Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2016


Ini adalah tulisan santri NU yang bernama Muhammad Sholeh asal Lampung, murid dari Kyai NU yang bernama KH Masdar Farid Masudi yang sekarang menjabat sebagai Rois Syuriah PBNU. Yang disampaikan nya pada saat hari Santri Nasional.

Ini tentang nama panggilan Gubernur DKI Jakarta,  Basuki
Tjahaya Purnama alias Ahok”, yang Bahasa Arabnya adalah Akhok, saya dengar nama ini sejak saya kecil ngaji di pesantren, ketika membaca hadits Nabi “unsur akhok dholiman wa mazluman”. Jadi Ahok itu bukan Bahasa Cina tapi Bahasa Arab.

Ini Hari Santri, semua santri tahu apa arti “akhok”. Akhok artinya “saudaramu”. Jadi saya tadi nyebrang
laut dari Lampung ke sini untuk mengamalkan hadits Nabi, “unsurakhokdholimanwamazluman” tolonglah ahok (saudaramu) itu, baik kalau dia berbuat dzolim maupun dia di dzolimin.

Maksudnya :
Menolong saudara kita yang didzolimi dengan membantu dan membelanya, sedangkan “menolong” saudara kita yang berbuat dzolim dengan cara mencegahnya agar tidak berbuat dzolim.

Mungkin Pak Ahok baru tahu juga kalau “akhok”itu Bahasa Arab yang artinya "saudaramu".

Yang saya hormati, Guru saya, Bapak KH.Masdar Farid Masudi, Rois Syuriah PBNU, juga Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia, para alim-ulama, para ustadz para ustadzah, hadirin-hadirot yang dimuliakan Allah.

Terenyuh sekali hati Saya mendengar Bapak Gubernur tadi bercerita tentang sumbangsih beliau terhadap umat Islam di Jakarta, mulai dari pembangunan masjid, beasiswa untuk santri-santri madrasah, umrohkan ratusan Marbot (pengurus masjid) dan lain-lainnya. Saya mengukur kebenarannya dengan akal sehat saya, dengan firman-firman Allah dan sabda-sabda Nabi, engga ada yang salah sama sekali, hanya belum dapat hidayah saja barangkali, menurut kita yaa.. menurut kita.

Kita umat Islam, umat Nabi Muhammad Saw, di mana saja harus terus menciptakan suasana
tawashaw bil haqqi saling memberi nasehat untuk melaksanakan kebenaran; wa tawashaw bis-shabri saling memberi nasehat untuk tetap bersabar.

Dan terakhir wa tawashaw bil marhamah saling nasehat-menasehati untuk menebarkan kasih sayang, jangan benci membenci.

Hadirin sekalian,
Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), musuh kita sebagai orang Islam bukan non muslim.

Menurut agama yang kita anut, musuh kita yang utama adalah orang-orang yang dzolim, dalam ayat Al-Quran disebutkan: " wa laa ‘udwana illa ala dzolimin" tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang yang dzolim. Sedangkan kedzoliman itu bukan milik orang non muslim saja, orang Islam juga ada yang tidak adil, alias dzolim.

Kalau ada orang Islam dzolim, maka akan jadi musuh semua orang, demikian juga kalau ada non-muslim yang dzolim juga akan jadi musuh semua orang. Sepakat??

Penulis: Muhammad Sholeh
Editor: Van Harry

Minggu, 02 Oktober 2016

Wahabi akan selalu menjadikan umat Islam sebagai musuhnya 

Target Wahabi sebenarnya dan paling utama bukanlah syiah, akan tetapi adalah NU atau Ahlusunnah secara  keseluruhannya. Indonesia tanpa NU akan mudah sekali mereka kuasai, maka dari itu warga NU sengaja dibuat agar tidak percaya bahkan memusuhi NU itu sendiri.

Pertama kali mereka mencuatkan issu ; shufi itu sesat, identik dengan syiah dan syiah bukan islam. Kita tahu di NU terdapat pelindung para pelaku tarekat yang pada representasi nya adalah Tasawuf. Terakhir suntikan racun ideologi mereka ditambah dosisnya dengan perkataan mereka yaitu aswaja ahli bid'ah pembuat ajaran baru yang bukan dari islam yang sesungguhnya. Perkataan ini akan bersayap bahwa aswaja atau nu keluar dari islam dan halal darahnya.

Jika seandainya NU sepakat bahwa syiah adalah ajaran yang menyimpang dari ajaran yang mereka terima selama ini, tidak berarti mereka harus memusuhi syi'ah dengan cara melempar kotoran kepadanya, dan andai mereka bertoleransi dengan perbedaan itu, tak perlu juga dengan cara bertasyayyu' sehingga seakan akan NU dan syi'ah adalah sama.

Kita telah terajari sekian ratus tahun akan hak utama dan pertama dalam masalah keyakinan. Untuk itu tak perlu Nahdliyyin membenci syiah sampai menggelapkan pandangan.

Wahai saudaraku, belajarlah dengan berbagai kejadian di Timur Tengah sana, kalian adalah orang orang yang terlahir dari rahim para ibu yang bijaksana, bacalah tentang Ihwal peperangan di Suriah sana :

Pada 2009, Qatar mengajukan proposal agar Assad melegalkan jalur pipa gas alamnya melintasi Suriah dan Turki untuk menuju Eropa. Bashar al Assad menolak proposal ini dan pada 2011 ia justru menjalin kerjasama dengan Iraq dan Iran untuk membangun jalur pipa ke Timur. Qatar, Saudi dan Turki adalah pihak yang paling sakit hati dan dirugikan oleh keputusan ini. Khayalan mereka untuk mendapat pemasukan Milyaran dollar dari ekspor Migas buyar seketika. Apa kalian terkejut jika hari ini Saudi, Qatar dan Turki menjadi negara-negara yang paling getol mensponsori dan mempersenjatai para teroris yang hendak menggulingkan Assad.

Penulis: Gus Zainal 
Editor: Ali Mahdi 

Sabtu, 16 April 2016


Propaganda Syiah Bukan Islam beberapa tahun terakhir didengungkan kelompok wahabi membuat Habib Luthfi bin Yahya, Pekalongan, pegel (kesal) karena sudah keterlaluan. Mereka yang mempropagandakan Syiah kafir rata-rata anti maulid.

Dalam video nya Habib Lutfi mengatakan :


"Ada kelompok tertentu oknumnya benci kepada sahabat, itu diperbesar. Tapi yang anti maulud lebih besar bahaya nya daripada anti sahabat, kita diamkan? Kebalik tidak? Anti maulud berarti mengingkari maulidin nabi, mengingkari nubuwah, mengingkari risalah. Ojo main-main. "

Peringatan keras ini harus didengarkan oleh kelompok pemecah belah keutuhan NKRI dan anti NU. Mereka pembuat rusuh kerukunan beragama dan keagamaan di Nusantara. Pemecah belah, pembentur dzurriyah Nabi salah satunya kelompok ideologis ektrem penganut Muhammad bin Abdul Wahab atau wahabi. Dan, pemecah belah NU salah satunya Gerombolan Garis Lurus (GGL). 

Kamis, 17 Maret 2016



Ratusan massa dari Forum Pecinta Tahlil dan Budaya menggelar aksi damai di Kantor Bupati Bantul dan Dinas Sosial Bantul menyikapi penyebaran buku wahabi yang menyinggung amalan Tahlilan NU oleh Dinsos Bantul.

Ratusan Massa Demo Dinsos Bantul Terkait Buku Wahabi Yang Resahkan NU

Ratusan massa dari Forum Pecinta Tahlil dan Budaya menggelar aksi damai di Kantor Bupati Bantul dan Dinas Sosial Bantul menyikapi penyebaran buku yang menyinggung amalan NU oleh Dinsos Bantul.

Aksi damai tersebut dimulai di depan Kantor Bupati Bantul, membawa spanduk dan berorasi mereka menyampaikan aspirasi mereka kepada Bupati Bantul.

Tuntutan mereka diantaranya meminta permohonan maaf Dinsos Bantul atas peredaran buku 'Sunnah-Sunnah Setelah Kematian' kepada Kaum Rois di Bantul, meminta penarikan buku tersebut, mengembalikan dana pembelian buku ke kas negara, mutasi atau pecat pejabat yang bertanggungjawab pada penyebaran buku tersebut, serta menuntut dibersihkannya Dinsos dari oknum yang meresahkan umat.

"Ini peringatan bagi pemda untuk hati-hati dalam membuat kebijakan khususnya yany menyangkut ideologi umat beragama," kata Ketua PC PMII Yogyakarta, Faizi Zain dalam orasinya.


