Tampilkan postingan dengan label Dina Y Sulaiman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dina Y Sulaiman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Agustus 2016


Oleh: Dina Y Sulaiman

Perhatikan bagaimana media arus utama seluruh dunia hampir serempak menjadikan bocah di kursi oranye sebagai headline dan 'simbol korban Assad'. Lalu disusul dengan narasi: "kita harus segera menerapkan 'no-fly-zone' di Suriah". Track record penetapan NFZ selama ini oleh PBB/NATO justru membuat rakyat sipil semakin menderita. Kapan2 saya bahas apa itu no-fly-zone, tapi terimakasih kalau ada yang bersedia bantu jelasin di komen.

Kali ini saya cuma ingin mengajak kita bertanya, mengapa bocah Palestina yang disembelih pelan-pelan, lalu kepalanya diangkat dengan wajah puas oleh Nurudin Zanki tidak dijadikan headline oleh semua koran itu? Fotografer si bocah di kursi oranye (Mahmoud Rslan) didapati berteman dan berpose bersama monster Nurudin Zanki ini. Saya tidak tega posting fotonya di sini. Yang kuat, bisa buka link yang saya taruh di komen.

NB: Nurudin Zanki bukan ISIS, tapi kelompok jihadis yang oleh media Barat disebut "moderate rebels" (pemberontak moderat). Sekali lagi, jangan tertipu nama dan klaim "ini jihadis beneran, itu ISIS". Mereka sama saja, dilihat dari ideologi dasar (Wahabi:red) dan metode sembelih2annya.

Oleh: Dina Y Sulaiman

Baca timeline pagi-pagi, banyak yang share foto bocah Suriah yang disebut sebagai korban bom. Berita ini disebarluaskan media Barat (dan diberitakan ulang berbagai media Indonesia).

Sekedar memberikan berita pembanding, silahkan baca analisis di sini

Beberapa poin yang saya ambil dari artikel tsb:

1. Di artikel ini ada analisis foto dan video, serta pembandingan dengan foto seorang anak yang ‘asli’ korban bom tapi tidak diberitakan luas.

2. Jurnalis yang disebut mengambil foto si bocah (Omran Daqneesh) bernama “Mahmoud Raslan”, tapi jika di-google, tidak ada rekam jejak karyanya yang lain.

3. Beberapa keanehan: si bocah terlihat dibawa ke dalam ambulan yang baru (in a brand new, very well equipped ambulance). Ada sekitar 15 pria berdiri di tempat itu dan tidak melakukan apapun (perhatikan: mrk katanya berada di lokasi yang “baru saja dibom”, tidak takut ada bom susulan?). Minimalnya ada 2 laki-laki disamping si videografer yang mengambil foto/video.

4. Di video diperlihatkan bahwa relawan yang menolong adalah White Helmets yang baru-baru ini mengajukan diri untuk menjadi pemenang Nobel Perdamaian 2016 (baca tulisan saya sebelumnya ttg siapa funding WH dan bahwa personel WH tak lain dari “jihadis” Al Qaida/Al Nusra yang berganti baju).

Video Omran Daqneesh dan bagaimana cara media mainstream memberitakannya, bisa lihat di sini.

List dan link  video-video While Helmets lainnya (dengan “skenario” yang mirip) bisa dilihat di sini.

Seiring dengan waktu, tak lama kemudian terungkap siapa Mahmud Raslan. Dia ternyata jihadis, pernah berpose dengan Nurudin Zanki (jihadis yang menyembelih bocah Palestina, yang sempat membuat heboh beberapa waktu yang lalu).

Berikut kompilasi foto yang diposting di FB oleh Dr. Tim Anderson (akademisi asal Australia):



Video-video berisi informasi lainnya mengenai Mahmoud Raslan bisa dibaca di facebook jurnalis 21st Century Wire Vanessa Beeley (dia pernah meliput langsung ke Suriah) khususnya di thread ini

Apakah Media Mainstream Selalu Benar/Selalu Salah?

