Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2016

Pemerintah Republik Islam Iran dengan tegas menolak permintaan Jerman untuk mengakui keberadaan Israel 


Pemerintah Iran dilaporkan telah menolak permintaan Menteri Ekonomi Jerman Sigmar Gabriel untuk mengakui Israel. Permintaan itu dilontarkan Jerman sebagai syarat untuk menormalisasikan hubungan dengan Jerman.

Permintaan itu dijawab langsung oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran. Ia mengatakan bahwa Republik Islam Iran “tidak akan pernah” mengakui Israel hanya sebagai syarat untuk menormalisasikan hubungan dengan Jerman.  

“Hubungan antara Iran dan Jerman adalah didasarkan pada saling menghormati dan kepentingan. Karena itu, tidak ada syarat yang dapat diterima dalam hal ini,” ujar Juru Bicara Iran Bahram Qasemi, sebagaimana dilansir Arutz Sheva, Minggu (2/10/2016).

“Iran menganggap membela hak-hak rakyat Palestina sebagai prinsip kebijakan luar negeri. Iran tidak akan pernah dan dalam kondisi apapun tidak akan meninggalkan Palestina,” tambahnya. “Republik Islam Iran tidak akan pernah mengizinkan negara manapun untuk mencampuri urusan luar negeri Iran ,” tegas Qasemi.

Permintaan menteri Jerman itu datang saat ia melakukan wawancara dengan sebuah media di Jerman menjelang kunjungannya ke Iran. Dalam pernyataannya, Gabriel mengatakan bahwa Iran hanya dapat memiliki hubungan yang normal dengan Jerman apabila Iran mau mengakui hak Israel.

Pada tahun lalu, Gabriel juga meminta hal serupa sebelum melakukan kunjungan kenegaraan ke Iran. Menurutnya, Iran harus mengakui Israel agar dapat memiliki hubungan ekonomi yang normal dengan Jerman. "Tidak mengakui hak (Israel) untuk ada adalah sesuatu yang kami (Jerman) tidak bisa terima," tegas Gabriel.

Sumber: okezone

Rabu, 27 Juli 2016




Eropa kini tengah mengalami masa-masa kelam. Serangan terorisme belakangan ini terjadi di sejumlah kota besar di Benua Biru. Dari mulai Paris, Nice, Brussels, Istanbul hingga Munich. Serangan itu terjadi di tempat-tempat keramaian: stasiun kereta, bandara, jalanan.


Serangan teranyar terjadi kemarin di Kota Anbach, Jerman. Seorang pencari suaka asal Suriah meledakkan diri di halaman depan sebuah bar. Akibat ledakan tersebut pelaku tewas seketika, sedangkan 12 orang pejalan kaki luka-luka, tiga di antaranya masih kritis. Setelah diketahui identitasnya polisi mengatakan lelaki 27 tahun itu pernah ditolak permohonan suakanya oleh pemerintah Jerman akhir tahun lalu.

Ini adalah serangan ketiga dalam sepekan terakhir yang menimpa Negara Bagian Bavaria. Awalnya adalah serangan kapak oleh pemuda imigran di atas kereta, korban delapan orang terluka. Selanjutnya di mal Olympia Kota Munich, terjadi penembakan massal menewaskan sembilan orang. Pelaku adalah pemuda keturunan Iran-Jerman, bunuh diri setelah beraksi.

Hanya beberapa jam sebelum insiden bunuh diri di Anbach, seorang imigran lain di dekat Kota Stuttgart menebas seorang perempuan dengan parang.

Dalam sebuah unjuk rasa bulan ini Kanselir Angela Merkel mengakui kebijakannya membuka pintu bagi para imigran pengungsi membuat teroris bisa masuk ke Jerman.

"Gelombang pengungsi juga dipakai untuk menyelundupkan teroris," ujar Merkel, seperti dikutip Russia Today, bulan ini.

Merkel menjadi sosok yang paling terbuka terhadap kedatangan gelombang pengungsi dari Suriah, dan daerah lain di Timur Tengah serta Afrika Utara. Kebijakannya untuk membuka pintu perbatasan mendapat banyak kecaman tidak saja di negerinya sendiri tapi juga di seantero Eropa.

Para teroris itu menyusup, menyamar sebagai pengungsi dan melancarkan serangan di negara tujuan. Kantor berita Reuters memperkirakan ada lebih dari satu juta pengungsi memasuki Eropa tahun lalu. Kebanyakan mereka berasal dari Suriah.

Sejumlah teroris juga diketahui adalah jihadis yang pernah pergi ke Timur Tengah lalu kembali untuk melancarkan serangan di negara asalnya.

Serangkaian serangan di Jerman dalam beberapa hari terakhir membuat warga makin kesal dengan Merkel.

"Simpati kami bagi para korban dan mereka yang berduka, kekesalan kami untuk para pendukung Merkel dan kaum sayap kiri yang harusnya bertanggung jawab!" kecam warga Jerman bernama Andre Poggenburg, seperti dikutip Financial Times, Senin (25/7).

Kini gelombang unjuk rasa dan kecaman mengalir untuk Merkel. Mereka mendesak Merkel segera mundur.

Banyak kalangan menilai masuknya puluhan ribu pengungsi ke Jerman membuat keamanan negeri itu rapuh. Sejumlah pejabat intelijen sudah memperingatkan, ISIS bisa menyelundupkan anggotanya ke Eropa lewat pengungsi.

Aparat berwenang Jerman mengatakan mereka saat ini tengah menyelidiki 708 kasus dengan 1.029 tersangka yang diduga terkait dengan isu terorisme.[MDK]

Rabu, 23 Maret 2016



Ledakan kembar yang mengguncang Brussels dan ledakan di stasiun Metro hanya empat hari setelah penangkapan Salah Abdeslam, yang menjadi buronan sehubungan dengan serangan teror pada November 13 di Paris.



Sementara Menteri imigrasi Belgia, Theo Francken mengklaim “Kami punya dia”. Menteri Luar Negeri Didier Reynders pada forum Dana Marshall Jerman,  mengatakan bahwa Abdeslam “siap untuk memulai sesuatu dari Brussels”. Polisi menemukan sejumlah senjata berat, dan mereka juga percaya bahwa jaringan teroris baru berkembang di sekelilingnya.



Ricardo Baretzky dari Pusat Kebijakan Informasi Eropa, mengatakan kepada RT bahwa organisasi teroris menjadi sangat terorganisasi dengan baik dan bahwa serangan teror bisa menjadi fitur biasa di Eropa, dan menyebutkan ini “semacam perang gerilya”.

“Organisasi teroris selama beberapa tahun terakhir telah menunjukkan tren pembalasan. Jika kita melihat kembali semua serangan yang terjadi di Uni Eropa selama dua tahun terakhir, ada periode pembalasan selama kurun waktu tertentu”, kata Baretzky.

“Organisasi teroris yang terorganisasi dengan baik, mereka sangat berbahaya dan ada faktor risiko yang melibatkan domain publik. Jika perhatian yang signifikan tidak ditindak lanjuti, maka saya melihat masa depan yang sangat gelap”, tambahnya.

