Tampilkan postingan dengan label Sumanto Al Qurtuby. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumanto Al Qurtuby. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2016

Mereka bukan saja benci pada Ahok, tapi juga benci tatanan Negara ini, benci pada Pancasila, benci pada NKRI

PILKADA DKI telah berkembang ke arah yang cukup mengkhawatirkan. Bukan saja soal Cagub petahana, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) yang pernyataannya di Kepulauan Seribu yang memicu kontroversi, tapi juga respon sebagian kelompok yang sengaja memanfaatkan isu ini untuk tujuan-tujuan lain di luar Pilkada DKI.

Sebenarnya situasi pasca kontroversi pernyataan Ahok mengenai Surat al-Maidah sudah mulai mereda setelah Ahok minta maaf secara terbuka atas ucapannya yang dianggap menyinggung umat Islam. Tokoh-tokoh agama ternama juga menanggapi positif permintaan maaf itu. Semua itu menjadikan situasi yang semula penuh ketegangan mulai mereda.

Tapi belakangan situasi kembali memanas, terutama setelah MUI mengeluarkan pernyataan sikap yang pada intinya menyatakan Ahok telah melakukan penistaan agama. Situasi tambah semakin memanas karena sebuah stasiun TV swasta menggelar acara dialog secara live kurang lebih 4 jam, dengan tema “Setelah Ahok Minta Maaf”.

Berkembang juga berita, besok pagi, Jumat 14 Oktober 2016 akan ada aksi besar yang dimulai dari Masjid Istiqlal, dengan tema “Tangkap Ahok Penista Agama”. Situasi ini menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran, sehingga Gereja Katedral yang letaknya di sebelah masjid Istiqlal merasa perlu membuat himbauan khusus kepada Jemaatnya agar besok hari itu tidak mendekat ke kawasan Katedral jika tidak ada keperluan mendesak.

Saya menduga ada kelompok-kelompok yang mengambil untung dari situasi untuk merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Hal ini dilakukan dengan mengadu domba antara umat Islam dan non-Islam, bahkan antar sesame umat Islam yang mempunyai halauan yang berbeda. Mereka akan menunggangi organisasi-organisasi keagamaan, untuk memuluskan agenda adu dombanya.



Siapakah kelompok itu? Sebenarnya tidak terlalu sulit dikenali. Mereka bukan saja benci pada Ahok, tapi juga benci tatanan Negara ini, benci pada Pancasila, benci pada NKRI dan seterusnya yang dianggap sebagai sistem Negara thagut. Anasir-anasir kelompok radikal akan berkumpul dengan memanfaatkan persoalan Ahok menjadi pintu masuknya. Namun, yang dituju bukan soal Ahok, tapi lebih besar dari itu.

Karena itu, waspada dengan skenario adu domba yang sudah mulai terasa. Bukan soal Ahok dan Pilkada DKI, tapi ini soal keutuhan bangsa.[]

Rumadi Ahmad
Ketua Lakpesdam PBNU
[Catatan: himbauan di atas dari temanku, Mas Rumadi Ahmad, yang juga Ketua Lakpesdam PBNU, Jakarta. Silakan disebarluaskan jika berkenan demi keutuhan bangsa dan negara].

Penulis: Prof.Sumanto Al Qurtuby
Editor: Manhaj Salafi

Senin, 20 Juni 2016


Oleh : Prof. Sumanto alqurtuby**

Pemerintah, tokoh masyarakat, aparat, dan semua elemen bangsa tidak perlu ragu untuk menindak tegas pada berbagai tokoh dan ormas keagamaan yang bersikap “miring” dengan fondasi-fondasi kenegaraan dan kebangsaan. Tidak perlu ragu untuk “menertibkan” berbagai kelompok keagamaan yang tidak mau hidup toleran dan berdampingan secara damai dengan orang dan umat lain. Tidak perlu berpikir “dua kali” untuk “menertibkan” berbagai aturan dan perda-perda yang justru memicu intoleransi dan permusuhan. Tentu saja “penertiban” itu harus dilakukan dengan cara damai, tidak boleh melalui cara-cara kekerasan.

Pula, tidak usah khawatir “dicap” tidak agamis atau tidak Islami jika kita melakukan kritik dan tindakan tegas pada sejumlah kelompok Islam yang intoleran, urakan, arogan, dan mau menang sendiri, atau jika “menertibkan” perda-perda intoleran dan anti-kemajemukan. Kenapa tidak perlu khawatir? Karena sesungguhnya merekalah yang justru tidak agamis dan tidak Islami. Mereka pulalah yang justru telah secara terang-benderang menodai dan merusak citra Islam. Mereka pula yang telah “mengebiri” dan “membonsai” spirit Al-Qur’an yang maha luas. Bahkan mereka pulalah yang sejatinya yang telah merendahkan martabat agung Nabi Muhammad dan Tuhan. 

