Tampilkan postingan dengan label Saleh Lapadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saleh Lapadi. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2016

Oleh: Saleh Lapadi 

Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi hari Sabtu (2/1) memberitakan eksekusi mati Ayatullah Nimr Baqir al-Nimr, pemimpin Syiah negara ini. Mujahid Saudi ini bersama 46 orang lainnya yang mayoritas teroris dihukum mati di 12 kawasan Arab Saudi.


Hukuman mati Ayatullah al-Nimr diumumkan bulan November setelah disahkan pengadilan tinggi Arab Saudi. Sebagaimana berlaku di Arab Saudi, amar putusan itu kemudian dikirimkan ke Kementerian Dalam Negeri lalu ditandatangani oleh Menteri Dalam Negeri, Mohammad bin Nayef.
Sejak ditahan pada 2012 hingga syahadah Ayatullah al-Nimr, pemerintah Arab Saudi tidak pernah menunjukkan perhatian kepadanya, sehingga kondisinya semakin memburuk dan akhirnya dihukum mati.
Publikasi berita pelaksanaan eksekusi tersebut membuat banyak kalangan yang menduga-duga alasan dibalik itu. Namun semua sepakat langkah tersebut akan semakin melemahkan kerajaan Arab Saudi, bahkan kehancurannya. Langkah itu bakal semakin meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Sehari berlalu. Sebagian puzzle mulai terkuak. Ketidakhadiran Mohammad bin Salman dalam eksekusi mati Ayatullah al-Nimr menguatkan adanya friksi di antara para pangeran, terutama di antara Mohammad bin Nayef, Putra Mahkota Arab Saudi dan Mohammad bin Salman penerus Putra Mahkota Arab Saudi.
Eksekusi mati Ayatullah al-Nimr buah perebutan kekuasaan para pengeran Saudi?
Kondisi HAM di masa Mohammad bin Nayef
Pemilihan waktu eksekusi mati Ayatullah al-Nimr dan 46 orang lainnya di awal 2016 dikarenakan buruknya catatan hak asasi manusia Arab Saudi di tahun 2015. Sebanyak 151 orang dihukum mati di Arab Saudi selama 2015. Hal ini membuat Mohammad bin Nayef mengundurkan masa eksekusi Ayatullah al-Nimr di awal 2016.
Pasca wafatnya Raja Abdullah dan diangkatnya Raja Salman, Arab Saudi menyaksikan terjadi perubahan luar biasa, terutama struktur pemerintahan. Mohammad bin Nayef menjadi putra mahkota dan Mohammd bin Salman sebagai penggantinya. Sebagai putra mahkota, Mohammad bin Nayef merangkap Menteri Dalam Negeri. Itu berarti ia menguasai seluruh dokumen terkait masalah HAM di negara ini.
151 orang yang dihukum mati menunjukkan begitu buruknya kondisi HAM di negara ini selama berada di tangan Ben Nayef. Surat kabar Inggris Independent menyebut waktu dan tempat eksekusi Ayatullah al-Nimr justru menjadi ajang perseteruan Ben Nayef dan Ben Salman.
Sa’ad al-Faqih, oposisi Saudi yang tinggal di Inggris menyebut sejak Raja Salman memimpin kerajaan, anaknya Mohammad bin Salman sangat berkuasa. Pada saat yang bersama, Ben Nayef selaku putra mahkota juga ingin menunjukkan dirinya berkuasa sebagai orang kedua di Arab Saudi. Eksekusi mati Ayatullah al-Nimr merupakan salah satu cara untuk menunjukkan kekuasaannya. Dengan aksinya, ia ingin menekankan bahwa ia pengambil keputusan terakhir. Menggabungkan eksekusi mati Ayatullah al-Nimr dengan para teroris menunjukkan dirinya tidak memandang masalah etnis dan mazhab dalam melaksanakan hukum. Dengan cara ini, ia berharap dapat mencegah warga Syiah Arab Saudi bangkit memrotes hukuman mati ini.