Serangan teroris di Brussels datang hanya beberapa hari setelah laporan internal polisi Prancis mengungkapkan bahwa ada 90 “kamikaze” yang dapat berkeliaran di Uni Eropa. Laporan itu juga menyebutkan bahwa para teroris memiliki akses ke pembuat bom yang sangat kompeten, sementara mereka bisa tinggal di bawah radar karena menggunakan enkripsi.




Sejak serangan teror Paris pada bulan November, Brussels telah menjadi kota di tepi setelah diketahui bahwa mereka yang mengambil bagian dalam serangan di ibukota Perancis berbasis di Belgia.

Pemboman di ibukota Belgia adalah “konsekuensi tak terelakkan dari kebijakan yang salah dan toleransi pada terorisme untuk mewujudkan agenda tertentu”, seorang sumber di Kementerian Luar Negeri Suriah mengatakan kepada kantor berita negara SANA, pada Selasa (22/03). Sumber itu juga menambahkan bahwa pemboman adalah konsekuensi dari beberapa negara “yang menggambarkan kelompok teroris sebagai kelompok moderat”.

Ia juga mendesak negara-negara di dunia untuk bersatu dalam “mengekang perilaku negara-negara yang mendukung terorisme dan memaksa mereka untuk berhenti memberikan dukungan kepada organisasi teroris dalam bentuk apapun, demi mewujudkan perdamaian dan stabilitas kawasan dan dunia”.

“Para teroris dicap sebagai pengecut dengan melakukan serangan pada orang yang sama sekali tidak bersalah. Pada saat yang sama, para politisi dan pemerintah dari negara-negara Uni Eropa dan NATO, alih-alih mengambil langkah-langkah tegas untuk memerangi terorisme, justru sibuk mengumumkan sanksi yang melanggar dasar hak jutaan warga. Selain itu, mereka mulai tawar-menawar atas nasib ratusan ribu pengungsi dari Timur Tengah dan Afrika Utara”, Sergey Naryshkin mengatakan pada rapat paripurna Duma Rusia, pada Selasa (23/03). “Dunia beradab harus bersatu dalam memerangi ancaman terorisme internasional”, kata kepala Duma, RT melaporkan.



Kepala Komite majelis rendah untuk Eurasia Integrasi, Leonid Slutskiy (LDPR), mengatakan kepada wartawan bahwa dalam pandangannya negara-negara Eropa harus secara aktif bekerja sama dengan Rusia untuk mengalahkan terorisme internasional. “Sementara Eropa menari untuk lagu-lagu Amerika yang disebut Rusia sebagai ancaman utama terhadap keamanan dunia di abad ke-21, ancaman nyata menembus jantung benua Eropa”, kata anggota parlemen Rusia. “Rusia siap untuk kerjasama dengan Eropa dalam memerangi terorisme internasional yang hanya bisa dikalahkan oleh upaya bersama”, tambahnya.

Lebih dari seminggu setelah serangan Paris, Brussels menjadi kunci basis serangan, pihak berwenang memperingatkan ancaman “serius dan segera” dari komplotan teroris. Hal ini menyebabkan sekolah-sekolah dan Metro, dan fasilitas umum lainnya ditutup, sementara sejumlah pertandingan sepak bola dibatalkan di seluruh Belgia.

“Masyarakat dihimbau untuk menghindari tempat-tempat kerumunan, seperti pusat perbelanjaan, konser, acara atau stasiun transportasi umum sedapat mungkin”, kata juru bicara pusat krisis pemerintah Belgia, Reuters melaporkan.




Pada bulan Desember, dua orang ditangkap oleh pihak berwenang Belgia karena dicurigai merencanakan serangan teroris di Brussels pada malam tahun baru. Menurut jaksa, polisi menemukan pakaian militer dan Negara Islam (IS, sebelumnya ISIS / ISIL) serta materi propaganda selama penggeledahan di rumah tersangka. Namun, tidak ada senjata atau bahan peledak yang ditemukan.

“Penyelidikan kami menunjukkan ancaman serius dari serangan terhadap tempat-tempat simbolis di Brussels selama perayaan malam tahun baru”, kata jaksa Belgia dalam sebuah pernyataan.

Ancaman memaksa Walikota Brussels Yvan Mayeur membatalkan perayaan tradisional Tahun Baru. Pada tahun 2014, sekitar 100.000 orang telah menghadiri kembang api di ibukota Belgia.

Perayaan Tahun Baru berlalu sebagian besar tanpa insiden, meskipun sekelompok pemuda bisa mendengar teriakan “Allahu Akbar” (yang berarti “Allah Maha Besar” dalam bahasa Arab), karena mereka membakar pohon Natal di daerah Anderlecht Brussels.

Daerah Molenbeek di tengah Brussels menjadi terkenal sebagai sarang Islam radikal seperti di mana dari kabupaten beberapa teroris yang melakukan serangan di Paris tinggal sebelum mereka melakukan serangan.

Walikota distrik Molenbeek, Francoise Schepmans diberi nama dan alamat lebih dari 80 tersangka militan, berdasarkan informasi dari layanan keamanan Belgia, termasuk kedua dalang dari serangan Paris, Abdelhamid Abaaoud, dan dua saudara , Salah dan Brahim Abdeslam, yang berpartisipasi dalam serangan 13 November. Namun, ia gagal untuk bertindak berdasarkan informasi tersebut. [Baca juga; Polisi Belgia Tangkap Tersangka Utama Serangan Paris]

Abaaoud adalah penduduk Molenbeek yang telah meninggalkan Belgia untuk berjuang bersama ISIS di Suriah pada awal 2014. Dia tewas dalam serangan polisi pekan lalu di Saint-Denis, Paris, setelah mengambil nyawa 130 orang dalam serangan di Perancis.

Menyusul serangan di Paris, Menteri Dalam Negeri Belgia Jan Jambon mengatakan sudah saatnya bagi pemerintah untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mengatasi masalah jihad dan radikalisasi di daerah, sambil menambahkan bahwa mereka akan memeriksa “setiap alamat di Molenbeek.”

“Tidak dapat diterima bahwa kita tidak tahu siapa yang tinggal di daerah ini,” katanya dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Het Nieuwsblad. “Ada dua orang yang terdaftar di beberapa apartemen, tetapi sebenarnya ada 10 tamu menghuni tempat itu”.

Jambon juga menyerukan pencarian door-to-door untuk mencari orang-orang yang tergabung dengan jaringan teroris atau mendukung gerakan itu.

“Pihak berwenang setempat harus pergi dari pintu ke pintu, membunyikan bel dan mencari tahu siapa yang tinggal di sana. Sebuah alamat harus diperiksa oleh petugas polisi ketika seseorang pergi untuk tinggal di tempat tinggal baru”, tambah menteri dalam negeri. [ArRahmNews]

Senin, 21 Desember 2015

Kelompok militan Islamic State (ISIS) kemungkinan telah mencuri "puluhan ribu" paspor kosong yang dapat digunakan untuk menyelundupkan militannya ke Eropa sebagai pengungsi.


Demikian dilaporkan sebuah surat kabar Jerman Welt am Sonntag, Minggu (20/12/2015). Mengutip sejumlah sumber intelijen negara Barat, Welt menyebut ISIS mendapatkan paspor itu dari Suriah, Irak dan Libya.

Menurut laporan tersebut, paspor kosong kemudian diserahkan kepada calon penyerang untuk memasuki negara anggota Uni Eropa sebagai pengungsi.