Aksi yang dilanjutkan di Kantor Dinsos Bantul ini sempat memanas saat pejabat Dinsos yang dianggap bertanggungjawab pada kasus ini yaitu Sudadi terlihat, massa sempat ingin mengejar namun Sudadi berhasil dibawa pergi menggunakan mobil polisi.

Untuk meredalan ketegangan, kini aksi massa melakukan tahlilan bersama di aula Pemkab II Manding. [tribunjogja]

Minggu, 14 Februari 2016



Perwakilan pengurus Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi PBNU) beserta rombongan dari Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka) datang untuk menghadiri acara Kajian Islam bertema “Pemurtadan Terselubung di Balik Gerakan Jaringan Islam Nusantara” yang digelar di Masjid Al-Mujahidin Jl. Anggrek Nelimurni VII Blok A Slipi Jakarta Barat, Ahad (14/2).

Acara yang diselenggarakan oleh Panitia Kajian Salafy Jakarta ini dihadiri Ustadz Lukman bin Muhammad Ba'abduh selaku pembicara tunggal. Sebagaimana tertera dalam panflet publikasi yang tersebar sebelumnya, tema pengajian tersebut terbilang cukup provokatif dan berisi tuduhan bahwa gerakan Islam Nusantara merupakan ancaman bagi umat Islam di Indonesia.

"Islam Nusantara itu bukan madzab atau aliran baru yang perlu dicurigai macam-macam. Islam Nusantara adalah bentuk sikap kita yang hidup di Nusantara untuk menjalankan keyakinan beragama kita, tanpa harus kita tercerabut dari akar kebudayaan lokal kita", ungkap Abdulloh Wong, salah satu wakil sekretaris Lesbumi PBNU.

Senada dengan Wong, Eko Ahmadi, pengasuh Pondok Pesantren Darul Mukhtazin, Tegal dan ketua Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka) Jawa Tengah juga mengungkapkan bahwa acara pengajian semacam ini cenderung dapat memecah belah ummat Islam sendiri dan menyampaikan tuduhan yang bisa mengakibatkan sikap permusuhan.

Selebaran pengajian Provokatif yang disebar oleh kelompok wahabi untuk memfitnah Islam Nusantara 

"Umat Islam harus mendapatkan informasi berimbang tentang apa itu Islam Nusantara, bukan melalui cara2 agitasi dan menyampaikan kebencian seperti ini", kata Gus Eko, panggilan akrab Eko Ahmadi yang juga pengurus Departemen Seni dan Budaya Lesbumi PBNU.

Dengan berpakaian serba hitam, sejumlah limabelas orang dari Padasuka dan Lesbumi PBNU pun akhirnya hadir di Masjid Al-Mujahidin, Slipi dan langsung berbaur dengan ratusan jamaah yang sudah memadati tempat tersebut. Tak pelak, kedatangan mereka pun langsung menyita perhatian pengunjung lain yang hadir di masjid tersebut dan serta merta merubah atmosfir acara. Ustadz Lukman yang tengah berbicara pun akhirnya menyudahi ceramahnya dan forum itu pun akhirnya bubar.

"Kami hanya ingin mendengar apa yang dipahami saudara2 ini tentang Islam Nusantara. Jika memungkinkan mari kita berdialog secara terbuka, biar tak muncul fitnah", kata Gus Eko seusai acara.

"Saya sempat bilang sama panitia untuk bicara langsung kepada Ustadz Lukman. Dan saya pun mendatanginya untuk maksud bertabayyun, mengajaknya berbicara. Tapi sayangnya dia menghindar dengan alasan ada acara lain", lanjutnya.

Sebagaimana dituturkan Abdullah Wong, Gus Eko terlihat mengejar ustadz Lukman hingga ke pinggir jalan setelah tiba2 acara itu bubar. Namun demikian penceramah Salafi tersebut menolak menemuinya dan langsung pergi dengan mobilnya.

"Nggak apa-apa, setidaknya kita sudah berniat baik untuk mengedepankan dialog. Kita juga sudah mendapatkan rekaman ceramah dan panflet yang dibagikan kepada jamaah yang hadhir pada kesempatan tersebut. Saya berharap tidal ada provokasi2 yang dapat memecah belah kita, baik sebagai umat Islam maupun entitas bangsa yang memiliki akar sejarah kebudayaan dan peradaban yang besar", ujar Gus Eko.

Panitia dan Ustadz Luqman sendiri tidak memberi keterangan resmi tentang mengapa acara itu tiba-tiba bubar setelah rombongan Lesbumi PBNU dan Padasuka tiba di lokasi. Lesbumi PBNU memberi kesempatan kepada panitia dan ustadz Luqman untuk tabayyun dan berdiskusi lebih jauh tentang Islam Nusantara di Kantor PBNU Jalan Kramat Raya No 164 Jakarta. [NU Online ]

Senin, 25 Januari 2016



Milyaran Dollar dana Wahabi mengalir ke Indonesia untuk hancurkan NU dan Syi’ah !! Gerakan anti Iran juga dilakukan di berbagai negara lain

Hamzah al-Hasan, aktivis Saudi mengungkap kenakalan Riyadh terhadap Tehran dengan membuka kantor-kantor perwakilan untuk kelompok oposisi Republik Islam di Kairo, Mesir

Fars News (15/2) melaporkan, Hamzah menilai undangan Riyadh kepada tokoh-tokoh anti-Iran yang tinggal di luar negeri dalam sebuah festival warisan budaya Arab Saudi sebagai langkah pendahuluan agar pihak-pihak lain juga melakukan hal yang sama.


Rezim al-Saud juga tengah mengupayakan sanksi terhadap Republik Islam Iran khususnya di sektor minyak dan menurut Hamzah, “Tampaknya Arab Saudi sangat mengkhawatirkan peningkatan popularitas Iran dan sambutan masyarakat r9786027689800egional terhadap perspektif revolusi Iran dan mereka beranggapan dengan mendukung kelompok oposisi, mereka dapat melemahkan posisi Republik Islam, akan tetapi mereka tidak sadar bahwa langkah-langkah tersebut justru sangat membayahakan Saudi.”

Aktivis Saudi itu kemudian menyinggung perluasan aksi demo dan protes warga di Timur Arab Saudi serta menujukan pernyataannya kepada para pemimpin negara ini dengan mengatakan, “Berhati-hatilah dengan dinding kaca rumah kalian, jangan kalian melempar batu ke arah dinding rumah pihak lain, karena sekali saja batu terlempar ke arah kalian, maka tidak akan tersisa rumah kalian.”

Menyinggung watak esktrim para pejabat Arab Saudi yang berusaha mencari gara-gara dengan Iran, Hamzah mengatakan, “Meski semua pejabat al-Saud berwatak ekstrim, akan tetapi sebagian mereka lebih ekstrim dan menuntut konfrontasi politik, ekonomi, dan bahkan keamanan dengan Iran, dan menurut saya dukungan terhadap kelompok-kelompok anti-Republik Islam hanya salah satu dari langkah mereka.”

Hamzah juga mengungkap pembukaan kantor perwakilan kelompok anti-Republik Islam di Kairo, Mesir, dengan dukungan finansial dari Arab Saudi dan mengatakan, “Dukungan dana Riyadh kepada kelompok oposisi anti-Republik Islam sebenarnya bukan masalah baru karena sudah sejak lama rezim Saudi mendukung aktivitas kelompok-kelompok oposisi anti-Republik Islam di Iran.”

Kemenangan Revolusi Islami Iran pada tahun 1979 menarik perhatian masyarakat dunia dan menunjukkan kepada mereka bagaimana Iran yang dengan tangan kosong dapat memenangkan revolusi berdarah. Dengan menangnya revolusi itu, Al-Qur’an dan sunah Rasul serta Ahlul Baitnya berhasil dijadikan pondasi utama undang-undang negeri ini.

Revolusi agung Iran mendorong para cendikiawan dunia untuk semakin mengenal Iran lebih jauh, khususnya tentang mazhab Syiah; mereka semakin ingin menyentuh fakta yang ada dengan jiwa dan raga mereka. Mazhab Syiah adalah mazhab pecinta Ahlul Bait yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an, begitu pula pujian-pujian serta hak-haknya yang istimewa.

