Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2016


Oleh: Professor Sumanto Al Qurtuby **

Sering saya melihat tulisan yang beredar luas di dumay tentang sosok Koh Ahok dan Kaji Lulung yang kira2 begini bunyinya: “Seburuk-buruk Lulung dia itu Muslim dan sebaik-baik Ahok dia itu kafir [Kristen - red] . Muslim walaupun buruk masih bisa masuk surga, kafir walau baik tetap kekal di neraka.” Inilah salah satu contoh orang yang “gagal njegal” membaca teks2 keagamaan.

Kalau memang semua Muslim itu masuk surga, kenapa kalian bersemangat mengafir-sesatkan saudara2 Muslim sendiri? Kenapa pula kalian dengan suka-rela dan kejinya mengumpat, mengutuk, dan mengfitnah saudara2 Muslim sendiri? Kenapa pula kalian begitu heroiknya mengusir saudara2 Muslim sendiri? Kenapa pula kalian dengan beringasnya ngamuk2 dan merusak properti milik saudara2 Muslim sendiri? Kenapa pula bahkan kalian rela berbuat kekerasan dan membunuh sesama Muslim?

Lalu, Islam seperti apakah yang kalian maksud? Muslim seperti apakah yang akan masuk surga? Betapa murah dan “murahannya” surga itu, jika hanya dengan “tiket Islam” bisa memasukinya. Bukan islam, melainkan kualitas keislaman yang membuat orang masuk surga itu. Bukan agama, melainkan kualitas keagamaan, yang mengantarkan orang ke surga. Saya percaya, surga itu (jika memang ada) bukan disediakan untuk agama ini dan itu, untuk etnis ini dan itu. Tetapi untuk umat manusia yang memiliki “kualitas kemanusiaan” apapun agama dan etnis mereka.


Apalah artinya kalian mengaku-aku sebagai umat beragama jika perilaku kalian seperti orang2 tak beragama. Lebih baik umat non-agama tetapi hati dan perilakunya seperti “malaikat” ketimbang umat beragama tetapi hati dan perilakunya laksana setan yang gentayangan. Alih2 menuduh Ahok tak bakal masuk surga, bisa2 justru kalian sendiri yang nyemplung ke neraka…

  **Professor Sumanto Al Qurtuby adalah dosen di King Fahd University of Petroleum & Minerals Jurusan Anthropology Arab Saudi dari 2014 sampai Sekarang 

Tag : #Ahok Kafir, #Kaji Lulung 

Rabu, 27 Januari 2016




PESAN MODERAT

Oleh: Ahmed Zain Oul Mottaqin 

Presiden RI Jokowi adalah seorang muslim, para pendukungnya disini multi agama baik Muslim (Sunni-Syi'ah), Kristen, Budha, Hindu, Konghucu dll.

Pemimpin besar Iran Sayyid Ali Khamenei adalah seorang muslim, mayoritas mutlak para pendukungnya di Iran adalah mayoritas mutlak kaum Syi'ah, Kristen bahkan Sunni.

Sekjen Hizbullah Sayyid Hasan Nasrullah adalah seorang muslim, pendukung fanatik gerakannya di Lebanon tidak hanya kaum Syi'ah, tapi juga Kristen dan Sunni.

Presiden Suriah Bashar al Assad adalah seorang muslim, pendukungnya adalah mayoritas rakyat Suriah yang majemuk Sunni, Syi'ah, Kristen, Druze dll. (lihat hasil pemilu Suriah Juni 2014)

Tahukah anda kesamaan para pemimpin diatas ?

Mereka semua adalah sosok yang dibenci habis-habisan kaum radikal, takfiri dan intoleran. 

Dan percayalah, pemimpin manapun yang masih memegang asas moderat dan mengayomi pluralitas/kemajemukan bangsanya akan menjadi objek kebencian kaum ini.

Karena apa?

Pada dasarnya orang-orang radikal ini merasa membela Islam, tapi tidak sadar sedang membenci Islam dengan menghina para pemimpin muslim yang moderat dan mempraktekkan sebenar-benarnya Islam yang Rahmatan lil 'Alamin.

