebih banyak teroris ke Suriah  harus segera direalisasikan untuk menjatuhkan Rezim Bashar Assad, niatan ini terungkap saat Raja Salman bertemu dengan Hillary Clinton. 

Amerika dan Saudi merasa prihatin atas kekalahan yang di alami para teroris dukungannya yang telah kehilangan banyak wilayah di provinsi Aleppo.

“Pembebasan kota strategis al-Qusayr pada Juni 2013 merupakan pukulan berat untuk pemerintah Saudi. Itu sebabnya kemudian Riyadh berusaha mencegah pembebasan Aleppo,” tulis jurnalis Saudi tersebut. 

Menurut sang wartawan, rencana pembebasan Aleppo oleh Angkatan Darat Suriah dan pasukan rakyat itu akan menjadi kekalahan besar bagi pemerintah Saudi dan Amerika.

Simak video nya.. 

Jumat, 25 Maret 2016


Hampir separuh atau sekitar 50 persen dari jihadis asing yang berperang untuk kelompok teroris ISIS dan Jabhah Nusrah telah tewas di Suriah dan Irak. Sekitar 6 persen dari jihadis wanita asing yang bekerja untuk ISIS juga telah tewas. Demikian diklaim sebuah laporan terbaru yang dirilis mirror.uk, Selasa (22/03) kemarin.

Ratusan warga Inggris diduga merupakan bagian diantara 10.000 prajurit asing yang telah pergi ke Irak dan Suriah. Hitungan ini hanyalah untuk prajurit asing dari negara-negara Barat saja, belum termasuk hitungan untuk ribuan pejuang Afghanistan, Uzbekistan dan Chechnya di wilayah tersebut.

Meskipun beberapa jihadis itu tewas akibat serangan udara AS, pasukan udara Inggris dan Timur Tengah, namun sebagian besar dari mereka sebenarnya tewas karena ditembak atau diledakkan dengan serangan darat.

Mereka tewas ditangan tentara Libanon dan Suriah atau oleh teroris yang bermusuhan dengan ISIS, pasukan pemberontak barat lainnya atau milisi setempat.

Lihat Video tentara Suriah panen Teroris:



Intellectual think tank New America mengatakan bahwa sebagian besar dari sekitar 4.500 dari orang-orang asing yang tewas (kebanyakannya adalah warga Inggris) setelah bergabung dengan ISIS itu adalah laki-laki dan perempuan muda, berusia rata-rata 24 tahun. Hanya sedikit yang berusia 30 atau 40 atau diatas umur tersebut.

Karena perempuan dan gadis-gadis muda sebagian besar tidak berjuang namun hanya melayani para jihadis dan tinggal di rumah, jumlah korban tewas sebanyak enam persen termasuk angka yang mengejutkan.

Laporan ini juga menyebut banyak jihadis asing tewas di Suriah dan Irak karena mereka digunakan sebagai pembom bunuh diri

Meskipun masih belum bisa dipastikan bagaimana mereka masuk ke Suriah, tepatnya sekitar 50 persen atau lebih dari para jihadis asing yang tewas itu masuk ke Suriah, setidaknya 42 persennya telah masuk ke Suriah melalui perbatasan dengan Turki. (ARN)


Senin, 29 Februari 2016


Pernyataan tak terduga muncul dalam wawancara antara Al-Jazeera dengan Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu, yang mengakui bahwa Ankara telah mendukung kelompok-kelompok bersenjata di Suriah. Davutoglu mengesampingkan invasi Turki namun menuduh Rusia melakukan pembersihan etnis.

Davutoglu dengan terang-terangan memuji para milisi teror yang saat ini mengendalikan kota strategis di Aleppo, yang terlibat dalam perang saudara melawan Damaskus, atas apa yang mereka lakukan dalam membalas serangan dari pasukan Damaskus. Davutoglu menegaskan keberhasilan para teroris itu adalah berkat dukungan dari Turki.

“Bagaimana mereka akan mampu mempertahankan diri jika tidak ada dukungan dari Turki untuk rakyat Suriah? … Jika hari ini ada oposisi moderat Suriah, itu karena dukungan dari Turki. Jika hari ini [Assad] tidak mampu mengendalikan semua wilayah [itu], itu adalah karena dukungan Turki dan beberapa negara lain, “katanya kepada Al-Jazeera awal pekan ini.