Seorang komentator FB yang setau saya tingkat pendidikannya cukup tinggi, menyanggah status saya sebelumnya ttg White Helmets dan Bocah di Kursi Oranye dengan hujatan ‘delusional’ plus argumen kurang-lebih “semua media besar sudah memberitakan, kok menganggap kejadian si bocah itu palsu?” [sambil nyindir pulak: kecuali media Iran dan Rusia]. Padahal yang saya lakukan hanya memberikan pengimbangan berita yang berupa analisis video. Alih-alih memberi analisis sanggahan, dia malah ber-logical fallacy.

Dalam ilmu logika, argumen seperti itu masuk kategori kesalahan (fallacy) jenis“argumentum ad populum”(menganggap sesuatu itu benar hanya karena banyak orang mempercayainya). Atau bisa juga masuk ke “argumentum ad verecundiam” (menganggap sesuatu itu benar karena ada pakar atau institusi yang dianggap ‘hebat’ yang mengatakannnya).

Coba pikir, apakah hanya karena semua media mainstream memberitakan, sebuah berita DIPASTIKAN benar?

Belum luput dari ingatan, betapa seluruh media mainstream memberitakan bahwa Irak menyimpan senjata pembunuh massal. Atas alasan itu AS dan sekutunya menggempur Irak pada 2003, menggulingkan Saddam Husein, mendudukinya sampai sekarang. Data 2013, sedikitnya ada setengah juta orang Irak tewas akibat pendudukan AS sejak 2003. Pada 2011, dari mulut para pemimpin AS sendiri, muncul pengakuan: TIDAK ADA SENJATA PEMBUNUH MASSAL di Irak.

Di era digital ini, kebohongan akan terus terekam, tak terhapus.Dalam video ini, kedua versi pernyataan mereka disandingkan (awalnya bilang ada senjata pembunuh massal, lalu tahun 2011 bilang “tidak, saya tidak pernah bilang begitu”).

Sekedar info tambahan, versi lengkap video itu saya tayangkan dalam diskusi di sebuah kampus. Saat itu saya diundang oleh organisasi mahasiswa sebut saja, ABC. Di luar ruangan, organisasi mahasiswa yang lain, XYZ, menggedor-gedor, memblokir pintu masuk, berusaha membubarkan acara. Panitia sudah mengundang mereka untuk duduk di dalam, ikut diskusi. Saya juga tidak takut sama sekali, ayo adu data dan argumen. Eh, mereka tidak mau. Ya beginilah perilaku sebagian dari kita. Menyedihkan, padahal sudah ‘makan’ kuliahan.

Ini bukan cuma soal Suriah. Poin pentingnya ada di “kesalahan berpikir”; yang sangat berpengaruh pada bagaimana orang Indonesia memikirkan dan menganalisis situasi di negeri sendiri.


Note:
1. Bukan berarti apapun yang berasal dari media mainstream harus ditolak dan apapun yang dikatakan media anti-mainstream musti diterima. Kita fokus pada isi, bukan “siapa”. Contoh kasus, buku saya Prahara Suriah pun banyak mengambil sumber dari media mainstream (terutama mengenai aktivitas para “jihadis” karena dulu cuma wartawan dari media mainstream yang bisa masuk dengan aman ke wilayah jihadis), tapi dianalisis dan ditriangulasi dengan data&dokumen yang lain.

2. Apa sih tujuan kebohongan tersebut? Utk kasus Irak (2003) dan Libya (2011), tujuannya mencari dukungan publik dan PBB agar AS dkk diizinkan menginvasi kedua negara itu. Untuk kasus Suriah (2016), tujuannya agar publik dan PBB mendukung diberlakukannya no-fly-zone di Suriah.

Track record kebohongan AS selama ini demi memicu perang, baca di sini: Sejarah Kebohongan Perang AS

Kebohongan yang disebarkan soal Suriah berupa foto dan video sudah sangat banyak, berikut ini kompilasinya (file PDF), sudah 123 halaman (itupun belum semua karena kebohongan baru terus diproduksi).