Justru waspadalah terhadap pemimpin muslim yang hanya mendapat dukungan dari golongannya sendiri dan dijauhi kaum non-muslim. Sudahkah ia mempraktekkan ajaran agamanya yang 'al Hanifiyyah as Samhah'?

Pemimpin muslim sejati bukanlah pemimpin eksklusif yang hanya mendapat dukungan dari golongannya sendiri, tapi ia juga harus mendapat dukungan dari rakyatnya yang multi-agama, baik itu muslim maupun non-muslim. 

Maka sekali lagi waspadalah terhadap pemimpin muslim yang hanya mendapat dukungan dari golongan, ormas atau partainya sendiri. Itu artinya kaum non-muslim tidak merasakan hangatnya Islam yang ia bawa.

Dan siapapun yang menganggap bahwa Islam hanya membawa Rahmat kepada Muslim, maka sungguh ia tidak memahami agama yang dibawa Muhammad sang Nabi cinta.

Jumat, 02 Oktober 2015

Nampaknya keberhasilan Iran dalam Tehnologi ruang angkasa telah menginspirasi fakultas Astronomi ITB sehingga memasukkan artikel menarik tersebut dalam laman blog nya.


Kepala Badan Antariksa Iran (ISA) mengatakan, NASA telah mengakui keberhasilan Iran yang telah mengirim bio-kapsul onboard bersama monyet hidup ke ruang angkasa. Demikian Press TV melaporkan.

Hamid Fazeli dalam sebuah pernyataan di Tehran mengatakan, para ahli di US National Aeronautics and Space Administration (NASA) telah mengkonfirmasi peluncuran tersebut dan mengatakan tidak ada keraguan tentang kegiatan ruang angkasa Republik Islam Iran.

"Lembaga asing yang kredibel yang selama ini memantau secara reguler program ruang angkasa dari 10 negara sampai tahun 2012, mengumumkan bahwa lima negara telah bergabung dengan 10 negara tersebut dan salah satunya adalah Iran," katanya.

Pada tanggal 28 Januari lalu, negara itu mengatakan telah berhasil menerbangkan seekor monyet ke ruang angkasa. Primata ini diluncurkan dengan roket Pishgam dengan ketinggian 120 km ke sub-orbit sebelum kembali dengan selamat ke bumi, kata kementerian pertahanan Iran.

Televisi pemerintah Iran waktu itu menayangkan monyet yang diikat dan diterbangkan dengan roket.

Kementerian pertahanan lebih lanjut menyatakan peluncuran roket itu bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Pada tahun 2010, Iran berhasil menerbangkan tikus, kura-kura, dan cacing ke ruang angkasa.

Sebelumnya, pada 2010 lalu, presiden Mahmoud Ahmadinejad mengumumkan negara itu merencanakan untuk mengirimkan awak ke ruang angkasa pada tahun 2019.

"Peluncuran roket ini merupakan langkah pertama ke arah persiapan mengirimkan manusia ke ruang angkasa," kata Menteri Pertahanan Ahmad Vahidi kepada Fars News Agency.

Seperti dilaporkan, teknologi luar angkasa Iran berkembang sangat pesat. Sebelumnya Iran telah meluncurkan satelit buatan lokal yang diberi nama "Fajar" ke orbit. Iran juga meluncurkan satelit pertama hasil produk dalam negeri, Omid (Harapan), ke orbit pada 2009.

Pada waktu itu, satelit pengolahan data Omid dirancang untuk mengorbit bumi sebanyak 15 kali setiap 24 jam dan mengirimkan data melalui dua band frekuensi dan delapan antena untuk stasiun ruang angkasa Iran.

Iran adalah salah satu dari 24 anggota pendiri Komite PBB urusan Penggunaan Antariksa secara Damai, yang didirikan pada 1959. [Fak.Astronomi. ITB]

Tag: #Tehnologi Ruang Angkasa, #Satelit Iran, #Fakultas Astronomi ITB

Terbaru

Seri Kekejaman ISIS

Video

Mengenang Kembali Bom Teroris Wahabi Saat Peringatan Maulid Nabi


VIDEO Terbaru

Random Post

pks