Sebelum ini, Surat kabar The Washington Post melaporkan bahwa kebijakan luar negeri pemerintahan Turki telah berubah menjadi mimpi buruk strategi yang riil bagi Ankara. 

Menurut surat kabar tersebut, Turki berpikir tak lama lagi akan memasuki sebuah kekuatan regional yang cukup penting, namun situasi yang sekarang ini berbeda, ia lebih dekat pada bencana karena Ankara terus menerus berseteru dengan hampir semua pihak.[ArRahmNews] 

Jumat, 26 Februari 2016


Kelompok teroris wahabi di Suriah menyerang Gereja Qara yang terletak di wilayah Al Qalamoun dan merusak kuburan Kristen lainnya serta membongkar kuburan salah seorang pendeta Kristen.

Situs berita El Nashra seperti dikutip Tasnim News melaporkan, kelompok teroris Suriah membongkar kuburan salah seorang pendeta Kristen di Gereja Qara, di Al Qalamoun.

Setelah membongkar kuburan pendeta Kristen para teroris kemudian mengeluarkan sisa jasad pendeta tersebut dan menghancurkannya.


Kelompok pengawas HAM Suriah menambahkan, setelah menghancurkan sisa jasad pendeta itu para teroris lalu merusak kuburan, juga seluruh barang yang ada di gereja termasuk salib. [IRIB Indonesia] 



Pendiri situs anti-kerahasiaan WikiLeaks, Julian Assange, membocorkan informasi bahwa Amerika Serikat (AS) mencoba menggulingkan Presiden Suriah, Bashar Al-Assad, sejak 2006. Salah satu caranya dengan mengadu dan menciptakan ketegangan antara kaum Sunni dan Syiah.

Menurut Assange, strategi adu domba Amerika Serikat ini dilaksanakan untuk memprovokasi Pemerintah Assad. Whistleblower yang sedang bersembunyi di Kedutaan Ekuador yang berlokasi di London-Inggris itu mengungkapkannya dalam sebuah dokumenter yang disiarkan hari Minggu di stasiun televisi Rossiya1.

Boss WikiLeaks itu menyatakan bahwa, Washington sedang berusaha untuk membuat Pemerintah Suriah paranoid. ”Dan mendapatkan reaksi berlebihan,” katanya, yang menambahkan bahwa AS menciptakan ketegangan antara Sunni dan Syiah.

Assange mengklaim bahwa anggota pasukan udara AS, Inggris dan Prancis pernah bertemu dengan perwakilan dari Stratfor, sebuah perusahaan intelijen global sebelum Desember 2011. Para pejabat menyatakan bahwa sudah ada agen khusus yang bertindak di Suriah, tapi mereka membutuhkan kemarahan besar untuk memicu pertumpahan darah. Mereka membutuhkan alasan yang signifikan guna menyerang sistem pertahanan udara Suriah.


Suriah telah dilanda perang saudara sejak 2011, di mana pasukan rezim Assad memerangi beberapa pasukan faksi oposisi dan kelompok-kelompok militan radikal. Konflik di Suriah semakin parah, setelah muncul kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Seperti dilansir CNN (21/12/2015) - Negara-negara Barat dan beberapa Negara Timur Tengah tidak menganggap Assad sebagai pemimpin otoritas yang sah dari Suriah. Sementara Rusia, salah satu sekutu Assad, menilai bahwa Assad harus tetap memimpin Suriah.

Pada tahun 2011, Washington memberlakukan sanksi terhadap Assad dengan harapan bahwa ia akan mengundurkan diri. Tapi, sampai saat ini Assad masih berkuasa, terutama sejak ditolong sekutunya, Rusia.

Suriah pada 2014 juga pernah menggelar Pemilu di mana Assad terpilih lagi menjadi Presiden setelah menang telak dengan perolehan suara 88,7 persen. Namun, Amerika Serikat dan sekutunya menganggap Pemilu itu sebagai lelucon.[metroIslam]

Rabu, 24 Februari 2016


Maula TV- Para pengamat Timur Tengah menyatakan bahwa yang “bermain” dalam menciptakan kekacauan di Suriah adalah Amerika. Dengan berbagai strategi yang dilancarkannya, termasuk melatih dan mempersenjatai para pemberontak serta memfasilitasi para teroris untuk datang dan berperang ke suriah, Amerika berencana untuk menggulingkan Basyar Asad dari pemerintahan Suriah.