Minggu, 17 Juli 2016

Mayoritas pendukung Erdogan adalah juga pendukung ISIS

Setelah “Kudeta Gagal” di Turki 

Oleh: Dina Sulaeman

Ini bukan analisis ya, cuma meneruskan kabar dari media antimainstream (21stcenturywire). 

Silahkan menilai sendiri bagaimana sikon di Turki saat ini. Sekali lagi saya tegaskan, menggulingkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis lewat aksi militer adalah kesalahan (sebagaimana juga mengirim jihadis untuk menggulingkan presiden di negara tetangga). Tulisan berikut ini sekedar memperlihatkan bagaimana watak pemerintahan Erdogan dan para pendukungnya. 

Kenapa penting kita ketahui? Karena di Indonesia banyak yang ‘sejenis’ dengan mereka.

------------

Pendukung Erdogan Penggal Kepala Tentara Turki seperti yang dilakukan ISIS

Buntut dari kudeta-gagal di Turki lebih mengerikan daripada yang diperkirakan. 

  • 2.000 warga dijebloskan, 9.000 Polisi diskors, 2.893 Tentara ditangkap, 2.745 Hakim diburu, 103 Jendral ditahan, 30 Gubernur dan 29 Walikota dipecat, 21.000 Guru dicabut izinnya, dan 15.000 Dosen dipecat. Dan ini belum akan berakhir.
  • Beginilah wajah baru pemerintahan Erdogan pasca suksesnya peluncuran Game "Kudeta-Go" oleh erdogan.corp kemarin. ‪#‎PsychoDictator‬ - Ahmed ZM]

Orang-orang AKP (partainya Erdogan) dan pendukung Ikhwanul Muslimin turun ke jalan untuk menegakkan “keadilan ala-ISIS”. Mereka melakukan aksi-aksi mengerikan, termasuk pemenggalan kepala, terhadap para tentara yang dituduh terlibat dalam kudeta.
    Erdogan sendiri melakukan pembersihan besar-besaran terhadap oposisi politik, dimulai Sabtu pagi, dengan perintah untuk mengumpulkan (round-up) minimalnya 3.000 pasukan yang terlibat dalam upaya kudeta, serta merilis 2.700 surat perintah penangkapan untuk HAKIM. Total ada 6.000 orang yang telah ditangkap atas dugaan tuduhan pengkhianatan, dan angka itu diperkirakan akan terus bertambah.
    Erdogan mengatakan, “Pemberontakan ini adalah hadiah dari Tuhan untuk kita karena ini akan menjadi alasan untuk membersihkan tentara kita."

    Erdogan dan dan partainya melalui jaringan mereka, para Imam politik yang berafiliasi di Masjid, secara efektif menyerukan agar pendukung AKP dan pengikut Ikhwanul Muslimin turun ke jalan, untuk memburu dan menghukum militer maupun sipil yang dianggap membangkang. Penyiksaan pun terjadi di jalan-jalan dan polisi tidak melakukan intervensi. 

    Seorang tentara Turki dilaporkan telah dipenggal di jembatan Bosphorus Istanbul oleh massa pro-pemerintah. Rekaman video dan foto-foto menunjukkan prajurit yang tergeletak di tanah dikelilingi oleh genangan darah, dipukuli, disiksa dan dibunuh di jalan-jalan terbuka.

    Video bisa dilihat di bawah ini .



    (Sumber berita dan foto yang saya pakai ini juga bersumber dari link di atas.)

    Sabtu, 09 Januari 2016

    Oleh : Dina Y Soelaiman 

    Fariba, tetangga saya di Teheran (2003-2007) mudah sekali sedih dan stress. Pasalnya, suaminya selalu berada dalam bahaya. Suaminya anggota Garda Revolusi Iran, dan sewaktu-waktu “menghilang” untuk misi anti-terorisme. Fariba selalu ketakutan, suatu saat giliran suaminya yang syahid dibunuh teroris. Dan benar saja, tahun 2009, saat saya sudah di Indonesia, suaminya dan beberapa rekannya syahid dalam aksi bom bunuh diri yang dilakukan teroris di Zahedan (perbatasan Pakistan).