Mohammed bin Nayef

Perebutan kekuasaan
Puzzle di balik eksekusi mati Ayatullah al-Nimr semakin terkuak setelah Jamal Bean (Jamal_Bean), oposan Arab Saudi lainnya membongkar lebih jauh perseteruan dua pangeran Arab Saudi di laman Twitternya. Detil informasi yang disampaikannya menunjukkan ia termasuk seorang pangeran Saudi yang beroposisi. Menurutnya, masalah Ayatullah al-Nimr menunjukkan perseteruan serius di antara Ben Nayef dan Ben Salman.
Ketika amar putusan hukuman mati Ayatullah al-Nimr diserahkan kepada Raja Salman untuk mendapatkan pengesahan, Ben Nayef mengingatkan pamannya bahwa ia pernah punya keinginan menghukum mati Ayatullah al-Nimr di hari kematian ayahnya. Karena ayahnya punya dendam terhadap Ayatullah al-Nimr. Eksekusi mati Ayatullah al-Nimr menurutnya berarti menunaikan dendam ayahnya.
Tapi itu hanya cara Ben Nayef untuk menepis anggapan itu merupakan pembalasan dendam pribadi agar Raja Salman tidak menolak langkahnya akibat protes Syiah dalam dan luar negeri.
Selama itu pula, Ben Nayef berusaha keras meyakinkan Raja Salman bahwa bila seorang tokoh Syiah dihukum mati, maka pemerintah Arab Saudi tidak dituduh melakukan diskriminasi terhada warga Syiah atau hukum itu berasal dari masalah pribadi.
Padahal Ben Nayef memang punya dendam pribadi terkait hukuman mati Ayatullah al-Nimr. Sementara Ben Salman menolak pikiran Ben Nayef. Ia menyebut masalah Ayatullah al-Nimr dapat digunakan untuk menekan Iran. Tapi Ben Nayef menyebut itu pikiran bodoh dan lucu. Hal ini membuat Ben Salman geram.
Ben Nayef bersikeras untuk melaksanakan keinginannya. Ia mengabarkan Ben Salman bahwa ia akan melaksanakan hukuman mati tanpa stempel dan pengesahan Raja Salman. Ben Salman mengirim surat kepadanya dan mengatakan bahwa stempel kerajaan berada di tangannya dan merupakan wewenang raja untuk melengserkan putra mahkota. Dengan itu, Ben Salman menyampaikan pesan bahwa bila ia tetap bersikeras dengan pendapatnya, maka ia tinggal menanti bakal dilengserkan dari posisinya.