Welt juga menyebut ISIS memutar uangnya dengan menjual sejumlah paspor kosong ke pasar gelap, dengan harga sekitar 1,500 euro atau setara Rp22 juta.

Dua pelaku penyerangan di Stade de France di Paris belakangan diketahui memilki dua paspor palsu asal Suriah yang digunakan untuk memasuki Eropa.

"Gelombang orang yang pergi ke Eropa tanpa diperiksa merepresentasikan risiko keamanan," kata kepala agensi perbatasan Uni Eropa Frontex, Fabrice Leggeri, kepada Welt.

Leggeri mengatakan paspor yang dikeluarkan dari negara konflik seperti Suriah sulit dibedakan, dari yang benar-benar asli atau palsu.

Saat ditanya mengenai laporan Welt, Menteri Dalam Negeri Jerman mengutarakan penilaian serupa.

"Mengenai banyaknya imigran yang datang, tidak dapat dipastikan jika di antara mereka sebagai contohnya ada beberapa kriminal, penjahat perang, anggota grup militan atau organisasi teroris," ujar juru bicara Mendagri Jerman kepada AFP.

"Di waktu yang sama, tidak dapat dipastikan juga orang-orang itu membawa paspor asli atau palsu."

Pekan lalu pemerintah Jerman mengatakan salah memperkirakan jumlah orang yang datang dengan paspor palsu asal Suriah. Pada kenyataannya, mereka yang datang dengan paspor palsu hanya kurang dari 30 persen dari yang diumumkan Kemendagri pada September.

Jerman masih memberlakukan kebijakan pintu terbuka bagi warga Suriah yang melarikan diri dari konflik. Para imigran ini mendapatkan "perlindungan primer" -- status tertinggu bagi pengungsi.

Datang melalui Turki dan Balkan, pengungsi Suriah menjadikan Jerman sebagai negara tujuan utama. Diperkirakan akan ada lebih dari satu juta warga Suriah yang datang ke Jerman tahun ini.[metrotv news]

Rabu, 16 Desember 2015

Sven Lau Wahabi Jerman 

Polisi Jerman telah menangkap seorang ekstrimis Wahabi Jerman yang diketahui telah mengorganisir apa yang disebut ‘polisi Syariah. Sven Lau, ditangkap atas dugaan mendukung kelompok teror asing.

Lau, 35th, ditangkap pada hari Selasa (15/12) di kota Mönchengladbach, Rhine-Westphalia Utara (NRW), negara bagian yang paling padat penduduknya di Jerman. Ralf Jaeger, menteri dalam negeri Rhine-Westphalia Utara, menjelaskan bahwa Lau adalah salah satu tokoh utama Salafi Jerman yang kerap menyebar kebencian.

“Dengan propaganda mereka yang memuliakan kekerasan dan alasan ‘jihad’ di zona perang, pengkhotbah Salafi (Wahabi) seperti Lau menyediakan tempat berkembang biak bagi radikalisasi pemuda,” kata Jaeger, sebagaimana dikutip Russia Today, “Mereka menghasut orang-orang muda untuk bergabung dalam kelompok teror jihad di Suriah dan Irak.”
Jaksa menuntut Lau atas dugaan mendukung Jaish al Muhajirin wal Ansar (JAMWA) yang terafiliasi dengan Front al-Nusra. Ia diduga sebagai koordinator JAMWA di NRW Jerman, yang mendukung para ekstremis Jerman pergi ke Suriah untuk bergabung dalam perang.

Di Jerman Lau dikenal mengorganisir apa yang disebut ‘polisi Syariah’ di kota Wuppertal. Organisasi itu berisi para pemuda pengikut Salafisme/Wahabisme, bentuk Islam puritan yang sangat intoleran dan gemar melakukan provokasi. Kelompok ini tahun lalu melakukan ceramah-ceramah bermuatan kebencian dijalanan Jerman.
Pemerintah Jerman menganggap hal tersebut adalah sebuah tindakan provokasi. Pada bulan September, Menteri Dalam Negeri Jerman, Thomas de Maiziere mengatakan kepada surat kabar Bild bahwa “tidak ada hukum Syariah akan ditoleransi di tanah Jerman.” (ARN)

Selasa, 15 Desember 2015

Seorang ulama terkemuka asal Nigeria dalam pernyataannya yang merujuk kepada orang Zionis , menyebut Israel sebagai makhluk paling rendah di muka bumi yang "hanya memahami bahasa pembunuhan".
Dirinya pernah berbicara di sebuah konferensi di London pada hari Rabu, 6/10  yang lalu, yang diselenggarakan oleh sebuah kelompok anti Israel.


Ulama Kharismatik yang bernama, Syaikh Ibrahim Zakzaky, adalah kepala Gerakan Islam di Nigeria dan akan menjadi tamu dari Komisi Hak Asasi Islam (IHRC) di London dalam acara Al-Quds Day, sebuah demonstrasi tahunan dalam mendukung gerakan perlawanan terhadap Israel.

IHRC mengatakan bahwa acara satu hari bertajuk "Spirit of Islamist Activism" yang diadakan di Islamic Center Inggris di barat laut London, dan akan membahas "tantangan besar bagi revitalisasi iman dan prakteknya di dunia modern dengan menghadirkan ulama terkenal secara internasional dan akademisi.

Sebelumnya, dalam ceramah selama Operasi Cast tahun lalu, website IMN melaporkan bahwa Syaikh Zakzaky mengatakan bahwa "hari ini adalah hari untuk mengekspresikan solidaritas kami dengan Palestina yang terbunuh di Gaza oleh orang-orang Yahudi yang terbuang."

Israel menurutnya, tidak hanya menginginkan menghancurkan Gaza tetapi seluruh wilayah, seperti Yordania, Suriah, Mesir dan hal itu tidak akan berakhir meski mereka telah selesai dengan Gaza dan yang akan menjadi agen akhirnya adalah Mubarak dari Mesir, jika mereka berhasil. "

Syeikh Zakzaky, telah menjalani hukuman penjara selama beberapa kali oleh rezim-rezim Nigeria, ia juga menuduh Israel menggunakan senjata kimia di Gaza yang menyebabkan korban mengalami leukemia. Ia juga mengecam negerinya sendiri karena menjalin dan menjaga hubungan dengan Israel, yang ia sebut sebagai "anak-anak monyet dan babi."

Di antara mereka yang dijadwalkan untuk berbicara di konferensi ini adalah Ahmet Faruk Unsal, perwakilan dari lembaga Kemanusiaan IHH Turki, dan Sayyid Saeed Reza Ameli dari Universitas Teheran.

Minggu, 13 Desember 2015

Orang-orang Kristen Asiria yang tinggal di Swedia menerima ancaman dari kelompok ekstremis terkait Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang menyatakan mereka harus pindah agama Islam atau mati.

Sebuah laporan terbaru oleh harian SwediaDagens Nyheter pada hari mengungkapkan masyarakat Asiria di kota Gothenburg di barat daya Swedia sedang diancam oleh seseorang tak dikenal yang menggunakan metode dan simbol ISIS. Menurut laporan, polisi setempat sedang menyelidiki ancaman itu tapi sejauh ini belum menemukan titik terang.