    Hukuman mati di Iran hanya untuk kasus kejahatan berat. Pembunuhan, Terorisme, Narkoba dan Pemerkosaan.[red] 

    Sejak Republik Islam Iran dibentuk dan AS ditendang keluar Iran (padahal sebelumnya AS sedemikian berkuasa di Iran, baik ekonomi maupun politik), aksi-aksi teror tak habis-habisnya menyerang Iran. Sejak 1979-2014, korban terorisme di Iran (bom bunuh diri/ledakan bom) mencapai 17.180 orang, menjadikan Iran sebagai negara dengan korban terorisme terbesar di dunia. Sebagian yang menjadi korban tewas itu adalah para pejabat tinggi negara seperti Presiden Rajai, PM Bahonar, Ketua MA Beheshti, dan Panglima Militer Shirazi. Ayatollah Khamenei sendiri tangan kanannya kisut dan tak bisa digerakkan akibat terkena serpihan bom saat sedang berceramah di Masjid Abu Dzar, Teheran (1981). Beberapa tahun terakhir, yang menjadi korban teror adalah ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran.

    Jurnalis investigatif terkemuka, Seymour Hersh (2008) pernah menulis laporannya tentang kucuran dana AS untuk membiayai kelompok-kelompok teror (antara lain, Jundullah, the Mujahideen-e-Khalq/MEK dan kelompok separatis Kurdithe Party for a Free Life in Kurdistan/PJAK). Tim Shipman dari the Telegraph sebelumnya (2007) juga sudah merilis informasi bahwa Bush meluncurkan “operasi hitam” untuk menggulingkan rezim. Pada tahun itu pula, pemerintah Iran mengumumkan telah menangkap 10 anggota Jundullah membawa uang cash USD500.000 bersama "peta daerah sensitif” dan "peralatan mata-mata modern".

    Serangan lain terhadap Iran adalah “terorisme-narkotika” (narco-terrorism). Pada tahun 2005, saya pernah menulis, bahwa setiap tahunnya, Iran sudah mengeluarkan dana 800 juta dolar (!) yang ditanggungnya sendirian untuk melawan sindikat penyelundup narkoba. Mereka menjadikan Iran sebagai jalur penyelundupan narkotika dari Afganistan dan Pakistan ke negara-negara Eropa dan Teluk. Negara-negara adidaya Eropa dan negara-negara Teluk yang kaya-raya –yang diuntungkan karena Iran pasang badan– hanya memberikan “penghargaan” dan “dukungan”, tapi tidak ada aliran dana yang keluar dari kocek mereka.

    Bukan cuma rugi uang dalam jumlah sangat besar (pasalnya, Iran memang bukan negara kaya), menurut Tehran Times tahun 2005, 3000 tentara Iran telah gugur sebagai syudaha dalam memberantas sindikat narkotika internasional yang bersenjata lengkap itu (sekarang, tahun 2016, entah berapa yang sudah syahid). Belum lagi dampaknya terhadap rakyat Iran sendiri, data tahun 2005 saja ada dua juta pecandu narkotika di Iran. Dan, justru setelah AS bercokol di Afghanistan, arus penyelundupan narkotika di Iran meningkat tajam.

    Yang menjadi luar biasa, Iran tetap menjadi negara yang aman dan nyaman untuk berwisata. Tentu, ada beberapa wilayah sensitif (terutama perbatasan Pakistan, dan wilayah Kurdistan) yang memang bukan jadi tujuan utama wisata. Saya (bersama si Akang, dan bayi Reza) pernah ke Kurdistan, setelah berkoordinasi dengan militer (suami Fariba), agar mendapatkan ‘kawalan’. Banyak yang heran, ngapain saya traveling ke Kurdistan, yang sering ada bom bunuh diri? Tujuan saya ingin melihat sendiri kehidupan warga provinsi itu, yang mayoritas Sunni (sudah saya tulis di buku Journey to Iran *bukan promo, karena bukunya sudah sold out*. Intinya, kaum Sunni Iran baik-baik saja.).