Fenomena ini begitu menakutkan bagi Barat dan musuh utama Islam, yaitu Israel. Mereka khawatir Iran dapat memberi pengaruh bagi negara-ngera lain yang mana hal itu pasti membahayakan kepentingan mereka. Oleh karena itu mereka berusaha menciptakan “kelompok-kelompok minoritas agama” yang sebelumnya sama sekali tidak ada, dengan tujuan terciptanya perpecahan dan ikhtilaf di antara umat Islam. Sehingga dengan demikian mazhab Ahlul Bait menemukan kendala dalam menyebarkan pemikirannya.


Di antara kelompok-kelompok minoritas yang ada, adalah kelompok Wahabi. Kelompok ini lebih menonjol ketimbang yang lainnya karena selalu difasilitasi secara luar biasa baik dari segi finansial maupun dukungan lainnya. Yang jelas, tak lama setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, dengan gencar Wahabi menulis buku, menyiarkan program-program televisi, radio, dan lain sebagainya, yang berisikan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap mazhab Syiah; dengan tujuan menciptakan citra bahwa Syiah tidak rasional dan perlu dijauhi oleh kita semua.

Dalam sejarah mazhab-mazhab tidak ada yang melebihi Wahabi dalam hal dukungan finansial yang mereka dapat. Hanya sebuah buku yang berjudul Asy -Syiah va At-Tashih (buku yang mengkritik Syiah) ini saja dicetak sebanyak delapan juta eksemplar di kota Khartoum, ibukota Sudan, dan dua juta eksemplar di kota-kota lain negeri itu lantaran banyak penduduk Sudan yang tertarik dengan mazhab Ahlul Bait.

Banyak yang mengamati fenomena ini dan sampai ada yang menyatakan bahwa ada sekitar 40.000 website yang menyerukan pertentangannya terhadap Syiah. Ada kurang lebih 10.000 judul buku yang ditulis untuk mencela mazhab ini. Namun, anehnya usaha mereka semakin membuat banyak orang bertanya-tanya penasaran, memangnya ada apa dengan mazhab itu? Akhirnya mereka malah mencari tahu dan berusaha menyaksikan dengan mata kepala sendiri seperti apakah Syiah yang dipojokkan itu?

Banyak sekali para pencari kebenaran yang berdatangan ke Iran dan berhubungan langsung dengan para ulama setempat. Lalu mereka menyadari bahwa segala yang pernah ia dengar sebelumnya hanyalah omong kosong. Akhirnya mereka justru memeluk mazab ini. Sebagaimana firman Allah Swt yang berbunyi:

“…dan mereka memeluk agama Allah secara berkelompok-berkelompok.”

Dengan demikian tanpa ada upaya serta langkah apapun dari pihak ulama Syiah, dengan sendirinya banyak sekali dan bahkan terus bertambah orang yang berminat untuk mempelajari mazhab ini; sebagaimana halnya yang kita saksikan di Mesir, Jordania, dan tanah Arab lainnya. Tak hanya di Arab saja! Bahkan Amerika dan Eropa juga mulai mengikuti arus yang ada.

Sungguh menajubkan sekali, sejarah telah terulang. Vatikan juga pernah melakukan usaha yang sama demi merusak citra Islam sehingga muncul Islamophobia. Namun ternyata hasil yang didapat terbalik, justru gencar gerakan pro Islam kita saksikan akhir-akhir ini di Amerika dan Eropa. Dengan izin Allah, Eropa yang kini mayoritas beragama Kristen kelak akan memeluk Islam, Insya Allah.

Wahabi, yang lebih tepatnya Wahabiah adalah aliran yang muncul pada abad ke 8 yang disebarkan dan dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Tujuannya adalah menciptakan perpecahan antar umat Islam. Mereka mengkafirkan semua orang selain penganut alirannya sendiri.[Ahmad Sumanto. Wordpress]

Tag: #Wahabi kacaukan Indonesia

Kamis, 07 Januari 2016

Oleh : Wan al Vidha

APA KATA GUS DUR TENTANG SAUDI :
DINASTI SAUDI KETURUNAN NABI PALSU MUSAILAMAH AL-KADZAB !!!


"Kaum Wahabi menjadi keras dan merasa benar sendiri, tak lain karena pengaruh kerja samanya dengan Dinasti Saudi. Saudi ini mengidap rasa rendah diri. Kenapa? Karena mereka keturunan Musailamah al-Kadzab."

Demikian disampaikan Mantan Ketua PBNU itu pada diskusi buku karya Stephen Sulaiman Schwartz berjudul Dua Wajah Islam: Moderatisme Vs Fundamentalisme dalam Wacana Global, di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina Jl. Gatot Subroto, Kav. 96-97, Mampang Prapatan Jakarta Selatan, Rabu, (31/10/2007) malam.

Buku ini berjudul asli The Two Faces of Islam: The House of Sa’ud from Tradition to Terror (2002) yang diterjemahkan dan diterbitkan kembali oleh the WAHID Institute pada September, 2007.

Pada jaman Nabi Muhammad SAW, Musailamah al-Kadzab (Sang Penipu) pernah mengaku menjadi nabi. Dia dulu tinggal di Yalamlam, daerah antara Jedah dan Yaman. Dan, kata Gus Dur, Dinasti Saudi dulu menamai istananya dengan Istana Yalamlam.
"Ketika Faishal menjadi raja, nama itu diubah menjadi Istana Riyadh. Soal ini kita harus tahu persis sejarahnya, biar kita tidak berat sebelah", pinta Gus Dur.

"Jadi, sikap rendah diri itu lalu ditutupi dengan sikap seolah paling benar sendiri. Wahabi dijadikan alat untuk menutupi masa lalu Dinasti Saud saja," tegas Gus Dur.

Baca juga :

FALLACY AKUT FANS REZIM SAUDIOleh : Ahmed Zain Oul Mottaqin  FALLACY AKUT FANS REZIM SAUDI Gw [saya] copaskan dialog "ringan tapi barokah" gw 2 jam yang lalu di inbox: (dengan sedikit perbaikan ejaan) -SENSOR-:  Hei kafir, kalo lu benci Saudi … 

Selasa, 05 Januari 2016

Oleh : Mas Azis Anwar Fachrudin

Pagi ini di beranda saya ‘methungul’ link klarifikasi NUGL terkait berita hoax eksekusi penyair Irak bernama Ahmad Nu’aimi dua hari lalu [klarifikasi NUGL] . Saya baca, lalu saya buka tautan-tautan yang disediakan di klarifikasi itu. Dan karena saya menemukan beberapa hal yang agak ‘nganu’ di dalamnya, maka perlu kiranya saya sampaikan tiga hal berikut.


Pertama, link-link yang di-share di klarifikasi itulah antara lain berita hoax di situs-situs Arab yang dibantah oleh ketua persatuan penulis dan sastrawan Irak sebagaimana saya sebut di postingan sebelum ini. Saya mulanya mengira bahwa NUGL akan menyediakan link yang membantah balik, tapi NUGL malah memberi link-link berisi hoax-nya itu sendiri. Ibaratnya, NUGL memberitakan A yang lalu dibantah berita B, tapi bukannya kemudian memberi berita lain yang membantah B, NUGL malah menyodorkan kembali berita A. Dan, tak kalah penting, satu di antara link-link yang disodorkan NUGL meskipun gambarnya salah (yakni ini http://www.iraqpressagency.com/?p=177570&lang=ar) justru berisi keterangan soal bantahan dari persatuan penulis Irak. Artinya, NUGL menyodorkan link yang mengafirmasi ke-hoax-an berita yang disebarkannya sendiri. (Ini agak konyol)

Kedua, klarifikasi NUGL memberi link ke youtube yang berisi syair Ahmad Nu’aimi itu dengan ditambahi keterangan “sudah ditonton lebih dari 500 ribu pemirsa” (linknya ini: https://www.youtube.com/watch?v=s6wYShV-cGw). Saya buka link youtube-nya, dan syairnya ternyata sama dalam soal judul tapi isinya 100% tidak sama dengan isi syair di berita hoax yang di-share NUGL. Setelah saya cari sendiri, syair asli dari Ahmad Nu’aimi yang disuarakan di link youtube itu adalah ini (https://web.facebook.com/Syrian.Revolution/posts/10153050040575727). Syair yang di youtube ini adalah syair ratapan (istilah teknis dalam sastra Arab: syair "ratsa") yang isinya justru mengutuk-utuki bangsa Irak sendiri, termasuk meratapi diri penyair sendiri karena banyak baitnya yang pakai kata ganti “kita” (nahnu dan dhamir "-na"). Maka, dengan men-share link itu, NUGL justru sedang menambahi info bahwa penisbahan syairnya adalah salah. Dengan kata lain, NUGL melempar bumerang untuk dirinya sendiri. Kekeliruan NUGL kini bertambah jadi dua: salah atribusi gambar plus salah atribusi syair. (Ini mulai konyol)