Kota Gothenburg merupakan sarang untuk perekrutan jihadis yang beraliran Salafi [wahabi] dan surat kabar Swedia Aftonbladet awal tahun ini melaporkan setidaknya 150 orang telah meninggalkan kota dan bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah.

Pakar terorisme Magnus Ranstorp telah menyebut Gothenburg sebagai “Pusat Jihadis Swedia” dan kota dengan populasi 500.000 jiwa telah memberikan kontribusi untuk menjadi pejuang ISIS bila dibandingkan dengan seluruh wilayah AS.

Warga Swedia keturunan Asiria Markus Samuelsson menemukan dinding restoran di Gothenburg tertutup graffiti jihad termasuk pesan “Convert or Die” dan “The Khilafah is Here”.

Pesan-pesan yang sama, bersamaan dengan logo ISIS dalam bahasa Arab juga dicat di dinding toko roti Le Pain Francois dan tetangganya pizzeria juga. Namun, restoran yang bukan milik warga keturunan Asiria tidak disentuh.
“Saya merasa tulang-tulang terlepas begitu saja. Ini sangat menyakitkan, kami merasa terancam,” kata Samuelsson yang juga merupakan pemilik toko roti Le Pain Francois kepada harian Dagens Nyheter.

Militan ISIS di Timur Tengah menggunakan huruf Arab untuk menandai rumah orang Kristen di Mosul sebelum mereka merebut kota itu tahun lalu.

Militan ISIS kemudian mendesak orang Kristen di kota itu untuk memilih pergi tinggalkan Mosul, pindah agama Islam atau membayar pajak karena non-Islam.

Samuelsson adalah salah satu dari 3000 orang Kristen Asiria yang tinggal di Gothenburg.
Pada bulan Februari lalu, sebuah essay di Laporan Swedia mengeluhkan bahwa banyak orang Swedia yang lari kembali ke tanah air mereka setelah sebelumnya mengabdi kepada ISIS di Timur Tengah, mereka tidak dihukum oleh pemerintah Swedia. Justru yang terjadi adalah mereka diberi terapi dan diberikan pekerjaan.

Pada pekan lalu, ISIS merilis sebuah video yang memperlihatkan tiga orang Kristen Asiria dibunuh di Suriah dan ISIS mengancam akan membunuh 180 orang sisanya jika mereka tidak membayar tebusan.

Pada peringatan Paskah lalu, Kristen Asiria sedang merayakan pesta di Gereja Perawan Maria di desa Tal Nasri di pedesaan barat Provinsi Hasaka di timur laut Suriah namun kemudian ISIS menghancurkan gereja yang telah berumur 80 tahun itu hingga menjadi berkeping-keping.

Gereja Timur Asiria adalah salah satu cabang tertua dari agama Kristen yang mengakar pada abad 1 Masehi. Orang Kristen Asiria berbicara bahasa Aram yaitu bahasa yang digunakan oleh Yesus dan berasal dari Mesopotamia kuno, sebuah wilayah yang membentang di Irak utara, utara-timur Suriah dan selatan-timur Turki. 

Sabtu, 12 Desember 2015

 Kantor Berita lokal kota Manchester, Inggris memberitakan pertemuan yang dilakukan oleh Pemuka agama Kristen & Ulama Islam membicarakan rincian pelaksanaan PERAYAAN BERSAMA "Natal & Maulid Nabi Muhammad" yang akan dilangsungkan pada hari Natal 25 Desember 2015 nanti.


Pada malam Natal, akan dilakukan prosesi (pawai) MAULID Nabi Muhammad SAW yang dimulai dari Jalan Foxholes berakhir di Mesjid Bilal di Jalan Bulwer kota Manchester, Inggris. Pada waktu yang sama, umat Kristiani yang merayakan hari kelahiran Yesus Kristus berbagi makanan dengan keluarga Muslim yang merayakan Maulid.

Lalu mereka bersama-sama akan melakukan layanan perjamuan memberikan makan kepada para Tunawisma, memberikan perawatan bagi yang sakit dilakukan di Gerja St. Chad di Rochdale, yang mana keluarga Muslim akan ikut menyediakan makanan.

"Tahun ini tahun yang spesial bagi kita semua, karena pada saat yang sama orang Kristen merayakan hari kelahiran Yesus, bersama kami umat Muslim merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kami akan berdoa untuk perdamaian dunia.", komentar Mohammed Shabbir Sialvi, Muslim warga kota Manchester.

Kita akan berkumpul bersama merayakan kelahiran dari Pangeran Kedamaian bersama saudara-saudara Muslim, berbagi sukacita, berbagi kebahagiaan, karena kami juga berbagai sukacita mereka, dan kebahagiaan mereka.", kata Pastur Paul Daly. [Rochdale.uk

Note Ustad Abu Janda:

RAPATKAN BARISAN MUSLIM & NON MUSLIM. TIngkatkan kewaspadaan terhadap paham-paham yang mengatas namakan Islam tapi menghasut permusuhan & provokasi konflik. JANGAN TERPANCING. saling mengingatkan dimulai pada lingkungan masing-masing.

MUSUH KITA BERSAMA adalah mereka yang mengharamkan toleransi antar umat beragama. MUSUH BANGSA adalah mereka yang sampai melarang umat merayakan hari raya Natal & Maulid Nabi Muhammad.

Selamat berakhir pekan!
Ustad Abu Janda al-Boliwudi

#IslamTanpaMengkafirkan
#ITM

Jumat, 11 Desember 2015

Arab Saudi menjadi momok yang lebih mengancam bagi Inggris. Hal itu disampaikan Ken Livingstone, mantan Wali Kota London, pada sebuah konferensi di Moskow yang ditayangkan stasiun televisi setempat.


Alasan Livingstone menilai Saudi menjadi ancaman bagi Inggris karena Riyadh dia anggap sebagai donatur utama kelompok-kelompok fundamentalis Islam. seperti dikutip Independent, Jumat (11/12/2015).

“Kami sekarang menghadapi ancaman dari fundamentalisme Islam. Yang sebagian besar telah didanai oleh Arab Saudi, sekutu utama kami, yang telah mendanai kelompok Islam intoleran[wahabi] yang tidak ada hubungannya dengan ajaran Nabi Muhammad,” lanjut Livingstone.
Baca: Belgia Mengusir Wahabi Dari Masjid yang dikelolanya
Menurutnya, selain Saudi, dia juga menilai Qatar ikut mendanai kelompok fundamentalis. ”Hal yang tidak benar dilakukan, hampir semua fundamentalisIslam telah didanai oleh Saudi dan Qatar, seperti kembali 70 tahun silam, menyebarkan kebencian terutama dari kelompok Islam intoleran, dan Inggris dan Amerika harus mengatakan kepada mereka ‘Anda harus menghentikan pendanaan ini atau Anda tidak bisa menjadi sekutu kami’,” kata Livingstone.

Tudingan Saudi mendanai kelompok fundamentalis sudah lama muncul. Namun, Pemerintah Riyadh tidak pernah bersedia mengkonfirmasi tuduhan itu. Bahkan, ada laporan perihal serangan 9/11 yang tidak diungkap Pemerintah AS, karena ada dugaan Saudi ikut mendanai kelompok yang melakukan serangan itu. [independent]

Senin, 07 Desember 2015

Saudi terus mendukung masjid-masjid fundamentalis di seluruh dunia. Ia mengatakan masjid-masjid demikian telah menjadi tempat pengembangan ektrimisme.