    Yang menjadi luar biasa, meski mengalami aksi teror, rencana kudeta, dan embargo, pembangunan di Iran tetap berjalan pesat. Kondisi Teheran saat kami pulang 2007, dengan saat kami datang lagi diundang konferensi internasional 2015, sangat jauh berbeda, banyak sekali jalan tol baru, jauh lebih modern dan nyaman. Kereta bawah tanah Teheran, rutenya jauh bertambah. Di kota-kota lain yang saya datangi, transportasi publik juga terlihat bertambah banyak. Kemajuan di bidang sains pun tetap berjalan pesat. Pada tahun 2015, berdasar data yang dirilis Scopus, Iran menempati ranking ke-15 dunia yang menghasilkan karya ilmiah; pada tahun 2014 di rangking ke-18. Dan masih banyak kemajuan lain yang diraih oleh negara yang tidak lebih kaya daripada Indonesia ini (berdasarkan GDP).

    Pertanyaannya: kalian pikir, kalau Iran tidak “keras” terhadap teroris, penjahat narkoba, dan berbagai aksi kriminal lain, apakah semua kemajuan, keamanan, dan kenyamanan itu bisa dicapai? Kita bisa lihat betapa brutalnya jihadis mengebom situs-situs kuno ribuan tahun yang sangat berharga di Suriah. Kalian pikir, dengan cara apa selama ini Iran menjaga semua situs kunonya sehingga tetap indah dan dikunjungi jutaan turis mancanegara setiap tahunnya?
    Ya, Iran memang keras pada penjahat. Setiap tahunnya banyak yang dihukum gantung, karena memang serangan kejahatan terhadap Iran selama ini dahsyat sekali.

    Ironisnya, berbagai media memlintirnya dengan menyebut: di antara yang digantung adalah ulama dan aktivis Sunni, untuk mengarahkan opini bahwa Sunni ditindas di Iran. Kalau media Islam abal-abal yang didanai Saudi yang menulis, ya sudahlah, memang mereka cari makan di situ. Tapi, gilanya, dalam beberapa hari terakhir, media resmi pun secara berurutan memberitakan hal senada, mulai dari Detik, Kompas, Sindo, dan kemarin Republika. Sumber yang dipakai biasanya Amnesty Internasional dan HRW (yang juga mengecam Indonesia saat Jokowi memutuskan eksekuti mati untuk penjahat narkoba). Padahal, semua media itu sudah pernah mengirim langsung wartawannya ke Iran dan meliput langsung kondisi di sana. Trias Kuncahyono (Kompas) misalnya, pernah menulis serial liputan ke Iran yang sangat bagus.

    Mengamati pemberitaan soal Iran, memang terasa bahwa negara kecil itu bak Daud yang sedang bertarung melawan Goliath. Setelah Libya dan Suriah dihancurkan, satu-satunya negara yang masih aman dan belum ditundukkan Imperium adalah Iran. Imperium menguasai jaringan media internasional, serta bekerja sama dengan negara-negara Arab dan Teluk yang kaya raya, yang dengan mudah mengucurkan uang untuk propaganda dahsyat anti-Iran, dibantu oleh para awam yang merasa berjihad dengan menyebar fitnah.

    Dalam melawan propaganda itu, Iran hanya dibantu netizen, facebooker, dan blogger gratisan. Bahkan ibuk-ibuk yang seharusnya leyeh-leyeh ngurus anak, terpanggil ikut melawan dengan cara share status (dan tetap teguh meski dibully). Ini bukan karena Syiah, melainkan karena melawan ketidakadilan adalah naluri setiap orang yang bernurani. Ini juga bukan tentang Iran semata, tapi tentang bangsa Indonesia yang sedang dicoba diadudomba melalui isu Sunni-Syiah. Tangan kecil kita sedang melawan tangan raksasa. Tapi, bukankah Daud yang bersenjatakan ketapel bisa tetap menang melawan Goliath?

    Foto: Koran Republika (9/1) menulis soal 1000 orang yang digantung di Iran. Lucunya, berita dirilis dari Riyadh [propaganda saudi-red] .