Mohammad bin Nayef dan Mohammad bin Salman

Skenario pasca hukuman mati
Perseteruan kedua pangeran ini untuk sementara dimenangkan oleh Mohammad bin Nayef. Namun babak kedua persaingan keduanya akan lebih seru pasca eksekusi mati Ayatullah al-Nimr. Di babak kedua ini ada dua skenario.
1. Ben Nayef unjuk kekuatan dan pengokohan pondasi putra mahkota
Eksekusi mati Ayatullah al-Nimr dan 46 orang lainnya yang mayoritasnya adalah teroris membuktikan Ben Nayef tetap berkuasa dan berada di luar pengaruh Ben Salman yang menguasai seluruh urusan negara.
Sejatinya Ben Nayef ingin menyampaikan kepada Raja Salman dan Mohammad bin Salman bila kondisi menghendaki, ia akan menghadapi keduanya. Yang lebih penting lagi, keduanya tidak boleh memandang enteng kepadanya.
Selain itu, ia ingin mengatakan kepada Amerika dan Barat bahwa dirinya tokoh pertama dalam melawan terorisme.
Dalam kondisi yang demikian, dimana keluarga kerajaan tidak puas dengan perubahan yang dilakukan Raja Salman demi memuluskan anaknya sebagai penggantinya kelak, Ben Nayef berusaha bangkit untuk melengserkan Raja Salman dan kemudian ia yang berkuasa.
Skenario ini akan berhasil bila Amerika dan Barat melihatnya sebagai orang terbaik untuk Arab Saudi dan pengalamannya melawan terorisme.
2. Ben Salman memanfaatkan eksekusi Ayatullah al-Nimr
Pasca eksekusi hukuman mati Ayatullah al-Nimr menanti kesempatan bila protes dalam negeri semakin menguat, khususnya dari kalangan Syiah, Ben Salman akan menggunakan kesempatan ini untuk menekan Ben Nayef. Terlebih lagi menurut Jamal Bean, Ben Salman menentang hukuman mati Ayatullah al-Nimr.
Ben Salman akan menggunakan satu panah untuk dua target. Pertama, ia akan memperkenalkan Ben Nayef sebagai orang yang menginginkan hukuman mati Ayatullah al-Nimr dan kemarahan warga Syiah Arab Saudi akan diarahkannya kepada Ben Nayef. Strategi ini sangat mudah bagi Ben Salman. Terlebih lagi ia mengetahui permusuhan Ben Nayef dan ayahnya terhadap Ayatullah al-Nimr.
Langkah kedua, setelah berhasil mengarahkan kemarahan rakyat Arab Saudi dan Syiah negara ini kepada Ben Nayef, Mohammad bin Salman akan berusaha meredakan kemarahan rakyat dengan memberhentikan Ben Nayef dari Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi dan posisi putra mahkota. Ini merupakan mimpi Ben Salman untuk berkuasa sepeninggal ayahnya. Karena pencabutan posisi putra mahkota dari Ben Nayef, maka dengan sendirinya Ben Salman naik menduduki posisi tersebut. Ia kemungkinan besar akan menggunakan segala cara untuk memperluas protes warga Syiah Arab Saudi.
Dengan demikian, perubahan di dalam negeri Arab Saudi di hari-hari mendatang akan menjelaskan perang kekuasaan antara Mohammad bin Nayef dan Mohammad bin Salman.
Wallahu A’lam
Tehran, 3 Januari 2016
Oleh: Saleh Lapadi 

Labbaika Ya Husein!

Surat kabar ad-Diyar Lebanon menulis, "Sebelum dilaksanakan hukuman mati, Sheikh Nimr melaksanakan salat dua rakaat dan ucapan terakhir yang disampaikannya adalah Labbaika Ya Husein."


“Seorang sipir penjara masuk ke sel Sheikh Nimr. Ia menyampaikan bahwa beberapa menit lagi Sheikh Nimr harus menjalani hukuman mati. Sheikh Nimr bangkit melakukan salat dua rakaat. Beliau memulainya dengan ucapan Laa Ilaaha Illallaah. Sipir penjara memintanya segera menyudahi salatnya. Karena mereka harus segera melaksanakan hukuman mati.

Saat dihukum mati, Sheikh Nimr berteriak ‘Labbaik Ya Husein’. Itu menjadi saat terakhir eksekusi hukuman mati dan Sheikh Nimr meninggal dunia.”