Wakil Kanselir Jerman mengatakan Arab Saudi berisiko dijauhi sekutu-sekutu Baratnya karena Saudi terus mendukung masjid-masjid fundamentalis di seluruh dunia. Ia mengatakan masjid-masjid demikian telah menjadi tempat pengembangan ektrimisme.
Sigmar Gabriel, dalam wawancara yang dimuat hari Minggu (6/12) dalam surat kabar Bild am Sonntag, mengatakan “Dari Arab Saudi, masjid-masjid Wahabi dibiayai di seluruh dunia,” yang mengacu pada bentuk yang keras Islam Sunni.
Baca: PM PRANCIS, Salafi Wahabi Ancaman nyata Prancis 
 “Di Jerman, banyak pakar Islam menganggap orang-orang yang berbahaya muncul dari aliran Wahabi,” kata Gabriel dalam wawancara. “Kita harus menegaskan kepada Saudi bahwa waktu bersikap membiarkan sudah berakhir.”

Komentar Gabriel itu menyusul laporan pekan lalu oleh badan intelijen Jerman mengenai kebijakan luar negeri “yang gegabah” Arab Saudi, penilaian yang ditolak oleh pemerintah Jerman.[gagadayli

Minggu, 06 Desember 2015

Oleh: Dina Y Soelaiman 

hari Kamis yang lalu saya diwawancarai IRIB Indonesia soal surat Ayatullah Khamenei (Leader Iran pasca Khomeini) kepada para pemuda Eropa. Suratnya bisa digoogling saja, ada terjemahan Inggris dan Indonesia. Sayang yg menyebarkan surat itu di twitter akunnya malah diban oleh twitter (tanya kenapa?).


Saya bilang dalam wawancara itu, di surat pertama (Januari 2015, pasca teror terhadap redaktur Charlie Hebdo) Khamenei meminta kepada para pemuda Eropa agar mempelajari Islam dari sumber-sumber yang valid agar tidak terjebak dalam Islamophobia. Di surat kedua (pasca teror Paris bulan November), Khamenei memetakan masalah terorisme di dunia, agar para pemuda Eropa bisa menyikapinya dengan tepat. Poin-poinnya antara lain:


  1. 1. Terorisme mengakibatkan luka dan kesedihan yang sama bagi semua orang (korban), apapun agamanya dan dimanapun mereka tinggal.

  2. 2. Terorisme di Paris sangat menyedihkan, tetapi jangan lupakan bahwa terorisme yang sama telah dialami rakyat negara-negara Muslim selama bertahun-tahun. Bila rakyat Paris bisa menghindari teror dengan berlindung di rumah, rakyat Palestina, Irak, Suriah, Yaman, Afghan, dll, bahkan di rumah pun tak ada jaminan selamat, sewaktu-waktu bom bisa jatuh di atas rumah.

  3. 3. Sudah sangat terbukti, terorisme di negara-negara Muslim justru didukung oleh negara-negara Barat yang bekerja sama dengan "negara Badui". Sungguh ironis, negara-negara terdepan dan termaju dalam demokrasi justru bekerjasama dengan negara-negara paling terbelakang dalam demokrasi, untuk menghancurkan negara-negara Muslim yang maju demokrasinya.

  4. 4. Respon para pemuda di Barat secara umum terbagi dua: Islamofobia (anti/takut terhadap Islam) atau justru malah tertarik untuk bergabung ke dalam kelompok-kelompok teror atas nama Islam. Karena itu, sekali lagi, pelajarilah Islam dari sumbernya yang benar. Mana mungkin agama yang mampu membentuk peradaban tinggi yang jelas tercatat dalam sejarah, bisa menciptakan paham teror? Justru paham teror itu muncul ketika kekuatan Barat berkolaborasi dengan "negara-negara Badui" yang paling terbelakang dari sisi demokrasi dan intelektual di Timteng.


Meskipun surat ini ditujukan kepada pemuda Eropa, saya pikir pas juga untuk kita orang Indonesia, terutama karena akhir-akhir ini sebagian terlihat sangat anti-Islam dan sebagian lagi malah tergila-gila pada paham teror, Untungnya masih banyak Muslim moderat yang gigih menyebarluaskan Islam yang welas asih, meski suaranya masih sayup-sayup (karena suara tetangga sebelah jauh lebih berisik). Jangan menyerah, kawan. 

Sabtu, 28 November 2015

RAKYAT BELGIA MULAI MERASAKAN BAGAIMANA TERORISME DAN EKSTRIMISME SEMAKIN MEMBAHAYAKAN, OLEH KARENA ITU MASJID AGUNG BRUSSELS DIAMBIL ALIH DARI SAUDI, SERTA LARANG SEKTE WAHABI MASUK DI BELGIA, KARENA SAUDI DAN WAHABI ADALAH AKAR EKSTRIMISME.


Raja Belgia Baudouin yang lahir 7 September 1930 dan meninggal 31 Juli 1993 telah mempercayakan kepengurusan Masjid Agung di Brussels ke Arab Saudi sejak tahun enam puluhan melalui penandatanganan sewa untuk jangka waktu 99 tahun.
Baca: wakil Kanselir Jerman, "orang-orang berbahaya adalah wahabi".
Menurut Yamila Idrissi:
“Arab Saudi memainkan peran utama dalam penyebaran Islam radikal (Wahabi yang merupakan gerakan politik keagamaan Saudi) yang juga didukung oleh para anggota organisasi teroris ISIS.”
Yamila Idrissi mengatakan “Jika perdana menteri benar-benar serius menumpas dan memusnahkan akar ekstremisme dan terorisme, maka terlebih dahulu ia harus mengakhiri campur tangan Arab Saudi dalam mengurusi Masjid Agung di Brussels serta melarang faham Wahabi masuk ke Belgia.” Seperti dilansir dari kantor berita Belg24 (27/11).

    Idrissi menyebutkan bahwa:
 “pemerintah federal harus membatasi campur tangan Arab Saudi atas pengelolaan Masjid Agung di Brussels, tempat itu saat ini merupakan pusat berkembang biaknya kelompok Islam Radikal (Wahabi) di Belgia maupun Eropa.”

Dia menambahkan, “Jika pemerintah federal serius dalam memerangi ekstremisme dan terorisme, maka mereka harus mengakhiri perjanjian sewa antara negara kita dengan Arab Saudi, dan melakukan perombakan untuk menjadikan Masjid Agung sebagai markas Islam Eropa yang moderat dan modern untuk Islam yang toleran.”

Wahabi akar Terorisme di Dunia di tangan AS dan Zionis

Raja Belgia Baudouin yang lahir 7 September 1930 dan meninggal 31 Juli 1993 telah mempercayakan kepengurusan Masjid Agung di Brussels ke Arab Saudi sejak tahun enam puluhan melalui penandatanganan sewa untuk jangka waktu 99 tahun. Menurut Yamila Idrissi “Arab Saudi memainkan peran utama dalam penyebaran Islam radikal (Wahabi yang merupakan gerakan politik keagamaan Saudi) yang juga didukung oleh para anggota organisasi teroris ISIS.”
Baca: PM Perancis, Wahabi dan Salafi Ancaman Nyata Perancis 
Dia melanjutkan “Sejak tahun 1967, para imam dan diplomat Arab Saudi terus memantau Masjid Agung dengan menyebarkan Wahabisme di Brussels, Belgia serta di Eropa. Bentuk Islam puritan semacam ini merupakan tanah subur bagi Radikalisme. Dan tidak mungkin mendapatkan tempat dalam masyarakat kita dan sangat membahayakan kedaulatan dan keamanan negara.” 