Diprediksikan bahwa Amerika menginginkan pelengseran Basyar Asad dikarenakan sikapnya yang keras terhadap rezim zionis israel dan bantuan serta dukungannya terhadap negara, bangsa dan para pejuang Palestina di dalam memerangi israel sebagai musuh mereka. [Lihat juga Video "Inilah alasan Kenapa Bassar Asad ingin disingkirkan " di bawah ini]





Akan tetapi semua upaya yang dilakukan oleh AS di Suriah selama kurang lebih empat tahun untuk menyingkirkan Basyar Asad tidak menghasilkan apa pun selain kegagalan total. Hal itu terungkap dari rekaman video pembicaraan para pejabat AS di dalam sebuah persidangan Kongres AS yang diselenggarakan pada 27 Oktober 2015.

Selamat menyimak videonya.




Minggu, 14 Februari 2016


Tentara Suriah telah membunuh sedikitnya 100 anggota ISIS dalam waktu 24 jam terakhir di bagian timur negara negara itu. Menurut kantor berita SANA, peristiwa itu terjadi di Provinsi Deir ez-Zor.

Pada hari Jumat, sebuah sumber militer Suriah mengatakan kepada RIA Novosti, bahwa lebih dari 25 pejuang ISIS telah tewas di Deir ez-Zor. Sedangkan sehari sebelumnya, bantuan kemanusiaan yang berasal dari Rusia dan Suriah untuk disalurkan ke kota Suriah Deir el-Zour, dikepung oleh militan ISIS.

Provinsi Deir ez-Zor telah dikepung oleh pasukan ISIS. Pada bulan Januari lalu penduduk setempat mengatakan bahwa 280 orang, termasuk wanita, anak-anak dan orang tua, telah dibunuh karena telah bekerja sama dengan tentara Suriah seperti dilansir dari Sputniknews, Minggu (14/2/2016).

Suriah telah terperosok dalam perang saudara sejak 2011, dengan pasukan pemerintah yang setia kepada Presiden Bashar Assad memerangi sejumlah faksi oposisi dan kelompok teroris, seperti Daesh[ISIS] dan Front al-Nusra.[sindonews] 

Rabu, 10 Februari 2016



SOSOK DI BELAKANG PEMBEBASAN NUBL DAN ZAHRA

Oleh: Ahmed Zain Oul Muttaqin

Bebasnya dua kota kembar berpenduduk mayoritas Syi'ah Nubl dan Zahra di Aleppo Suriah setelah dikepung para Teroris selama 4 tahun adalah prestasi besar dalam sejarah 5 tahun konflik Suriah.

Bukan hal yang mudah untuk membebaskan dua kota ini, karena letaknya di Prov. Aleppo yang berbatasan langsung dengan Turki. Para teroris disana punya suplai militer, pasukan dan logistik tak terbatas dari Turki, dan bebas lalu lalang dari Gaziantep Turki dengan support Rezim Erdogan.

 Jatuhnya Aleppo khususnya Nubl dan Zahra kembali ke tangan Pemerintah Suriah adalah tamparan keras di wajah Erdogan. Jangankan untuk merebut Damaskus, Turki pun sudah gagal mempertahankan wilayah Suriah terdekat dari negaranya yang bertahun-tahun dikuasai para teroris binaannya.

 Pemerintahan Bashar al Assad kini sudah menguasai wilayah strategis dan berpenduduk terbesar kedua di negerinya tepat di depan pintu gerbang perbatasan Turki.




Belum lagi sistem pertahanan udara S-400 yang sampai hari ini siaga dipasang Rusia di Latakia Utara tepat di pintu perbatasan Turki, yang moncongnya saja sudah di arahkan seakan mengejek negeri anggota NATO tersebut.

 Mungkin selama ini yang kita ketahui dibalik pembebasan Aleppo khususnya kota Nubl dan Zahra adalah Komando dari IRGC Quds Force yang dipimpin Mayjen Qasim Suleimani bekerjasama dengan Tentara Arab Suriah, Hizbullah Lebanon, Kata'ib Hizbullah Iraq, Batalion Fatimiyun Afghan dan diback-up serangan udara AU Rusia.