    Tag: #Daud VS Goliath, #Propaganda Saudi, #sindikat Narkotika, #Sunni ditindas di Iran, #aktivis Sunni, #jundullah, #mujahideen-e-khalq, #Terorisme, 

    Minggu, 03 Januari 2016

    SYEKH NIMR

    Oleh: Dina Y Soelaiman

    Semalaman ini, di timeline saya banyak info tentang eksekusi hukuman mati terhadap ulama Syiah di Arab Saudi, Syekh Nimr. Saya pun mencari di youtube ceramah-ceramahnya, ternyata memang dia keras mengkritik Rezim Saudi, tak heran bila kuping Raja dan para pangeran kaya raya itu kepanasan lalu memutuskan untuk memenggalnya. 

    Sikap seseorang kepada pemenggalan Syekh Nimr pasti sangat bergantung bagaimana ia memandang Rezim Saud. Bila baginya Rezim Saud adalah rezim suci penjaga Haramain, yang bahkan dosanya dalam tragedi Mina pun tak boleh dikritik (dan yang mengkritik disebut Syiah), maka Syekh Nimr pantas dipenggal karena mengganggu stabilitas negara. 

    Tapi, gambar ini memberikan perspektif lain.

    Minggu, 06 Desember 2015

    Oleh: Dina Y Soelaiman 

    hari Kamis yang lalu saya diwawancarai IRIB Indonesia soal surat Ayatullah Khamenei (Leader Iran pasca Khomeini) kepada para pemuda Eropa. Suratnya bisa digoogling saja, ada terjemahan Inggris dan Indonesia. Sayang yg menyebarkan surat itu di twitter akunnya malah diban oleh twitter (tanya kenapa?).


    Saya bilang dalam wawancara itu, di surat pertama (Januari 2015, pasca teror terhadap redaktur Charlie Hebdo) Khamenei meminta kepada para pemuda Eropa agar mempelajari Islam dari sumber-sumber yang valid agar tidak terjebak dalam Islamophobia. Di surat kedua (pasca teror Paris bulan November), Khamenei memetakan masalah terorisme di dunia, agar para pemuda Eropa bisa menyikapinya dengan tepat. Poin-poinnya antara lain:


    1. 1. Terorisme mengakibatkan luka dan kesedihan yang sama bagi semua orang (korban), apapun agamanya dan dimanapun mereka tinggal.

    2. 2. Terorisme di Paris sangat menyedihkan, tetapi jangan lupakan bahwa terorisme yang sama telah dialami rakyat negara-negara Muslim selama bertahun-tahun. Bila rakyat Paris bisa menghindari teror dengan berlindung di rumah, rakyat Palestina, Irak, Suriah, Yaman, Afghan, dll, bahkan di rumah pun tak ada jaminan selamat, sewaktu-waktu bom bisa jatuh di atas rumah.

    3. 3. Sudah sangat terbukti, terorisme di negara-negara Muslim justru didukung oleh negara-negara Barat yang bekerja sama dengan "negara Badui". Sungguh ironis, negara-negara terdepan dan termaju dalam demokrasi justru bekerjasama dengan negara-negara paling terbelakang dalam demokrasi, untuk menghancurkan negara-negara Muslim yang maju demokrasinya.

    4. 4. Respon para pemuda di Barat secara umum terbagi dua: Islamofobia (anti/takut terhadap Islam) atau justru malah tertarik untuk bergabung ke dalam kelompok-kelompok teror atas nama Islam. Karena itu, sekali lagi, pelajarilah Islam dari sumbernya yang benar. Mana mungkin agama yang mampu membentuk peradaban tinggi yang jelas tercatat dalam sejarah, bisa menciptakan paham teror? Justru paham teror itu muncul ketika kekuatan Barat berkolaborasi dengan "negara-negara Badui" yang paling terbelakang dari sisi demokrasi dan intelektual di Timteng.