Oleh: Saleh Lapadi

Mungkin boleh dikata Ziarah Asyura merupakan doa dan ziarah yang paling banyak memuat laknat. Laknat kepada sesuatu yang sifatnya prinsip, universal hingga kepada pribadi. Sayangnya, dalam perkembangan tidak terjadi pendalaman pada pelaknatan yang dituturkan dalam ziarah ini, tetapi perhatian justru kepada hal-hal yang tidak prinsip.
Padahal bila pelaknatan itu ditarik keluar dari yang biasa diwacanakan, bakal didapatkan sumber pemahaman baru mengenai akar peristiwa Karbala dan bagaimana tahapan yang dilalui hingga terjadi peristiwa ini dan yang lebih penting mengenai tahapan perang sekaligus pemetaan musuh. Ada perang strategi, politik hingga perang fisik.
Mencermati Ziarah Asyura membawa kita kepada satu kenyataan bahwa peristiwa Karbala telah didisain sejak awal. Kelompok yang menjadi sasaran laknat sebenarnya mewakili tahapan peristiwa hingga terjadinya pembantaian di Karbala. Ada pola yang ingin dijelaskan oleh Ziarah Asyura.
Ketika membaca Ziarah Asyura dan sampai pada frasa laknatan, sebenarnya ada tiga kelompok utama yang dibedakan dalam pelaknatan tersebut. Bila kita tidak mencermatinya dengan teliti, bakal muncul pertanyaan mengapa pelaknatan itu dilakukan berulang-ulang secara berurutan?
Sebaliknya, membaca lebih jauh ke dalam pengelompokan itu sendiri membuat kita akan menemukan tiga kelompok utama yang berbeda dan sejumlah anasir yang berafiliasi kepada mereka. Menelisik ziarah ini lebih dalam akan memudahkan kita membaca apa yang secara lahiriah terjadi dalam peristiwa Asyura.
Kini kita periksa tiga kelompok utama tersebut:
1. Perang strategi
فَلَعَنَ اللَّهُ أُمَّةً أَسَّسَتْ أَسَاسَ الظُّلْمِ وَ الْجَوْرِ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ

Semoga Allah melaknat umat yang telah mempersiapkan kondisi sehingga kalian dizalimi, wahai Ahlul Bait

2. Perang politik
وَ لَعَنَ اللَّهُ أُمَّةً دَفَعَتْكُمْ عَنْ مَقَامِكُمْ وَ أَزَالَتْكُمْ عَنْ مَرَاتِبِكُمُ الَّتِي رَتَّبَكُمُ اللَّهُ فِيهَا

Dan semoga Allah melaknat umat yang telah melengserkan kalian dari kedudukan kalian dan telah melucuti martabat yang telah ditetapkan Allah untuk kalian.

3. Perang militer
وَ لَعَنَ اللَّهُ أُمَّةً قَتَلَتْكُمْ

Dan semoga Allah melaknat umat yang telah membunuh kalian

Terkait dengan perang fisik ada dua pembagian lainnya:
3.1. Sutradara perang
وَ لَعَنَ اللَّهُ الْمُمَهِّدِينَ لَهُمْ بِالتَّمْكِينِ مِنْ قِتَالِكُمْ

Dan semoga Allah melaknat umat yang mempersiapkan saran bagi terbunuhnya kalian

Keluarga kejam
وَ لَعَنَ اللَّهُ آلَ زِيَادٍ وَ آلَ مَرْوَانَ وَ لَعَنَ اللَّهُ بَنِي أُمَيَّةَ قَاطِبَةً

Semoga Allah melaknat keluarga Ziyad, Marwan dan Bani Umayah seluruhnya

Komandan perang
وَ لَعَنَ اللَّهُ ابْنَ مَرْجَانَةَ وَ لَعَنَ اللَّهُ عُمَرَ بْنَ سَعْدٍ وَ لَعَنَ اللَّهُ شِمْراً

Semoga Allah melaknat Ibnu Marjanah, Umar bin Sa’ad dan Syimr

3.2. Pasukan
وَ لَعَنَ اللَّهُ أُمَّةً أَسْرَجَتْ وَ أَلْجَمَتْ وَ تَنَقَّبَتْ لِقِتَالِكَ

Dan semoga Allah melaknat umat yang telah mempersiapkan kuda-kudanya untuk bergegas membunuhmu

Bersambung...
Tehran, 3 Januari 2016

Terbaru

Seri Kekejaman ISIS

Video

Mengenang Kembali Bom Teroris Wahabi Saat Peringatan Maulid Nabi


VIDEO Terbaru

Random Post

pks