 Tapi tidak banyak yang tahu bahwa ada sosok besar yang menyatukan seluruh kekuatan ini. Dilansir dari pernyataan Iran Military, pembebasan kota Nubl dan Zahra adalah permintaan pribadi dari Wali Amirul Muslimin Sayyid Ali Khamenei, dan mereka semua bersatu mematuhi komando tersebut

Sabtu, 06 Februari 2016



Oleh: Sulaiman Djaya

Bila benar ramalan itu, bahwa jika Turki menyerang Suriah, maka menurut ramalan itu, akan diikuti oleh Negara-negara Barat (Israel, Amerika, NATO dan sekutu Arab mereka seperti Rezim Al-Saud dkk).

Di mana kemudian gabungan pasukan Negara-negara Turki dan Barat itu akan berhadapan dengan Rusia, China, Iran, Hizbullah (Lebanon), India, Irak, Yaman, Palestina dkk, maka pada saat itulah akan terjadi Perang Dunia Ketiga (yang konon jika berkepanjangan akan juga melibatkan perang nuklir) dan dunia jatuh dalam krisis dan ketakutan yang dahsyat.

Namun, barangkali, manusia bisa merubah ramalan atau menentukan takdir tersebut dengan jalan menempeleng Turki, Rezim Al-Saud dkk, Israel, dan Amerika agar mereka sadar bahwa sikap mereka akan membawa kehancuran bagi kemanusiaan dan peradaban.

Minimal mereka harus ditempeleng dengan sendal jepit yang penuh pasir. Turki, NATO, Israel, Amerika, Rezim Al-Saud dkk harus sadar bahwa jika mereka menyerang Suriah, maka pada saat itu mereka akan membangunkan gabungan Tentara Mahdi as dan para pengikut Isa Al-Masih putra Maryam yang disucikan. Dan di sini, barangkali pula, ummat manusia boleh membiarkan mereka untuk menggempur Suriah.

"Akan datang suatu zaman segerombolan pasukan kejahatan membuat kerusakan yang dahsyat di Damsyik (Damaskus) dan negeri Syams (Suriah, Irak, Palestina)"

Tag: #Perang Akhir Zaman, #Perang dunia Ketiga


Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Muallem, memperingatkan setiap intervensi asing ke Suriah, setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi dan Turki berencana menerjunkan pasukan darat ke Suriah untuk alasan mengalahkan ISIS dalam koalisi internasional.

"Intervensi darat (asing) di wilayah Suriah tanpa izin pemerintah adalah agresi yang harus dilawan", kata Muallem pada konferensi pers di ibukota Damaskus, Sabtu (6/2), seperti dilansir Press TV.

Demi kedaulatan negara, pejabat senior pemerintah Suriah ini mengancam bahwa para "agresor" asing akan dipulangkan dalam peti mati.

"Jangan ada yang berpikir mereka bisa menyerang Suriah atau melanggar kedaulatannya, karena saya memastikan bahwa setiap agresor akan pulang ke negaranya dalam peti mati kayu, baik itu tentara Saudi atau Turki dan sekutunya yang tergabung dalam NATO", ancamnya.

Hal serupa dikemukakan oleh Mohammad Ali Jafari, kepala Garda Revolusi Iran. Jafari mengejek tawaran Saudi untuk mengirim pasukan daratnya ke Suriah. Menurutnya Saudi akan dikalahkan.

"(Saudi) telah membuat klaim seperti itu, tapi saya tidak yakin mereka cukup berani untuk melakukannya... Bahkan jika mereka mengirim pasukan, mereka akan pasti dikalahkan... Itu akan menjadi bunuh diri", ledek Jafari seperti dikutip kantor berita Fars News.


Pada hari Kamis (4/2), Arab Saudi telah menawarkan diri [minta izin] pada koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat untuk menerjunkan pasukan daratnya di Suriah demi alasan mengalahkan teroris ISIS. Tawaran Saudi disambut baik oleh pihak koalisi.