Sementara itu Partai Sosialis yang berada di utara negara itu mengusulkan adanya komunikasi dengan para intelektual Islam modern dan moderat sebagai seruan kepada mereka untuk mau bekerjasama dalam  mengembangkan pusat Eropa Islam di Masjid Agung di Brussels. (ARN)

Rabu, 18 November 2015

Perdana Menteri Prancis Manuel Valls mewacanakan pelemahan kelompok Islam radikal di Prancis dengan menggencarkan pengenalan budaya dan pendidikan sekuler barat. Dengan demikian, ia berharap kelompok Islam radikal akan lebih diterima masyarakat masyarakat Prancis.

Perdana Menteri Prancis Manuel Valls

"Perang melawan ancaman di masyarakat kita, Islam radikal harus melewati sekolah dan budaya yang mendukung sekularisme," kata Valls dilansir dari Ibtimes pada Selasa (17/11). Cara ini diyakini dia akan membuat Islam dan muslim akan lebih diterima masyarakat Prancis.
Baca: Masyarakat Eropa mulai sadar bahaya wahabi 
Dia mengingatkan, ancaman Muslim radikal bukan hanya membahayakan masyarakat Prancis, tapi juga mencoreng muslim Prancis. Valls berharap muslim Prancis dapat melawan paham ideologi radikal yang terbukti telah menewaskan 129 orang pada tragedi di Paris.

Ideologi radikal yang menjadi ancaman tersebut, kata dia diantaranya adalah Wahabi dan Salafi. "Wahabisme dan Salafisme telah mengubah wajah Islam, ini bahaya nyata bagi Muslim dan Prancis," kata Vall. Valls mengatakan dua ideologi ini berpaham ultra konservatif dalam Sunni Islam yang selalu menekankan pendekatan kekerasan.

Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve, menyambut baik langkah ini. Ia menyetujui  perang melawan ekstrimisme harus dilakukan dengan dua cara, selain kekuatan intelejen keamanan, juga harus dilakukan dengan cara lebih lembut.[Republika]  

Selasa, 17 November 2015

Oleh : Asaaro Lahagu 

Negara-negara Barat yang telah mendorong lahirnya ISIS di Syria dan Irag telah gagal. Skenario Barat untuk menghancurkan Presiden Syria, Bassar-Al Assad lewat ISIS juga gagal total. Barat memang berhasil membuat negara Syria dan Iraq sebagai negara gagal. Kedua negara ini porak-poraknda dan menciptakan korban tewas ratusan ribu orang. Lalu jutaan orang mengungsi ke berbagai negara Eropa. Ini tragedi besar kemanusiaan di abad ke-21 pasca perang dunia kedua. Namun Barat gagal menyingkirkan Assad. Prediksi negara-negara Barat bahwa Assad akan dihukum gantung oleh rakyatnya dalam setahun, ternyata salah besar. 

ISIS Bukan Islam 


Sudah 4,5 tahun Assad tetap duduk di kursi Presiden Syria dengan lumuran darah rakyatnya. Syria bukanlah Libya. Assad, bukanlah Khadafi. Kalau barat dengan gampangnya menyingkirkan Presiden Libya Muhammad Khadafi, tidak demikian dengan Assad. Assad jauh lebih kuat dari perkiraan. Gerakan Arab Springs tahun 2010 yang dimulai dari Tunisia, lalu Mesir dan merembes ke negara-negara Afrika, telah membuat Barat di atas angin. Konflik internal di negara-negara itu telah membuat negara Barat dengan mudah merancang skenario untuk mencapai keinginan mereka. Skenario Barat untuk memaksakan demokrasi ala mereka telah berhasil diterapkan di negara-negara yang dilanda euphoria Arab Springs. Untuk menuntaskan skenarionya, Barat yang dipelopori oleh Amerika Serikat plus Israel berusaha melemahkan Syria. Bila Syria telah hancur, maka lahirlah demokrasi ala barat di seluruh Arab mengepung sasaran terakhir Iran. 

Iran adalah negara terakhir, benteng Islam dalam membendung hegemoni negara-negara Barat. Skenario awal Barat atas negara Syria adalah akan diserahkan kepada para pemberontak nasionalis. Untuk itu di pengasingan dibentuklah kelompok pemerintahan peralihan Syria yang diplot oleh negara-negara Barat. Dalam kacamata hitam negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, Assad adalah pengecut yang akan mudah dipatahkan. Assad adalah hanya pimpin yang jago kandang, tidak lebih dari itu. Begitlah anggapan negara-negara Barat dan Amerika. Ternyata upaya menghancurkan Syria secara permanen dengan menyingkirkan Assad ternyata tidaklah mudah. Dukungan Russia, Iran dan Tiongkok kepada Presiden Assad yang sedemikian masif, di luar prediksi negara Barat. Rusia mendukung Syria karena ada banyak warga keturunan Russia di Syria. 

Di samping itu Rusia juga ingin menampar negara Barat yang terlalu over confidence dalam menangani Syria.  Inilah hal yang kurang diperhitungkan oleh Barat. Setelah perang yang berlarut-larut dan melelahkan, ternyata Assad masih berkuasa dan masih mendapat dukungan dari klan dan suku-suku Sunni. Assad bertarung mati-matian melawan Barat. Hidup matinya Assad bersama etnis dan suku yang puluhan tahun mendukung ayahnya berada di tangan mereka sendiri. Para pejuang pro Assad bertempur mati-matian melawan sesama saudaranya sendiri yang disokong Barat. Maka Barat dengan diam-diam mendukung pembentukan ISIS untuk ikut menusuk Assad. Keberadaan ISIS memang terbukti semakin melemahkan keberadaan Assad. Untuk menutupi kedoknya, Barat membuat Alibi bahwa musuh utama Barat dalam menyerang Syria adalah menghancurkan ISIS. Karena ISIS secara tersembunyi didukung oleh Barat, maka misi Amerika dan negara-negara Barat untuk menghancurkan ISIS hanya mitos dan kamuflase belaka. Nyatanya selama dua tahun negara Eropa dan Amerika melakukan perang melawan ISIS, ISIS tidak pernah hancur. Tentu saja skenario Barat itu dicium dengan tajam oleh Rusia. 

Rusia yang melihat Assad yang semakin payah akibat melawan tiga musuh sekaligus, yakni rakyat Syria anti Assad, ISIS dan Barat, ikut terang-terangan membela Assad dari ISIS. Rusia ikut menggunakan alasan Barat yang menggempur ISIS dengan ikut juga mengempur ISIS di Syria. Maka di langit Syria, pesawat-pesawat mutakhir Rusia berseliweran menyerang posisi-posisi ISIS yang selama ini tidak diganggu oleh Barat. Jadilah wilayah Syria menjadi tempat percobaan aneka senjata canggih Rusia dan Barat. Barat pun mati kutu atas aksi cemerlang Rusia. Barat tidak bisa beragumen karena Rusia juga ikut membantu Barat dalam melumpuhkan ISIS. Barat kemudian hanya berpaku tangan melihat jet-jet Rusia menghancurkan ISIS yang selama ini aman tentram di bawah perlindungan Barat. Karena Barat diam membatu dan tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan Rusia, para pejuang ISIS yang ketakutan marah besar kepada Barat. Mereka kemudian menyadarkan Barat lewat serangan mematikan di Paris yang menewaskan 153 orang itu. 