    Meskipun surat ini ditujukan kepada pemuda Eropa, saya pikir pas juga untuk kita orang Indonesia, terutama karena akhir-akhir ini sebagian terlihat sangat anti-Islam dan sebagian lagi malah tergila-gila pada paham teror, Untungnya masih banyak Muslim moderat yang gigih menyebarluaskan Islam yang welas asih, meski suaranya masih sayup-sayup (karena suara tetangga sebelah jauh lebih berisik). Jangan menyerah, kawan. 

    Sabtu, 21 November 2015

    Oleh: Dina Y Sulaeman 
    Ini copas status saya di FB tgl 18 Nov (yang dg segera di-report oleh takfiri, sehingga status tsb dihapus FB dan saya diblokir, tidak bisa posting di FB selama beberapa hari). Saya tambahi beberapa info baru.
    ====
    Mungkin ada yang bertanya-tanya, gimana cara AS mendirikan Al Qaeda, ISIS, dll.? Sedemikian begonyakah orang Muslim sampai nggak nyadar kalo dikerjain? Tentu saja, caranya enggak blak-blakan dong. Sangat tersistematis (emangnya AS itu bego, apa?). AS tidak langsung hadir di lapangan, tetapi pakai tangan “ustadz-ustadz” dan aliran dananya pun kadang lewat negara-negara kroninya (seperti diakui oleh Hillary Clinton, CIA bekerja sama dengan Pakistan dan Arab Saudi). Makanya ada status FB orang Indonesia yang saat ini sedang jihad di Suriah, dia bilang, “Senjata mujahidin itu memang dari Amerika; malah bagus kan, canggih! [halooo…???] tapi bukan gratisan, melainkan sumbangan dari Arab Saudi dll.” (browsing aja, itu status dicopas pkspiyungan).
    Poin penting pertama: berpikirlah kritis, jangan membeo melulu dan berkata “kata ustadz ana..” melulu.
    Poin kedua: yang perlu kita -terutama ibuk-ibuk- catet adalah metode indoktrinasi paham kebencian dan teror kepada anak-anak melalui buku. Kalau ditemukan buku-buku semacam itu, segeralah perbaiki pemahaman anak; ingatkan bahwa Islam adalah agama yang welas asih.
    Foto di bawah ini adalah salah satu halaman di buku sekolah dasar anak-anak Afghan (zaman Soviet).

    Buku-buku pendidikan ‘jihad’ itu ternyata dibuat AS. Washington Post, 23 Maret 2002 menulis antara lain bahwa USAID menghabiskan 51 juta dollar untuk membiayai ‘program pendidikan di Afghanistan 1984-1994’ yang dilakukan oleh Universitas Nebraska. Buku-buku itu ditulis dalam bahasa utama Afghan, Dari dan Pashtun, dibuat pada tahun 1980-an dengan dana dari USAID yang dihibahkan kepada Pusat Studi Afghanistan di Universitas Nebraska.
    Buku-buku yang penuh dengan gambar-gambar kekerasan dan ajaran Islam militan itu disuplai ke anak-anak sekolah di Afghan, sebagai bagian dari operasi rahasia untuk menumbuhkan perlawanan terhadap penjajahan Soviet.
    Buku-buku utama, yang dipenuhi pembicaraan tentang jihad dan berisi gambar-gambar senjata, peluru, tentara, dan ranjau, telah dipakai dalam kurikulum sekolah di Afghanistan. Bahkan Taliban menggunakan buku produksi Amerika ini.
    Gedung Putih membela konten ‘relijius’ itu dengan mengatakan bahwa prinsip-prinsip Islam mempengaruhi kebudayaan Afghan dan bahwa buku-buku itu “sepenuhnya sesuai dengan hukum dan kebijakan AS.” Ahli hukum mempertanyakan apakah buku-buku ini tidak melanggar konstitusi AS yang melarang penggunaan uang pajak untuk mempromosikan agama.
    Pejabat USAID (United States Agency for International Development) pun berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa mereka membiarkan konten ‘Islami’ itu karena mereka khawatir para guru di Afghan akan menolak buku itu bila tidak mengandung pemikiran muslim dalam ‘dosis yang kuat’. USAID menghapus logo lembaga tersebut dari buku-buku agama itu; kata Jubir USAID, Kathryn Stratos.
    Contoh isi buku matematika produk AS:
    -* Jika ada 10 atheis, 5 dibunuh oleh 1 Muslim, maka sisanya = 5
    -* 5 pistol + 5 pistol = 10 pistol
    -* 15 peluru– 10 peluru= 5 peluru.