Kelompok Daesh atau ISIS dukungan Saudi, Turki dan Amerika merajalela di beberapa provinsi Suriah untuk tujuan menggulingkan Assad [nampaknya koalisi Amerika, Saudi ingin membantu ISIS menumbangkan Assad - red] , terutama provinsi Raqqah yang pusat kotanya bahkan ditetapkan sebagai ibukota "Khilafah" al-Baghdadiyah.[PT/R]

Tag: #kelompok DAESH, #Koalisi Internasional, #Saudi Membantu ISIS

Jumat, 05 Februari 2016



Rakyat kota Nubl dan Al-Zahra melakukan perayaan besar di lapangan utama dua kota di pedesaan utara Aleppo, guna menyambut kedatangan tentara Suriah dan merayakan dibebaskannya dua kota tersebut dari pengepungan yang dilakukan selama bertahun-tahun oleh para teroris Jabhat al- Nusra.

Sebelumnya pada hari Rabu, unit Angkatan Darat dan Angkatan Bersenjata Suriah, bekerjasama dengan kelompok-kelompok dari komite gabungan, beroperasi di pedesaan bagian utara Aleppo dan mendobrak pengepungan yang dikenakan pada kota Nubl dan al-Zahra, setelah membunuh puluhan teroris sementara yang lain melarikan diri ke arah perbatasan Turki.

Lihat Videonya :



Kantor berita SANA melaporkan bahwa ribuan penduduk setempat itu turun ke jalan-jalan dari mulai pagi hari untuk merayakan kemenangan baru Angkatan Darat Arab Suriah dalam mematahkan pengepungan selama lebih dari tiga tahun oleh organisasi teroris. Pengepungan itu tak bisa melemahkan dan menggagalkan ketabahan serta dukungan rakyat kepada Tentara Suriah.

Penduduk setempat meyakini Angkatan Darat Suriah mampu mencapai keberhasilan yang lebih dalam mengalahkan organisasi teroris dan para tentara bayaran di seluruh negeri.

Selama ini organisasi teroris Jabhat al-Nusra telah menargetkan dua kota Nubbul dan al-Zahra dengan ribuan mortir, dan mencoba puluhan kali untuk menyerang dan memasuki dua kota tersebut namun kesemuanya gagal mematahkan ketabahan penduduk setempat yang dengan pertahanan kotanya telah menimbulkan kerugian besar pada teroris baik dalam hal personil dan persenjataan. [ArRahmahNews]

Tag: #Terimakasih Assad, #Jabhat Nusra, #Hizbullah

Selasa, 02 Februari 2016



Militan ISIS memenggal bocah 14 tahun di Suriah. Musababnya, bocah itu “menghilang” dari jamaah salat Jumat di sebuah masjid di Jarablus.

Tragisnya, kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memaksa orang tua bocah itu menonton eksekusi. Gara-gara “menghilang” dari jemaah salat Jumat, bocah itu dituduh murtad.

Masjid di Jarablus telah digunakan kelompok radikal itu untuk menegaskan kekuatan mereka sebagai penguasa. Namun, hanya para pendukung ISIS yang datang ke masjid itu untuk mendengarkan khotbah.

Eksekusi terhadap bocah remaja Suriah itu diungkap Nasser Talebini, seorang aktivis hak-hak sipil lokal anti-ISIS.”Puluhan orang menghadiri eksekusi brutal, termasuk orang tua korban yang dipaksa untuk menyaksikan pemenggalan anak mereka sendiri,” kata Talebini, tanpa merinci tanggal eksekusi itu.

”ISIS sedang mencoba untuk membuktikan bahwa (mereka) masih kuat meskipun mengalami kekalahan militer,” lanjut dia.

”Kelompok ini mencoba untuk meneror rakyat melalui pelaksanaan hukuman publik tersebut,” imbuh Talebini, seperti dikutip Daily Mirror.

Rabu, 27 Januari 2016




SEBARKAN PADA DUNIA KONFLIK SURIAH BUKAN KONFLIK SUNNI VS SYI'AH

Oleh: Ahmed Zain Oul Mottaqin 

Tidak usah banyak berargumen, gambar ini sudah cukup menggambarkan bahwa para ulama pendukung utama Bashar al Assad adalah para Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Suriah.