ISIS sendiri telah mengakui bahwa mereka adalah pihak yang bertanggung jawab atas penyerangan di Paris itu. Maka benarlah apa yang dikatakan Assad kepada Barat bahwa jangan memelihara para teroris ISIS. Suatu waktu mereka akan menyerang anda. Kini Perancis telah menderita akibat hantaman ISIS. Akankah Eropa dan Barat berubah haluan dan benar-benar menyerang balik ISIS bentukan mereka sendiri? Itu pasti buah simalakama. Jika mereka akan akan menghancurkan ISIS, maka posisi Assad akan semakin kuat dan otomatis Barat akan gagal menghancurkan Assad. Serangan ISIS di Paris itu adalah pesan kepada Barat untuk memilih dua hal. Pertama, Jika Barat serius membela ISIS untuk menggulingkan Assad, maka Barat harus menyerang Rusia, Iran dan Tiongkok. Kedua, jika tidak, ISIS akan menyerang seluruh Eropa karena terdesak oleh Rusia dan Iran di Syria dan Irak. 

Jika Barat kemudian tidak memilih salah satunya, maka perkembangan di Syria akan semakin mengancam seluruh Eropa dan Amerika Serikat.  Kegagalan Barat dalam memanfaatkan ISIS karena campur tangan Rusia akan membuat peta Israel, Arab Saudi, Iraq dan Syria tergerus dari peta di dunia. Iraq dan Syria akan menjadi negara kecil yang kerdil.  Sementara  itu terbentuklah wilayah luas menjadi bagian dari wilayah konflik tak bertuan Timur Tengah. Wilaya Timur Tengah akan menjelma menjadi pusat-pusat teroris dunia. Kegagalan skenario Barat atas Syria telah membuat Irag dan Syria akan terpecah dan tak dapat disatukan lagi. ISIS-pun akan tetap menjadi pemain utama konflik Timur-Tengah baru plus Al-Qaeda. Ini kemudian akan membuat tragedi kemanusiaan tak terbayangkan. Ha ini juga akan semakin membuat gelombang pengungsi dan migrasi manusia perahu bergerak menuju ke Eropa melalui laut Mediterania menuju ke Italia, Malta, dan Yunani dan membanjiri  Inggris, Perancis dan Jerman. Tentu saja Inggris, Prancis dan Jerman akan menjadi negara-negara pertama yang akan dikuasai oleh elemen Timur Tengah baik budaya, agama dan manusianya. Sesuatu yang tak terpikirkan oleh negara-negara Barat sebelumnya. Jumlah minoritas warga non-Eropa di Prancis dan Inggris telah mengubah peta keamanan dan politik di kedua negara dan menimbulkan permasalahan keamanan. 

Dan jika ISIS semakin terdesak di Syria dan Irag oleh Assad yang dibantu Iran dan Rusia, maka mereka akan menyebar di Eropa Barat untuk menjadi bom waktu di negara-negara itu. Jadi, skenario Eropa dan Amerika  yang pertama, ingin menggulingkan Assad dengan mendukung oposisi Syria melawan Assad, telah gagal. Kedua, Eropa Barat dan Amerika yang turut membidangi lahirnya ISIS untuk menggulingkan Assad juga telah gagal. Ketiga, prediksi bahwa Rusia tidak akan secara nyata mendukung Syria adalah kesalahan besar. Keempat, ISIS yang besar di tangan Barat dan Amerika menjelma menjadi teroris ulung yang mengguncang dunia sekaligus mengguncang Paris. Kelima, skenario Barat telah membuat Eropa Barat dalam masalah baru terkait jutaan pengungsi dan lahirnya bibit teroris baru di negara-negara mereka.   

Salam Kompasiana, 
Asaaro Lahagu

Senin, 16 November 2015

Pesawat tempur Perancis membombardir ibu kota de facto Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Raqa, Suriah, Minggu waktu setempat, sehingga menghancurkan sebuah pos komando dan sebuah kamp pelatihan, kata kementerian pertahananPerancis seperti dikutip AFP.





Dalam serangan udara pertamanya kepadaISIS sejak serangan teror ke Paris yang diklaim dilakukan organisasi teroris ini, 12pesawat tempur termasuk 10 bomber tempur, menjatuhkan 20 bom di beberapa target.

"Target pertama menghancurkan apa yang digunakan Daesh (akronim dalam Bahasa Arab untuk ISIS) sebagai pos komando, pusat rekrutmen aktivis jihad dan depot senjata serta amunisi. Target kedua menghajar sebuah kamp pelatihan teroris," kata kementerian itu.

Minggu, 15 November 2015


Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Massoud Jazzayeri memperingatkan Washington dan Eropa untuk tidak memutar ulang teater 11 September untuk menekan dan menyerang Muslimin dengan menyalahgunakan peristiwa teroris pada Jumat malam di Paris.


Jazzayeri membuat pernyataan itu setelah enam bom sistematis dan penembakan di ibukota Perancis menewaskan 150 orang dan melukai puluhan lainnya. Peristiwa itu juga memicu media-media barat tertentu menyalahkan seluruh Muslimin atas serangan tersebut.

"Masyarakat Perancis membayar harga atas dukungan pemerintah mereka terhadap ISIS dan terorisme Takfiri," kata Jazzayeri, Sabtu, 14/11/15, di Tehran.

Jazzayeri juga memperingatkan AS dan Eropa untuk tidak menyalahgunakan peristiwa Paris itu sebagai dalih untuk menyerang dan menekan negara-negara Muslim seperti apa yang mereka lakukan terhadap Afghanistan dan Irak setelah serangan 9/11 pada tahun 2001 dan 2003.

Menurutnya, Iran telah berulang kali memperingatkan bahwa negara-negara Eropa tertentu yang mendukung kelompok-kelompok teroris akan menjadi bumerang terhadap dukungan mereka satu hari nanti.

Merujuk serangan Takfiri pada Kamis di Beirut yang menewaskan lebih dari 40 orang, Jazzayeri menjelaskan, "Ledakan Paris dan Beirut adalah dua sisi mata uang yang sama, dan masyarakat internasional mengharapkan para pendukung teroris Takfiri, khususnya Amerika Serikat, Perancis dan pemerintah Barat lainnya, menyerah pada pendekatan dan perilaku diskriminatif dan mengadopsi posisi bersama dan bersatu atas kejahatan ini.

Serangan teror Paris pada Jumat malam, (13/11/2015) waktu setempat yang menewaskan ratusan orang di klaim oleh kelompok Takfiri ISIS. Serangan itu serentak terjadi di enam lokasi berbeda di Paris, dan berikut enam lokasi penembakan dan ledakan yang mengguncang Paris, pada Jumat sekitar pukul 21:15 waktu Paris.