Ketiga, demi membuktikan bahwa figur Ahmad Nuaimi bukan fiktif, NUGL memberi link akun FB Ahmad Nuaimi itu, ditambahi keterangan “mempunyai lebih dari 1000 penggemar" (yakni ini:https://facebook.com/الشاعر-احمد-النعيمي-376463835811677/ ). Saya buka, dan setelah saya lihat per pukul 8 pagi WIB ini, ternyata akun FB Ahmad Nuaimi itu baru saja 10 jam lalu posting foto. (Lho, berarti di masih hidup? Bukannya di berita NUGL dia sudah dihukum gantung tanggal 27 Desember lalu?) Jadilah saya berkesimpulan bahwa dengan memberikan link akun FB itu, NUGL justru sedang menambah kesalahan bagi beritanya sendiri menjadi tiga: salah gambar, salah syair, dan salah orang. (Yang ini sudah konyol)

Tentang hal terakhir terkait akun FB Ahmad Nu'aimi ini, kepada situs NUGL, yang adminnya tampaknya tak berani menampilkan identitas, sudahkah Anda punya bahan ngeles untuk membantah? Kalau belum punya bahan ngeles, dan karena saya sebenarnya agak merasa tak enak body sama Anda, baiklah saya beri alternatif bahan untuk ngeles dari tiga perspektif: secara konspiratif, supernatural, dan psikologis.

Secara konspiratif: bisa saja yang posting itu adalah keluarganya. Tapi probabilitas kebenaran ini 30%, sebab keluarganya semestinya mengabarkan berita berkabung bahwa sang penyair baru saja dihukum mati. Secara supernatural: mungkin saja dia bangkit dari kubur, arwahnya gentayangan, lalu login akun FB-nya. Tapi ini probabilitas kebenarannya 60%, karena dia itu setidak-tidaknya mbok ya mengabarkan apa yang terjadi di alam barzakh buat bekal kita-kita ini untuk bersiap-siap. Secara psikologis, yang probabilitasnya saya duga mencapai 90%: mungkin Anda sedang lelah. Kalau ini benar, perkenankan saya untuk memberi saran agar Anda sebaiknya bobok dulu, biar pikiran cerah dan hidup Anda ndak suram-suram amat.

Terakhir, Anda mengklaim bahwa berita hoax Anda “membuat gerah berbagai kalangan pro syiah dan pro liberal.” Menurut saya ini keliru. Berita hoax Anda sudah dan memang semestinya membuat gerah kaum Nahdliyin. Karena, selain membawa nama NU dan suka tanpa malu menghujat petinggi NU, Anda mengklaim “garis lurus” padahal berita yang Anda sebar tidak lurus.

Minggu, 03 Januari 2016

Zuhairi Misrawi, cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) menuturkan pengalamannya ketika menghadiri Konferensi Islam Internasional yang digelar di Iran. Melalui akun Twitternya ‏@zuhairimisrawi, ia mengaku terkesan melihat pluralitas Ahlussunah (Sunni) di Iran.


“Baru bicara dengan orang-orang Sunni di Iran. Mereka berkelompok sesuai mazhab mereka. Pluralitas dalam Sunni pun menarik dicermati. Pengikut mazhab Syafii di Iran membuat komunitas sendiri. Begitu pula, Hanafi, Maliki, dan Hambali. Ini yang berbeda dengan kaum Sunni di kita (Indonesia-red),” kicaunya.

Menurut Misrawi, Islam ibarat samudera, isinya beragam. Adanya Sunni dan Syiah, atau Ahmadiyah sekalipun dalam Islam adalah konsekuensi keragaman.

“Jujur, jika Sunni-Syiah ini tak bisa direkonsiliasi, maka kita telah mewarisi konflik dan friksi kepada anak cucu kita. Ini beban sejarah,” tulisnya lagi.

Ia juga menuturkan bahwa saat berada di Iran, siaran televisi di Negara Mullah tersebut penuh berisi pujian untuk Nabi Muhammad Saw mengingat bulan ini adalah bulan kelahiran manusia agung tersebut.

Misrawi juga mengunggah fotonya bersama peserta konferensi di Iran. “Bersama Syaikh Ali Taskhiri, Kang Jalal, dan Syaikh Ahmadi dlm konferensi ulama se-dunia di Iran #persahabatan. Saya baca buku tentang Syiah Dua Belas. Saya dapat merasakan indahnya keragaman dalam Islam,” kicaunya.[liputanislam]

Sabtu, 26 Desember 2015

Riyanto Anggota BANSER  yang gugur Akibat Bom Teroris Wahabi di Mojokerto 

Pada malam Natal tahun 2000.  Riyanto, 25 tahun, satu dari empat orang Banser NU yang dikirim GP Ansor Mojokerto untuk menjaga perayaan Natal di gereja Eben Haezer, Mojokerto. Lelaki kelahiran Kediri, 23 November 1975 itu ditugaskan oleh GP Ansor Mojokerto untuk serta mengamankan perayaan malam Natal.

Dari penelusuran pihak gereja dan petugas keamanan, bom pertama yang meledak itu ditemukan seseorang di bawah mobil dekat telepon umum yang berada di depan Gereja Eben Haezer. Bom yang dikemas dalam tas kamera itu sempat dijauhkan oleh polisi dari gereja. Namun, mendadak, Riyanto, salah satu anggota Banser yang saat itu membantu pengamanan justru memasukkan bom tersebut ke lubang saluran air di trotoar seberang gereja.

"Riyanto memasukkan ke lubang saluran air dengan tujuan supaya mati seperti petasan kan ga bisa nyala kalau kena air. Tapi bom itu kemungkinan memakai rangkaian elektronik, kena air malah korslet dan meledak," tuturnya.

Makam Riyanto di Desa Prajurit Kulon, Kecamatan Prajurit, Mojokerto, Jawa Timur, 

Kontan saja, ledakan dahsyat itu mengakibatkan tubuh Riyanto terpental hingga ke belakang gereja. Anggota Banser itu gugur Sahid dengan kondisi mengenaskan. 
Tas plastik yang ditemukan di luar gereja dibuka dan dibuang oleh Riyanto ke gorong-gorong dekat gereja. Namun seketika muncul ledakan dan tubuh Riyanto tercerai-berai."Badan dan tangannya terlempar dan ditemukan di rumah belakang gereja. 
Riyanto adalah korban teroris wahabi , penjahat kemanusiaan.


Seragam BANSER Milik Riyanto 

Salah satu saksi mata menceritakan kronologis Kejadian tragis tepat 15 tahun lalu. Malam itu tanggal 24 Desember 2000.  Saat itu misa sudah selesai, tapi masih banyak kegiatan para panitia natal di dalam gereja.

Pertama kali ditemukan tas Alkitab yang tertinggal di deretan bangku jemaat lalu tas tersebut diamankan di sekretariat gereja.

Tdk lama setelah itu banser & juru parkir gereja menemukan bingkisan mencurigakan di bawah motor Vespa teman saya yang kebetulan hendak pulang. Setelah dibuka, ternyata ditemukan sebuah jam kecil yang masih aktif. Dicurigai sebuah bom, kemudian Pak Riyanto berinisiatif mengamankan benda tersebut dan memasukkannya kedalam selokan di seberang gereja agar tidak meledak. Tapi apes Pak, ternyata malah konslet dan meledak. Tubuh beliau melayang melewati bangunan gereja dan mendarat di rumah penduduk di belakang gereja. Beberapa bagian tubuhnya terputus dan berserakan di atap Gereja. 

Setelah itu beberapa rekan teringat tas yang tadi tertinggal dan disimpan di sekretariat. Kemudian tas tersebut diletakkan di depan pintu gereja dan benar tak lama tas itupun meledak.

Saya kebetulan berjemaat di gereja itu Pak. Ingatan itu masih segar. Pak Riyanto adalah pahlawan kami malam itu.


Setelah 12 tahun, jasa Riyanto masih dikenang warga Mojokerto. Untuk mengenang jasa pria yang tewas di usia 19 tahun itu, Riyanto diabadikan sebagai nama jalan di Kecamatan Prajurit Kulon. Pemkot Mojokerto juga sudah membangun gapura megah di jalan tersebut 


Selasa, 15 Desember 2015

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj meminta masyarakat Purwakarta, Jawa Barat, tidak menghiraukan tudingan Front Pembela Islam (FPI) yang menyatakan Purwakarta berada dalam kondisi darurat akidah.