Aksi sejumlah mahasiswa Institut Kesenian Yogyakarta (?) yang menolak secara damai kehadiran dan propaganda omong-kosong HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) tentang Khilafah, misalnya, perlu didukung oleh publik luas. Tidak perlu ragu untuk menindak tegas HTI dan ormas-ormas keagamaan sejenis yang menolak ideologi Negara Pancasila, apalagi mereka yang sering bikin onar dan meresahkan masyarakat seperti FPI dan saudara-saudaranya.

Bukannya anti-Islam, menolak HTI, FPI dan ormas-ormas “miring” sejenis lainnya justru tindakan yang sangat Islami dan bernilai ibadah. Saya sudah bilang berkali-kali, jangan terpancing dengan jualan Khilafah Hizbut Tahrir (HT, termasuk HTI). Konsep Khilafah itu tidak “Islami” apalagi “Qur’ani”. Bahkan konsep dan sistem Khilafah yang diusung oleh HT itu jelas-jelas “bid’ah” dan menyimpang dari kanon resmi, kaidah, dan etika kepolitikan yang dimandatkan Al-Qur’an dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad dan generasi Islam awal.

Perlu saya tegaskan lagi, Al-Qur’an tidak mengatur sistem kepolitikan-pemerintahan-perekonomian yang baku lengkap dengan juklak dan juknis. Al-Qur’an hanya berisi “etika” dan “norma” universal (seperti keadilan, kesejahteraan, kedamiaan, dlsb) yang bisa diterapkan oleh sistem kepolitikan-pemerintahan-perekonomian apapaun: kerajaan, kesultanan, federalisme, unitarianisme, sosialisme-komunisme dan seterusnya.

Karena tidak ada “juklak” dan “juknis” yang ceto welo-welo tentang sistem politik-pemerintahan dan perekonomian itulah kenapa sejak era Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin sampai zaman modern saat ini, umat Islam dan negara-negara mayoritas Muslim menganut berbagai sistem politik-pemerintahan dan sistem perekonomian. Para pemimpin negaranya juga bermacam-macam namanya: presiden, raja, amir, sultan, sharif, shaikh, pokonya banyak deh. Tapi yang jelas tidak ada yang bernama “khalifah”. 

Jika mereka mengklaim bahwa konsep dan tindakan mereka itu berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis, maka kita pun bisa mengklaim yang sama: karena banyak sekali ajaran Al-Qur’an-Hadis dan norma-norma keislaman yang mengajarkan sikap dan tindakan toleran, humanis, pluralis, demokratis, dlsb. Jadi, kenapa ragu? 

Sumber: Akun Facebook Sumanto Al-Qurtuby

Selasa, 01 Maret 2016


Oleh: Professor Sumanto Al Qurtuby **

Sering saya melihat tulisan yang beredar luas di dumay tentang sosok Koh Ahok dan Kaji Lulung yang kira2 begini bunyinya: “Seburuk-buruk Lulung dia itu Muslim dan sebaik-baik Ahok dia itu kafir [Kristen - red] . Muslim walaupun buruk masih bisa masuk surga, kafir walau baik tetap kekal di neraka.” Inilah salah satu contoh orang yang “gagal njegal” membaca teks2 keagamaan.

Kalau memang semua Muslim itu masuk surga, kenapa kalian bersemangat mengafir-sesatkan saudara2 Muslim sendiri? Kenapa pula kalian dengan suka-rela dan kejinya mengumpat, mengutuk, dan mengfitnah saudara2 Muslim sendiri? Kenapa pula kalian begitu heroiknya mengusir saudara2 Muslim sendiri? Kenapa pula kalian dengan beringasnya ngamuk2 dan merusak properti milik saudara2 Muslim sendiri? Kenapa pula bahkan kalian rela berbuat kekerasan dan membunuh sesama Muslim?

Lalu, Islam seperti apakah yang kalian maksud? Muslim seperti apakah yang akan masuk surga? Betapa murah dan “murahannya” surga itu, jika hanya dengan “tiket Islam” bisa memasukinya. Bukan islam, melainkan kualitas keislaman yang membuat orang masuk surga itu. Bukan agama, melainkan kualitas keagamaan, yang mengantarkan orang ke surga. Saya percaya, surga itu (jika memang ada) bukan disediakan untuk agama ini dan itu, untuk etnis ini dan itu. Tetapi untuk umat manusia yang memiliki “kualitas kemanusiaan” apapun agama dan etnis mereka.