1. Klub malam dan gedung konser Bataclan di 50 Boulevard Voltaire, distrik 11 Paris.

Serangan ini disebut yang paling berdarah. Saat kejadian gedung konser ini dipadati 1.500 orang yang hadir untuk konser oleh American Band Eagles of Death Metal. Laki-laki bersenjata berpakaian hitam dengan senjata AK-47 menyerbu ke lorong, mulai menembaki penonton konser dan menyandera 100 orang.

Polisi Perancis kemudian menyerbu tempat dan beberapa laporan AFP mengatakan, empat penyerang tewas di dalam aula. Tiga akibat bom bunuh diri yang mereka kenakan dan satu lainnya ditembak oleh polisi.

2. Stadion nasional State de France, Paris utara.

Saat itu, Hollande dan Menteri Luar Negeri Jerman sedang menonton pertandingan sepak bola persahabatan antara Perancis dan Jerman ketika serangan bunuh diri dan pemboman terjadi di luar. Sedikitnya lima orang tewas dan beberapa orang lainnya terluka parah.

3. Sebuah restoran Jepang di Rue de Charonne.

Delapan belas orang dilaporkan tewas akibat tembakan yang dilepaskan kelompok bersenjata. Seorang saksi mata mengatakan restoran itu menjadi target utama.

4. Sebuah restoran Kamboja, Petit Cambodge, di Rue Bichat.

Tembakan dilepaskan oleh orang bersenjata, dan para pelanggan serta orang yang lewat bergegas untuk berlindung. Seorang gadis muda dilaporkan meninggal di lokasi ini.

5. Casa Nostra pizzeria.

Hanya beberapa ratus meter dari tempat konser Bataclan, sedikitnya lima orang tewas ketika penyerang melepaskan tembakan membabi-buta dari senapan otomatisnya.

6. Boulevard Voltaire, tidak jauh dari museum Louvre.

Di lokasi yang tak jauh dari Bataclan, penyerang memicu rompi bom bunuh diri. [IT/Onh/Ass]

Sabtu, 14 November 2015

Hot News -Kelompok Takfiri ISIS mengklaim bertanggug jawab atas serangan terkoordinasi dan pembom bunuh diri di Paris yang menewaskan sedikitnya 128 orang di sebuah gedung konser, restoran dan stadion olahraga nasional.



Dalam pernyataan yang dikeluarkan secara online pada Sabtu pagi, 14/11/15, ISIS mengatakan delapan bersaudara mengenakan sabuk peledak dan membawa senapan serbu untuk melakukan serangan diberkati terhadap ... Crusader Perancis.

Korban tewas dari 128 tidak termasuk delapan penyerang, pelaku bom bunuh diri pertama yang menyerang di Perancis.

Serangan itu juga menewaskan sedikitnya melukai 250 orang, 100 dari mereka serius.

ISIS mengaku telah mengirimkan para petempur dengan mengenakan rompi bom bunuh diri dan membawa senapan mesin AKA47 ke berbagai lokasi di jantung ibu kota Perancis itu. [IT/Onh/Ass]

Jumat, 13 November 2015

Tragedi penembakan dan ledakan terjadi di Paris, Prancis, Jumat malam, 13 November 2015, waktu setempat. Dilaporkan, ratusan orang tewas dalam insiden yang terjadi di dekat pusat kesenian Bataclan.

Lokasi kejadian tepatnya di Stadium State de France, Gedung Konser Bataclan, Rue Bichat, Av. de la Republique, Bd. Voltaire, Rue Charonne, Bld Beaumarchais.

Para petugas medis membawa korban penembakan di Paris, Prancis.

Berikut kronologi insiden tersebut, seperti dikutip dari laman Telegraph, Sabtu 14 November 2015.

21:09

Seorang pria tak dikenal melakukan tembakan di sebuah restoran dan menyebabkan sejumlah oang tewas dan luka-luka. Diketahui pelaku menggunakan senapan Kalashbikov. Polisi mulai melakukan penjagaan.

21:42

Polisi gabungan melaporkan korban tewas sebanyak 20 orang, tetapi tidak diketahui apakah serangan masih berlanjut atau tidak. Ada dua ledakan bom bunuh diri di luar stadium utama State de France, di mana tim sepakbola Prancis sedang bertanding melawan tim Jerman, beberapa orang ditemukan tewas.

21:48

Saksi mata mengatakan, orang-orang bersenjata menyandera belasan orang di gedung konser Bataclan (serangan tembakan kedua). Gedung konser berdekatan dengan kantor Charlie Hebdo, yang dulu pernah diserang oleh kelompok militan.

22.29

Seorang pria bersenjata berteriak, “Ini untuk Suriah, Allahu akbar.”

23:02

Presiden Hollande mengumumkan melalui televisi dan radio bahwa keadaan darurat untuk Prancis akan segera dideklarasikan. “Prancis harus kuat melawan terorisme. (baca: Karma Eropa untuk Suriah) Penyerang berada di Paris, ini mengkhawatirkan. Kami mengerahkan seluruh tenaga keamanan, pertemuan Kabinet akan dilakukan, militer sudah dikerahkan,” kata Presiden Hollande.

23:35

“Tiga orang bersenjata dan mengenakan jaket antipeluru mulai melakukan penembakan di tengah-tengah konser di gedung Bataclan. Ada sekitar 1.000 orang di sana, saya melihat seorang gadis tertembak tepat di depan saya,” kata seorang saksi yang berhasil melarikan diri.

23:55

Dua pelaku dilaporkan tewas oleh perlawanan polisi gabungan di Bataclan.

00:35

140 korban dinyatakan tewas. Lebih dari 100 korban tewas atas penembakan di Bataclan dan 40 lainnya di lokasi berbeda di sekitar Prancis. Tiga pelaku berhasil ditembak oleh polisi di lokasi kejadian. (ARN/MM)

Sumber: Viva

News - Media Prancis melaporkan sekitar 60 orang tewas  dalam peristiwa penyanderaan, penembakan dan serangan bom di sebuah gedung konser di Paris yang berlansung pada Jumat malam waktu setempat atau Sabtu pagi (14/11/2016), waktu Indonesia.
Serangan ini berlangsung satu bulan sebelum pertemuan perubahan iklim dunia yang bakal dihadiri oleh para pemimpin dunia di Paris.
Otoritas keamanan setempat menduga serangan itu didalangi oleh kelompok militan, seiring juga dengan peningkatan serangan udara terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Suriah.
Dua ledakan juga terdengar di stadion Stade de France dimana sedang digelar pertandingan antara Prancis dan Jerman.
Presiden Prancis Francois Hollande dilaporkan juga sedang menonton pertandingan itu di stadion saat ledakan berlangsung.
Seperti dilansir Reuters, juga dilaporkan ada empat penembakan di pusat kota Paris, yang juga belakangan berubah ke situasi penyandareaan di lokasi yag kerap jadi tempat pertunjukan musik rock.
TF1 melaporkan ada 35 orang yang tewas di dekat stadion(baca: Karma Eropa untuk Suriah) , termasuk dua orang yang diduga pelaku bom bunuh diri di Saint Denis, di pusat kota Paris.(suara. Com) 

Terbaru

Seri Kekejaman ISIS

Video

Mengenang Kembali Bom Teroris Wahabi Saat Peringatan Maulid Nabi


VIDEO Terbaru

Random Post

pks