"Jangan dihiraukan tudingan tak berdasar seperti itu agar tidak memicu konflik. Tetapi, kalau meresahkan dan memprovokasi, lebih baik ormas seperti itu (FPI) dibubarkan saja," Aqil menegaskan hal itu saat berceramah di hadapan ratusan umat Muslim di Purwakarta, Senin, 14 Desember 2015.

Menurut Said Aqil, umat Islam di Purwakarta yang ia pantau sejauh ini tidak dalam kondisi seperti yang digambarkan FPI. Sebab, kegiatan keagamaan di Purwakarta tumbuh subur dan tak pernah ada keluhan apa pun.

Ihwal topik kebudayaan yang selalu diusung Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dalam berbagai kesempatan, sedikit pun tak ada yang bertentangan dengan masalah akidah Islam, apalagi sampai menimbulkan darurat akidah seperti ditudingkan FPI. Pria kelahiran Cirebon tersebut berujar, penyebaran dan dakwah Islam di Indonesia jangan sampai meninggalkan pendekatan budaya dan menimbulkan perang, apalagi pertumpahan darah. Mengingat Indonesia memiliki keberagamaan suku dan budaya.

“Islam adalah agama yang terbuka dengan budaya. Islam datang ke Indonesia sejak berdirinya Majapahit dan berkembang menggunakan pendekatan budaya tanpa adanya paksaan,” Aqil menjelaskan.

Menurut Aqil, Nabi Muhammad pada saat berdakwah dan menyebarkan Islam di Madinah, misalnya, tetap berupaya menghormati budaya yang tumbuh dan berkembang di sana dengan tetap menghormati peradaban dan membangun asimilasi budaya. Sebab, di sana banyak terdapat suku bangsa, baik yang Muslim maupun non-Muslim.

"Rasulullah selalu memperlakukan masyarakatnya sama. Tidak menghendaki permusuhan, kecuali yang melanggar hukum," Aqil menegaskan.

Ia mengimbau agar cara berdakwah selalu mengedepankan ketenangan dan kedamaian seperti yang dicontohkan Rasulullah ketika berdakwah di Mekah. "Selama 13 tahun berdakwah, Rasulullah tidak langsung menghancurkan berhala. Namun beliau selalu lebih mengedepankan ketenangan dalam berdakwahnya," ia menambahkan.

Adapun Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan, budaya Sunda tidak pernah bertentangan dengan ajaran Islam. Ia mengharapkan tidak terjadi salah tafsir ketika budaya Sunda dipakai dalam beragama.

“Contohnya, masyarakat Sunda yang membangun persenyawaan diri dengan alam, seperti tanah, air, udara, dan matahari. Itu budaya. Dari persenyawaan tersebut lahirlah bentuk kepasrahan kepada qadha dan qadar,” Dedi menjelaskan buah pikirnya.

Pentolan FPI Purwakarta Syahid Djoban menyatakan "Purwakarta Darurat Akidah" di dunia maya. FPI juga melaporkan Bupati Dedi ke Polda Jawa Barat dengan tuduhan telah melakukan penistaan terhadap Islam dalam bukunya Spirit Kebudayaan dan Kang Dedi Menyapa. Dia menilai isi buku tersebut banyak berisi penistaan terhadap Islam.

Namun pengurus Angkatan Muda Siliwangi bersama 32 ormas Sunda juga melaporkan pendiri FPI Rizieq Shihab ke Polda Jawa Barat dengan tudingan melecehkan salam Sunda "Sampurasun" yang ia plesetkan menjadi "Campur Racun".[Tempo] 

Sabtu, 12 Desember 2015

Oleh: Barisan Sufi Okem

Tidak biasa-biasanya saya ngomongin seleb, apalagi ustadz seleb. Tapi dua kejadian terakhir membuat saya tergerak untuk bukan sekadar ngomongin, tapi saya ingin menyatakan DUKUNGAN untuk dua ustadz seleb yang sedang menjadi incaran kaum predator syari'ah.


Sudah bukan rahasia, bahwa dakwah di media massa, apalagi media online didominasi oleh kalangan yang oleh sementara akademisi disebut sebagai kalangan modernis.
Untuk kalangan modernis lokal (Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad), selama ini tidak pernah terjadi benturan yang berarti. Yang bermasalah besar adalah para modernis impor, yang menurut Gus Mus dikatakan 'kurang paham agama, tapi teriaknya paling keras'.

Dan "kerasnya teriakan" tersebut membuat seolah-olah kaum Muslim mengaminkan saja kegaduhan-kegaduhan tersebut. Hal ini tidak lain karena selama ini kaum tradisionalis mengambil bentuk sebagai 'silent majority'.

Kalau Anda berkeliling Indonesia, dari Aceh sampai Papua, niscaya lebih banyak Anda temukan kaum tradisionalis daripada kaum modernis. Dan kaum tradisionalis ini memang dakwahnya tidak agresif. Pelan-pelan, kultural, membaur.

Yang lucu adalah ketika kemudian di daerah kaum tradisionalis ini kedatangan kaum modernis, maka seolah-olah kaum tradisionalis ini menjadi 'objek dakwah'. Seolah-olah kaum pendatang baru ini lebih paham, lebih alim, dan lebih menguasai literatur keislaman daripada si 'objek dakwah' tsb.

Tapi api karena memang kaum tradisionalis ini cenderung gak mau ribut, ya sudahlah, biarlah mereka berdakwah, selama tidak mengusik peribadatan masing-masing orang pun okelah.
Dan kaum modernis lokal yang tau diri pun bisa menempatkan diri dengan baik, maka di banyak tempat bisa dijumpai masjid yang membagi shift tarawehnya antara yang 8 dan 20, tanpa perlu ada gesekan horisontal.
Baca: Ustad Maulana telah Berkata benar
Demikian juga ketika media massa lebih banyak menampilkan pendakwah-pendakwah yang modernis, (yang memang biasanya lebih kelihatan intelek, lebih menguasai idiom-idiom modern, sehingga lebih dianggap cocok untuk kehidupan modern), kaum tradisionalis pun tidak ribut.

Belum pernah ada ceritanya seorang ulama NU, misalnya, khutbah di Masjid berapi-api mengecam isi ceramah Subuh di TV, mencela-cela penceramahnya yang mengatakan Perayaan Maulid itu bid'ah, Tahlilan itu tidak dicontohkan Nabi, dsb. Mungkin dalam pengajian khusus, ya, tapi itupun tidak berujung pada penghujatan (klasikal, apalagi massal) kepada pendakwah-pendakwah modern tersebut.

Namun belakangan ini di kalangan pendakwah modern tidak hanya diisi kalangan modernis lokal, tapi merebak kalangan modernis impor. Mereka berasal dari gerakan-gerakan internasional, berafiliasi dan berkiblat kepada ulama-ulama luar negeri, dan keras sekali dalam menyuarakan kepentingan gerakan iternasional tsb di negeri ini. Mereka menjadi seleb-seleb di televisi, media cetak maupun online, dan gencar menyuarakan ajaran mereka yang tidak menghargai ajaran-ajaran yang sudah membumi di tanah air ini. Dan ini tentunya membuat kesal. Baik para jamaah maupun para pemuka agama. Muncullah statemen dari Gus Mus seperti di atas, dari Gus Said Agil tentang darurat Wahabi, dsb.

Akhirnya ketika rasa 'kesal' tidak tertahankan lagi, tidak aneh kalau bbrp ustad seleb yang berasal dari kalangan tradisionalis mulai beraksi. Dan sebenarnya di belakang mereka ada puluhan mungkin ratusan juta orang yang sama kesalnya, tapi tidak banyak bersuara di media.

Dan sudah bisa diduga reaksi mereka yang selama ini merasa sudah menguasai media massa. Kaget, lho kok ada yang berani protes. Kecaman pun muncullah bertubi-tubi, tuduhan-tuduhan, bahkan dituntut pula ke polisi.