Apalah artinya kalian mengaku-aku sebagai umat beragama jika perilaku kalian seperti orang2 tak beragama. Lebih baik umat non-agama tetapi hati dan perilakunya seperti “malaikat” ketimbang umat beragama tetapi hati dan perilakunya laksana setan yang gentayangan. Alih2 menuduh Ahok tak bakal masuk surga, bisa2 justru kalian sendiri yang nyemplung ke neraka…

  **Professor Sumanto Al Qurtuby adalah dosen di King Fahd University of Petroleum & Minerals Jurusan Anthropology Arab Saudi dari 2014 sampai Sekarang 

Tag : #Ahok Kafir, #Kaji Lulung 

Minggu, 31 Januari 2016



Oleh : Sumanto AlQurtubi

Sahabat sekaligus asisten riset-ku, seorang warga Saudi, Mahdi al-Mabrook, menuturkan kisah menarik.

Konon suatu saat ada sepasang suami-istri Arab Kristen (AK) tertangkap dan diinterogasi oleh anggota ISIS (IS). Maka terjadilah dialog ("menggelikan") berikut ini:

IS: "Apakah anda Muslim?"

AK: "Ya".

IS: "Coba baca contoh ayat Al-Qur'an?"

Sejurus kemudian sang suami membaca sejumlah ayat yang diambil dari Bible (Alkitab) berbahasa Arab. Kitab Injil warga Arab Kristen memang berbahasa Arab, kecuali sejumlah kelompok Kristen Ortodoks di Suriah yang menggunakan Bahasa Aram.

Setelah mendengarkan bacaan ayat-ayat Injil, anggota ISIS itu kemudian berkata:

IS: "Masya Allah anda betul2 seorang Muslim taat, fasih bacaan Al-Qur'an-nya. Kalau begitu kalian boleh pergi saudaraku."

Di tengah perjalanan, sang istri ngomel kepada suami: "Kamu ini nekad banget, coba kalau ia tahu kita Kristen dan membaca Bible, habislah kita."

Sang suami dengan tenang menjawab: "Tidak usah khawatir, jika ia tahu Al-Qur'an, maka ia tidak akan membunuh kita..."

(Arsip, Juli 14, 2015)

Jumat, 11 Desember 2015

Oleh: Prof. Sumanto AlQurtuby

Artikelku di Gatra (7-13, Mei) ttg relasi Sunni-Syiah di Saudi. Disini sy katakan, al, sejumlah kaum Muslim Indo kdg2 lbh ekstrim & garang ketimbang kaum Muslim di Saudi ttg reaksi mrk thd komunitas Syiah. Kampanye anti-Syiah di Saudi hny dilakukan oleh "oknum ekstrim" di lingkaran pemerintah & Wahabi smtr masy bny di akar rumput biasa2 sj. Wahabi & Sunni mmg menganggap Syiah "sesat" tp bkn berarti halal utk dimusnahkan...



Jangan pernah punya anggapan bahwa konflik Saudi-Iran itu sama dengan konflik Arab-Persia apalagi konflik Sunni-Syiah. Saudi/Iran adl "entitas politik", Arab/Persi adl "entitas etnis/suku" dan Sunni/Syiah adl "entitas keagamaan". Sebagai entitas politik-pun, Saudi & Iran--juga negara2 lain di jagat raya ini--bukanlah "monolitik" dan seragam: aktor2nya, kebijakan2nya, kepentingan2nya, dlsb. Semua tergantung kpd siapa yg memegang kekuasaan & kepentingan temporal apa yg mengitarinya. Sebelum rezim Khomeini, ketika Iran di bawah kekuasaan Reza Pahlevi, Saudi dan Iran adl "sahabat sejati"--keduanya "nyusu" kpd "ibu kandung" yg sama: Amerika! Kedunya jg berkoalisi (di bawah komando AS) utk membendung pengaruh komunisme Soviet di Timur Tengah.

Seperti Saudi & Iran, Arab/Persia, apalagi Sunni/Syiah, juga bukan "entitas monolitik". Sebagaimana Sunni yg warna-warni, Syiah itu jg banyak jenisnya, banyak kepentingannya, banyak suku-etnisnya, banyak cara pandanganya dslb. Jangan pernah punya pandangan bahwa Syiah itu "tunggal", Sunni itu "satu". Semua itu hanya ada di alam mitos, hanya ada di negeri dongeng. Persis spt dongengnya Samuel Huntington ttg "benturan peradaban". 

Karena itu masyarakat Indonesia, saya wanti2, JANGAN MAU dibodohi oleh para "cukong2 politik-agama" utk membenturkan Sunni-Syiah di Tanah Air! Kalian jgn mau digiring oleh orang2 yg hati dan pikirannya dipenuhi oleh "kotoran kebencian" thd sesama manusia. Biarlah urusan politik dalam negeri di Timur Tengah menjadi urusan mereka, jgn sampai dibawa-bawa ke negeri tercinta Indonesia...

Terbaru

Seri Kekejaman ISIS

Video

Mengenang Kembali Bom Teroris Wahabi Saat Peringatan Maulid Nabi


VIDEO Terbaru

Random Post

↑ pks