Bila para Takfiri mengatakan pada anda bahwa perang Suriah adalah perang Sunni vs Syi'ah dan Rezim Assad adalah rezim Syi'ah yang hendak menghabisi rakyatnya yang Sunni, suruh mereka pelototi gambar ini dan tanya pada mereka siapa para ulama yang shalat bersama Assad ini. 

Tampak bersama beliau para ulama besar Aswaja Suriah seperti Syaikh Dr. Taufiq Al-Buthi (Putra As-Syahid Syaikh Said Ramadan Al Buthi), Syaikh Ahmad Badruddin Hassun (Grand Mufti Suriah), Syaikh Dr. Muhammad Syarif Showaf (Rektor Universitas Ahmad Kuftaro), Syaikh Dr. Muhammad Abdul Sattar Al-Sayyid (Menteri Awqaf), Prof. Dr. Hosamuddin Farfur (Rektor Universitas Al-Fatih Al-Islami), Syaikh M Adnan al Fayouni (Mufti Damaskus) dan para ulama Aswaja lainnya.

Hal ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kaum Ahlussunnah wal Jama'ah memiliki posisi istimewa di mata Assad dan ini sudah cukup untuk membungkam fitnah kaum Takfiri. Bahkan di foto itu hanya ada satu ulama Syi'ah yaitu Sayyid Fadi Burhan (Guru besar Hauzah Damaskus) dan ia pun hanya berada di shaf kedua.

Tuduhan Syi'ah adalah siasat para Wahabi Takfiri untuk menjatuhkan Pemerintahan sah yang sangat loyal terhadap kaum Aswaja dan sangat menjunjung Kebhinekaan rakyatnya.

Masih percaya konflik Suriah adalah perang Sunni vs Syi'ah?

Kamis, 21 Januari 2016

Foto: Tentara Perempuan Russia & Suriah

Oleh: Sulaiman Djaya 

“Menyerang Suriah sama saja dengan menyerang Leningrad” [Vladimir Putin] . Di masa-masa Era Perang Dingin, puluhan ribu anak muda yang paling berbakat dari Suriah belajar di Rusia. Mereka belajar bagaimana menggunakan persenjataan dan tekhnologi perang dan pertahanan Rusia, selain tentu saja belajar semua jenis studi akademis. 

Mereka [anak-anak muda] Suriah itu juga menikah dengan 30.000-an perempuan Rusia. Jadi, ada 30.000 keluarga yang merupakan campuran Rusia dan Suriah, dan diperkirakan lebih dari 100.000 keturunan, dan sepertinya, mengingat kedekatan Rusia & Suriah akibat kekejian ISIS saat ini, akan lebih banyak lagi di masa depan. 

Hasil pernikahan dan percampuran mereka itu tentulah juga menjadi satu etnis baru, sehingga secara emosional kedua bangsa ini susah untuk dipisahkan. Dapat dikatakan, ketika Vladimir Putin membantu Suriah, barangkali ada pertimbangan di luar hitungan ekonomi. Lain lagi jika, misalnya, Vladimir Putin, membantu negara-negara lain. Lihatlah betapa total Rusia membantu Suriah dalam melawan boneka-boneka perang buatan Amerika, Israel, Ingris, Turki, Rezim Saud dkk [ISIS, FSA, Al-Qaeda, Al-Nusra dkk] .

Perlu diketahui pula, mayoritas warga Suriah adalah Muslim Sunni [Sekira 80%] , namun sisanya adalah penganut Kristen Ortodoks [yang juga dianut mayoritas warga Russia] , selain Muslim Syi’ah di negeri itu. Singkatnya, propaganda kaum Wahabi-Takfiri bahwa Rezim Suriah adalah Rezim Syi’ah Islam adalah dusta [wahabi - red] belaka.


SUARA RAKYAT RUSIA UNTUK SURIAH (Foto oleh Getty Images)
Beginilah aksi para veteran dan warga Rusia yang menggambarkan Barrack Obama, Erdogan, Qatar, Rezim Al-Saud, David Cameron dkk sebagai ‘para pembantai anak-anak Suriah”


Tag: #Vladimir Putin, #Kristen Ortodoks, #Dusta Wahabi, #Boneka Perang Amerika 

Terbaru

Seri Kekejaman ISIS

Video

Mengenang Kembali Bom Teroris Wahabi Saat Peringatan Maulid Nabi


VIDEO Terbaru

Random Post

pks