Maka memang sudah waktunya kaum yang selama ini menjadi silent majority tidak diam. Sudah saatnya menunjukkan bahwa para predator syariah itu sebenarnya minoritas, tapi merasa besar dengan medianya. Mereka sendiri yang menciptakan ilusi kebesaran itu, dan tidak mau ilusi itu hilang karena orang banyak menyadari kebohongannya.
Dan di sini saya nyatakan bahwa saya jelas mendukung Ustadz Maulana dan Ustadz Solmed atas apa yang telah mereka nyatakan. Mereka berdua, bersama-sama para ulama senior yang telah difitnah dan dikecam lebih dahulu, seperti Gus Dur, Cak Nur, Qurays Shihab, Gus Agil, Gus Miek, Cak Nun, dsb.
Mereka benar, dan perlu dibela dari serangan para predator syariah tsb.
#IndonesiaDaruratDengkul

Jumat, 04 Desember 2015

Bumi Ponorogo adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dimana rakyatnya mengidamkan bumi penuh kedamaian. Ungkapan kebencian, permusuhan dan tindak kekerasan apalagi yang mengatas namakan agama harus dicegah dan ditolak.

Ungkapan kebencian, permusuhan dan tindak kekerasan apalagi yang mengatas namakan agama telah  membawa korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya di seluruh belahan bumi ini, tak terkecuali di Bumi Ponorogo ini.

Tindak kekerasan ini diawali dengan menuduh kelompok lain sebagai sesat, kafir dan tak berilmu dan dengan tuduhan itu mereka dengan gampang pula mengabsahkan tindak kekerasan, terhadap kelompok yang di katakan sebagai sesat dan kafir itu. Gelompok ini berideologi radikal, dan sering menggunakan ungkapan kebencian serta ancaman kekerasan terhadap kelompok lain.

Gejala munculnya gerakan yang melakukan ‘penyesatan, pengkafiran dan ungkapan permusuhan’ terhadap ajaran dan tradisi Islam yang Rahmatalil ‘Alamin, Islam Ahlussunnah wal Jama’ah  yang telah tumbuh berkembang, serta diwariskan para ulama sebelumnya mulai muncul di bumi Ponorogo ini.

Bahkan gerakan ini sudah mulai ‘mengganggu’ tradisi ‘guyub rukun’ yang telah lama di ’uri-uri’ masyarakat Ponorogo, dengan mulai memaksakan agendanya pada pusat-pusat peribadatan, seperti masjid dan mushala, melalui media massa cetak dan elektornik.
Oleh karena itu kami Generasi Muda NU Ponorogo menyatakan sikap:


  1. 1.Menolak segala bentuk ungkapan, pernyataan, tindakan yang menunjukkan kebencian, permusuhan dan kekerasan apalagi yang mengatasnamakan agama;
  2.     
  3. 2. Menuntut kepada Pemerintah dan aparat yang terkait melakukan pengawasan dan tindakan hukum yang tegas terhadap individu, maupun kelompok yang sering menggunakan  ungkapan, pernyataan, tindakan yang menunjukkan kebencian, permusuhan dan kekerasan apalagi yang mengatasnamakan agama;
  4.     
  5. 3. Menuntut kepada aparat Pemerintahan di Kabupaten Ponorogo, untuk melibatkan organisasi pemuda, organisasi massa keagamaan untuk berkolaborasi menangkal segala bentuk ideologi yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;


Aksi ini dilaksanakan pada Jum'at, 4 Desember 2015, dengan rangkaian aktifitas Aksi damai, shalat jum'at, shalat gaib dan tabur bunga di makam alm. K. Misman KS, Imam Masjid Al Ibrahimy Karanglolor Sukorejo, sebagai wujud penghargaan terhadap perjuangan beliau menegakkan Islam yang moderat, yang menjunjung tinggi nilai-nilai rahmatan lil 'alamin.
Aksi ini menamakan diri Generasi Muda NU Ponorogo Menolak Kekerasan Atas Nama Agama
yang merupakan elemen gabungan dari perwakilan Gerakan Pemuda Ansor, Fatayat NU Ponorogo, PMII Ponorogo, IPNU/IPPNU Ponorogo, Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa, Jaringan GusDurian Ponorogo.[NU Ponorogo]

Kamis, 03 Desember 2015

Ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj mengatakan bahwa aliran aliran ekstrem kanan Wahabi telah melahirkan generasi perakit bom. Ia menganggap hal ini sebagai tantangan besar bagi Indonesia, karena telah terbukti biang kerok kekacauan di Tanah Air merupakan hasil didikan Wahabi.

KH. Said Agil, Pesantren Wahabi ajari merakit BOM 

Pria yang kerap disapa Kang Said ini juga menyinggung tentang Salim Mubarok Attamimi, salah satu panglima ISIS yang menyerukan jihad ke bumi Syam. (Baca: Salim, Panglima ISIS Arek Malang)

Berikut ini cuplikan pidato Kang Said;

Kalau dulu ketika NU baru berdiri, jaman Hadratus Syeikh Hasim Asy’ari, Wahabi jauh di jazirah Arabia. Dulu Wahabinya di Arab Saudi. Sekarang Wahabinya di Malang.

Ada yang namanya Salim bin Mubarok Attamimi, ngajak-ngajak pemuda bergabung dengan ISIS. Itu orang Arab Pasuruan yang tinggal di Malang.

Jangan heran, yang membunuh Sayyidina Ali kw adalah Abdurrahman bin Muljam Attamimi. Pendiri Wahabi adalah Muhammad bin Abdul Wahab Attamimi. Begitu juga dengan Arab-Malang yang mengajak orang untuk bergabung dengan ISIS, Salim bin Mubarok, dia juga Attamimi. Jadi betapa tantangan kita besar sekali.

Ekstrem kanan yang memprovokasi kita semua agar bergabung dengan ISIS, melakukan revolusi Khilafah, tidak menganggap pemerintahan negara yang ada saat ini sebagai pemerintahan yang sah. Menurut mereka, semuanya batal, kecuali kita mendirikan khilafah Islamiyah, seperti inilah ISIS.
Baca: KH. Hasyim Muzadi : Kelompok Wahabi Pemecah Belah Umat Islam
Di Cirebon, Kecamatan Graksan, Cirebon Selatan, Jalan Kali Tanjung, ada pesantren namanya As-Sunnah. Pemimpinnya bernama Salim Bajri. Pendirinya bernama Yusuf Baisa. Alumninya bukan hafal Al-Qur’an, tetapi hafal merakit bom.

Satu, namanya Saifuddin, ngebom masjid di kantor polisi. Pas sedang shalat jumat bom meledak. Sampai-sampai Kapolresnya juga luka-luka dibawa ke rumah sakit. Itu (pelakunya-red) alumni pesantren Wahabi.

Dua, yang namanya Syarifuddin ini juga mengebom Hotel Ritz Carlton Jakarta. Itu semua keluaran dari Pesantren As-Sunnah.

Itu yang namanya Ahmad Yusuf, ngebom Gereja Bethel Solo.[liputanislam]

Lihat Video KH Said Agil Siraj yang mengatakan Pesantren Wahabi ajari merakit BOM


Minggu, 29 November 2015

Kelompok Takfiri wahabi adalah Sekte yang menghalalkan segala cara untuk memaksakan pendapatnya. Maka warga Nu dan Muhammadiyah harus tahu bagaimana wahabi di arab saudi mengembangkan ideologinya yakni dengan segala cara termasuk membunuh dan menuduh kafir, musyrik kepada yang tidak sejalan dengannya.


Untuk itu, NU harus siap menanggulangi dengan cara apapun, kalo bisa pemerintah ikut membantu pendanaan kedua ormas Islam terbesar di Indonesia ini NU dan Muhammadiyah . Ingat, mereka tidak segan-segan bertindak keras dan kasar kepada orang islam, bahkan ulama sunni yang berseberangan dengan mereka terus dihujat dan kitab-kitabnya dirubah, hal ini sangat mudah dilakukan karena mereka mendapat kucuran dana yang cukup besar  dari Arab Saudi.

Munculnya beberapa aliran seperti, Salafi Wahabi, PKS, dan Hizbut Tahrir di Indonesia bukanlah mendamaikan umat Islam justru perpecahan yang terjadi dikalangan umat Islam. Dengan lantang mereka mengatakan memperingati maulid, ziarah dan Tahlilan bukan ajaran islam dan pelakunya bisa kafir. Tapi mereka di Arab sana memperingati kelahiran raja Arab Saudi dan itu bukan bidah dan tidak juga kafir.

Islam melarang melakukan perbuatan kekerasan dan perpecahan, Islam adalah agama yang ramah, santun, yang menjunjung perdamaian, persaudaraan antar sesama.

Untuk lebih jelas nya marilah kita simak perkataan KH Hasyim Muzadi tokoh NU.



Minggu, 22 November 2015

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj meminta santri dan TNI bersatu menghadapi paham radikalisme.


Hal itu diungkapkan Said, saat melepas 1.000 santri dari berbagai pondok pesantren di Indonesia yang akan mengikuti program Pelayaran Santri Bela Negara di Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, kemarin.

"Tunjukkan bahwa santri menyatu dengan TNI. Bersama-sama TNI selalu dalam satu visi dan misi. Nusantara itu sendiri kepanjangan dari, NU, Santri dan Tentara. Bersama-bersama membendung radikalisme ISIS," ujarnya, Sabtu 21 November 2015 kemarin.

Menurut Said, saat ini tercatat ada 22.000 pondok pesantren di Indonesia. Bila santri dan TNI solid maka ancaman apapun dapat diatasi. Apalagi, fenomena jaringan Islam garis keras sudah ada di mana-mana di Indonesia.

Said menyebutkan, sedikitnya ada 12 daerah yang menjadi basis gerakan Islam radikal yakni, Lenteng Agung, Jakarta, Sukabumi, Bogor, Garut, Solo, Mataram, Cirebon selatan, Ngawi, Jember dan sebagainya.

"Membela negara hukumnya fardu ain, wajib bagi setiap individu sama seperti menjalankan salat. Mempertahankan NKRI bukan hanya kewajiban TNI, tapi semua warga bangsa," ujarnya. Mati membela Tanah Air, kata Said, adalah mati sahid sama seperti membela agama.

Hal itu sesuai dengan fatwa dan resolusi jihad yang dikeluarkan  KH Hasyim Asyari. "Barang siapa yang bekerja sama dengan penjajah maka halal darahnya dan boleh dibunuh," tegasnya.
Saat ini, Indonesia layaknya gadis cantik yang diperebutkan oleh negara-negara besar. Mereka berkeinginan menjajah Indonesia baik melalui dimensi ekonomi, politik, budaya, watak kepribadian bahkan agama.

Karena itu, program Pelayaran Santri Bela Negara sudah sangat tepat dalam menghadapi tantangan tersebut. "Insya Allah, setiap tahun akan ada pelayaran santri bela negara," ujarnya. Said berharap, setelah mengikuti bela negara seluruh santri dan TNI bersatu membela dan menjaga keutuhan NKRI.

Jangan sampai ISIS dibiarkan masuk ke Indonesia. Sebab, ISIS merupakan teroris yang sudah sangat membahayakan. "Demi Allah, apa yang dilakukan ISIS bukan Islam dan bertentangan dengan agama Islam. Sebab, Islam agama yang membawa akhlak, peradaban dan budaya. Islam antikekerasan, radikalisme apalagi terorisme, karena itu kita harus paham ISIS bukan gerakan Islam," tegasnya.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam sambutannya yang dibacakan Inspektur Panglima Komando Lintas Laut Militer Laksamana Muda TNI Aan Kurnia menjelaskan, kegiatan ini berlangsung mulai 20-26 November di KRI Banda Aceh.

"Mereka akan mengikuti pelatihan dan penanaman rasa cinta Tanah Air, wawasan kebangsaan, wawasan kemaritiman dan pertahanan nasional. Termasuk wawasan kemaritiman, kebhinekaan dan persatuan," ujarnya.

Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan kekayaan alam yang berlimpah, dengan penduduk 250 juta. Kekayaan seperti gas alam yang besar menyebabkan Indonesia menjadi ajang perebutan negara-negara besar di dunia.

"Hal ini karena persediaan energi mereka semakin hari, semakin menyusut. Negara asing berupaya menguasai Indonesia dengan menciptakan perang jenis baru yang disebut perang proxy atau proxy war," ujarnya.

Menurut dia, perang proxy di Indonesia dilakukan dengan berbagai cara dan telah masuk ke segala sendi-sendi kehidupan berbangsa. "Apabila Indonesia tidak segera bangkit mengatasi persoalan ini maka akan mengganggu stabilitas nasional bahkan mengancam keutuhan NKRI," ucapnya.

Karenanya, Pelayaran Santi Bela Negara adalah upaya untuk meningkatkan rasa cinta Tanah Air untuk para santri, pelajar, pemuda, mahasiswa dan komunitas Islam Nusantara. Sekaligus sebagai bagian upaya memperkuat wawasan nusantara, kemaritiman dan perspektif potensi kelautan Indonesia.

"Termasuk perspektif pertahanan negara untuk meningkatkan kemampuan bela negara secara psikis, intelegensia, fisik dan spiritual. Kegiatan pelayaran ini juga sangat strategis dalam pembangunan kualitas SDM," tegasnya.

Tidak hanya itu, kata dia, kegiatan ini  penting untuk pengembangan jiwa juang, militansi, dan nasionalisme sehingga bisa membentuk pemuda yang berkarakter.  "Dengan mengikuti kegiatan ini, adik-adik santri bisa merasakan langsung bagaimana rasanya berlayar dan melihat langsung aktivitas di kapal perang Indonesia," paparnya.[sindonews] 
Ketua GP Ansor Kota Bogor Rahmat Imron Hidayat terpanggil untuk mengkoordinir kekuatan masyarakat sipil yang toleran, cinta kedamaian, cinta PANCASILA, NKRI, dan KEBHINEKAAN untuk bersama-sama bersuara dan lebih militan lagi dalam menghadapi segelintir kelompok radikal, kelompok fanatis dan intoleran yang ingin membenturkan sesama anak bangsa.Sebuah gerakan yang lahir dari rasa keprihatinan yang mendalam terhadap masalah berbangsa dan bernegara itu bernama ANAS- GETOL (GERAKAN NASIONALIS UNTUK TOLERANSI).
Aliansi Nasional untuk Toleransi 

Tersiar bahwa ada kelompok yang bernama Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Bogor Raya akan mengadakan acara pelantikan. Sebenarnya apa agenda mereka, karena selama ini dari penganut Islam Syiah di kota Bogor tidak pernah melakukan provokasi dan jumlah mereka sangat sedikit. Tampaknya suatu yang dibesar-besarkan, apalagi dibandingkan dengan bahaya ISIS dan sebagainya.
Seperti kita ketahui bersama MUI Kota Bogor dikuasai kelompok Intoleran salah satu penasehat MUI Kota Bogor adalah Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas adalah provokator Wahabi Salafi yang tak pernah lelah membenturkan Kaum Muslimin dengan isyu Sunnah-Syi’ah.
Dengan tegas Rahmat Imron Hidayat mengatakan agenda mereka jelas membawa misi penegakkan khilafah dan wahabinisasi di negeri ini. Di NU, kami menganut prinsip tawassuth (moderat-red), tawazun (keseimbangan-red), tasamuh (toleransi) dan i’tidal (tegak lurus dalam keadilan-red). Empat prinsip itulah yang digunakan oleh para ulama terdahulu hingga sampai kepada kita. Toleransi beragama, toleransi berkeyakinan itu suatu hal yang mutlak. Pada Muktamar NU pada tahun 30an sudah diputuskan bahwa NKRI itu sudah final, dan bukan hanya untuk umat Muslim, ada juga umat Nasrani, Khonghucu, Hindu, Budha, kepercayaan etnis dan budaya, di dalam Islam sendiri ada beragam firqoh (cabang atau aliran-red), itu sudah ada sejak lama, harus dihormati dan tidak boleh dipersoalkan lagi.
Kita sudah hidup berdampingan, sudah hidup akur, kenapa harus dipermasalahkan lagi. Inilah tugas berat kita sebagai sesama Muslim, sesama warga negara, yang sepakat dengan Pancasila dan NKRI, kita harus menghadapi kelompok yang mengatasnamakan agama tetapi menebar kebencian, itu harus diwaspadai.
Deklarasi ANNAS pada hari Minggu (22/11) besok, mereka menyebarkan pamflet, dan disitu ada mengatasnamakan NU, mencatut NU, makanya malam ini saya akan menemui ketua-ketua NU, sikap kita akan semakin tegas. Mereka juga mencatut nama walikota, bupati dan sebagainya, padahal belum ada konfirmasi.
GP Anshor dan ANAS-GETOL akan menghadapi mereka yang mencoba melakukan provokasi dan ujaran kebencian terhadap golongan kaum muslimin yang berbeda mazhab dengan mereka. Platform kami jelas Islam Rahmatan Lil Alamin bukan kelompok Radikal yang dengan mudah menyesat-kafirkan sesama kaum Muslimin. Sekali lagi kami ingatkan bahwa GP ANSOR dan ANAS -GETOL akan menjadi batu sandungan mereka dalam menjalankan agenda asing di negeri ini.[satuislam
HIDUP GP ANSOR….HIDUP ANAS-GETOL…HIDUP BANSER NU……
Tokoh NU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) meminta semua elemen masyarakat Indonesia mewaspadai gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dirinya berharap baik NU maupun Muhammadiyah, menjadi benteng Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Menurut pengasuh pondok psantren (Ponpes) Raudlatut Thalibin di Rembang itu, yang mendukung ISIS adalah orang-orang yang tidak mengerti Islam secara benar.

“Kalau kita tidak waspada, bisa saja (ISIS) masuk ke Indonesia. Pemerintah maupun masyarakat kita harus benar-benar waspada dan tidak menggampangkan manuver mereka,” ujar Gus Mus saat menjadi pembicara di sela acara launching Institute for Nusantara Studies (INNUS) di aula kampus Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (FD UINSA) Surabaya, Rabu 18 November 2015.

Gus Mus mengatakan, selama ini terorisme juga diwaspadai bersama-sama baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

“Apalagi orang sudah tahu bahwa nggak bisa mbelani (membela) ISIS kecuali orang yang tidak mengerti agama, tidak mengerti Islam. Kita tahu persisi bahwa ISIS itu bukan Islam,” tuturnya.

Dia juga mengingatkan, di era globalisasi yang mengedepankan sarana komunikasi internet dewasa ini, gerakan radikalisme bisa mempengaruhi masyarakat melalui informasi teknologi (IT).

“Komunikasi dan pengaruh (ISIS) itu bisa mereka lakukan melalui IT. Syukur, kemampuan berselancar di internet kita tengarai belum bisa mempengaruhi masyarakat pedesaan. Mereka (ISIS) tidak bisa ngomong (menyampaikan pesan) ke wong ndeso dan enggak ada yangmudeng (mengerti). Hanya saja, yang kita khawatirkan justru anak-anak kita yang sudah lancar internetan,” ujar Gus Mus sambil menambahkan, teknologi informasi diakuinya tidak bisa dibendung. Hanya pada diri masing-masing yang bisa memfilternya.

“Kalau memfilter IT itu sulit. Kemenkominfo saja ndak bisa. Yang bisa memfilter itu diri kita sendiri,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Mus menilai bahwa peran organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah adalah benteng negara kesatuan Republik Indonesia.

“NU dan Muhammadiyah itu benteng NKRI. Makanya banyak yang mengadu domba NU dan Muhammadiyah. Boleh dibilang NU dan Muhammadiyah adalah kekuatan Indonesia,” jelasnya.

Gus Mus berharap, NU dan Muhammadiyah tetap memperkuat dirinya masing-masing demi menjaga keutuhan NKRI. Selama ini peradaban Islam di nusantara adalah NU dan Muhammadiyah. Karenanya banyak orang yang berharap kedua organisasi sosial masyarakat keagamaan itu melemah.

“Kalau sudah melemah, paham apapun akan mudah masuk dan bisa menghancurkan soliditas NKRI,” tambahnya.[MI]

Sabtu, 14 November 2015

Agenda– Telah beredar Bulettin resmi PKS yang isinya memprovokasi serta ajakan kepada kadernya untuk berpartisipasi dalam melawan dan menghancurkan NU, saya hanya akan menulis pada lembaran yang di beri garis merah yang isinya al:
Buletin PKS 

"Kepada seluruh anggota PKS agar tetap teguh dan bersatu memberantas kekafiran yang berbaur sirik, bidaah yang ada di dikalangan NU yang sudah melakukan ritual dengan mengatasnamakan Islam antara lain :
1. menyelenggarakan maulid nabi saw
2. Membaca tawasul dan tahlil kepada orang yang sudah meninggal
3. Mengamalkan wirid dan yasin fadhilah
4. Membaca asmallah di awal surat dalam bacaan shalat
5. Melakukan jiarah ke makan para wali
6. Kita wajib memerangi sampai titik darah terakhir dengan jalan apapun terutama lewat partai dan pemerintah seperti keberhasilan di arab saudi
dll..

Metamorfosis PKS yang berafiliasi terhadap Wahabi, PKI, dan Teroris, berikut penjelasannya :
  1. PKS menghina Ulama Mesir : Dapat anda temukan»» disini 
  2. Ideologi PKS : bisa anda baca»» disini 
  3. Tanggapan Al Habib Munzir Al Musawa mengenai PKS yang terindikasi berafiliasi terhadap Wahabi : baca»» disini Gan
  4. Paradigma berfikir PKS mirip dengan Pola Gerakan PKI :baca»» disini Gan 
  5. Mantan Pendiri PKS menginginkan PKS itu dibubarkan : baca»» disini Gan
  6. Agenda Rahasia PKS dalam menjalankan misinya mirip dengan Pola perekrutan Teroris : baca»» disini Gan
7.  Anis Matta pengagum berat terhadap pola pikir dan ajaran Gembong terorisme Internasional Osama bin Laden,  baca»» disini Gan

Sumber : Twitter 

Rabu, 11 November 2015

Takfirisme– Gerakan yang senang mengkafirkan orang lain yang berbeda pandangan itu sudah sejak lama terdapat dalam sejarah Islam. Ini bukan gerakan yang sama sekali baru, mungkin tokoh dan mediumnya saja yang baru; isinya sih barang yang sudah lama. (Baca juga: Islam Nusantara Bukan Gerakan Takfiri)

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah Australia-Selandia Baru

Paling celaka kalau gerakan ini berkolaborasi dengan kekuasaan maka dari semula hanya mengkafirkan orang lain kemudian mereka memiliki kekuasaan untuk mengeksekusi siapa saja yang mereka anggap kafir. Mereka senang meminjam tangan penguasa, dan anehnya ada banyak penguasa yang senang berkolaborasi dengan mereka sebagai imbalan mendapat dukungan politik.

Takfirisme

Sejarah Islam mengenal kisah tragis para ulama yang dikafirkan dan disiksa karena pandangan-pandangan mereka. Ahmad bin Hanbal bukan saja disiksa karena mempertahankan keyakinannnya bahwa al-Quran itu qadim, pemuka mazhab Hanbali ini pernah digeledah rumahnya oleh khalifah karena dicurigai melindungi pengikut Syi’ah.

Imam Syafi’i, guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, pun tidak lepas dari tuduhan Rafidhah (pengikut Syi’ah). Beliau diseret dalam keadaan tangan terbelenggu bersama sekitar 300 orang lainnya.

Mufassir klasik seperti Imam al-Thabari juga dituduh Syi’ah karena dalam salah satu karyanya men-shahihkan Hadis ghadir khum, sedangkan Imam al-Biqai dianggap kafir hanya karena mengutip perjanjian lama dalam kitab tafsirnya.

Imam al-Amidi, pengarang kitab al-Ihkam fi Usul al-Ahkam, terkena pula tuduhan kafir karena memasukkan unsur filsafat dalam sebagian karyanya. Imam Nasa’i, ahli Hadis terkenal, itu juga babak belur dihajar mereka yang tidak suka dengan riwayat hadis yang disampaikannya tentang Muawiyah.

Imam Abu Hanifah, pemuka mazhab Hanafi, berulangkali disiksa penguasa karena menolak diangkat sebagai hakim. Ibn Taimiyah pun lama dipenjara dan akhirnya meninggal setelah dilarang menggunakan tinta dan kertas selama di penjara.

Daftar ini bisa menjadi sangat panjang dan menimpa ulama dari semua mazhab dan disiplin ilmu. Tuduhan dan fitnah keji itu sudah menjadi menu utama para ulama klasik. Dan sejarah selalu berulang.

Akan tetapi sejarah mencatat pula bahwa karya-karya para ulama di atas masih dibaca dan dijadikan rujukan ribuan tahun setelah mereka wafat. Dan sejarah jarang mengingat nama-nama penguasa atau kelompok yang memfitnah, mengkafirkan dan menyiksa mereka.

Pada akhirnya, yang akan dikenang dan abadi di hati adalah kontribusi kita untuk ilmu dan umat; bukan caci-maki, fitnah, kafir-mengkafirkan, bid’ah membid’ahkan dan perselingkuhan dengan penguasa untuk membungkam mereka yang berbeda. Kita semua akan dihakimi oleh sejarah peradaban umat sebelum kelak akan berhadapan dengan Sang Maha Hakim. Teruslah berkarya dan mengabdi pada ilmu dan umat! (ARN/MM)

Sumber: Akun Facebook Nadirsyah Hosen/arrahma news

Terbaru

Seri Kekejaman ISIS

Video

Mengenang Kembali Bom Teroris Wahabi Saat Peringatan Maulid Nabi


VIDEO Terbaru

Random Post

pks