    Tahun 2014, di Suriah, tenda berlogo USAID terlihat dipakai oleh ISIS

    CERMATI POLANYA!
    Setelah membaca uraian di atas, silahkan dipikir secara kritis, dan cermati bahwa pola yang sama (tetapi sesuai dengan perkembangan zaman) tengah berulang.
    1-Kelompok takfiri mampu memproduksi poster+ buku+VCD ttg Syiah (saya pernah baca bukunya, isinya penuh fitnah) dan dijual 1000 (SERIBU) rupiah saja.

    2– Mereka mampu menyebar spanduk yang dipasang cukup masif di berbagai penjuru Indonesia, mengadakan majelis-majelis pengajian, seminar, membuat ratusan website, membuat ratusan channel telegram yang sangat aktif, untuk mengulang-ulang kalimat yang sama: Syiah Bukan Islam, Syiah Ancaman NKRI
    Orang-orang yang menyebar jargon itu, adalah orang-orang yang sama yang selama ini menyebut Pemerintah Indonesia Thoghut, ingin mendirikan khilafah, Pancasila bi’dah (yang ikut Pancasila akan binasa), dst.
    Dana untuk aktivitas semasif itu, butuh dana yang sangat besar. Buat apa mereka menggelontorkan dana yang sangat banyak itu? Siapa yang menyediakan dananya? Apa tujuannya?
    Silahkan dipikirkan.
    NB: propaganda terbaru mereka : ISIS adalah buatan Iran. Ini jawaban untuk mereka:



    Rabu, 18 November 2015

    Oleh: Dina Y Sulaeman

    Ada yang inbox ke saya, menyatakan bahwa mujahidin bukan ISIS. Sepertinya, memang masih banyak yang bingung, apa beda ISIS dengan yang lain. Secara singkat, ceritanya begini. Ada banyak kelompok ‘jihad’ di Suriah, dengan banyak nama. 



    Pada tanggal 20 November 2012, mereka mendeklarasikanBrigade Koalisi Pendukung Khilafah (beranggotakan Jabhah Al Nusrah, Ahrar Al Sham Kataeb, Liwaa al tawhiid, dll). Yang paling ‘besar’ adalah Jabhah Al Nusra (JN), yang berafiliasi dengan Hizbut Tahrir. Ini bisa dilihat dari tulisan-tulisan pro JN di web-web HT. Sementara itu, media-media yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin mengambil posisi sebagai pendukung Free Syrian Army (yang mereka sebut ‘mujahidin’ juga). Para komandan tinggi FSA bermarkas di Turki dan dari sanalah mereka berusaha mengendalikan pemberontakan bersenjata melawan pemerintah Suriah.

    Kedua pihak ini (IM dan HT) seolah berbeda, tapi sebenarnya akar ideologinya sama: takfirisme/wahabisme. Bisa dipastikan, bilapun Assad tumbang, mereka sulit disatukan. HT dan afiliasinya mendambakan berdirinya khilafah di Suriah yang secara tegas menolak demokrasi, sementara IM seolah lebih ‘moderat’, antara lain terlihat dari kesediaannya bergabung dalam koalisi bentukan Barat (SNC). Sekarang pun, di antara kelompok-kelompok jihadis sudah saling mengkafirkan dan saling bantai.

    JN berafiliasi dengan Al Qaida. Banyak jihadis JN yang berasal dari jaringan Al Qaida pimpinan Abu Mus’ab al-Zarqawi, yang dibangun tahun 2002, menyusul kepulangan Zarqawi dari Afganistan. Pejuang jihad Suriah yang bertempur bersama Al-Zarqawi di Herat (Afghanistan) pada tahun 2000 membangun cabang jaringan ini di Suriah dan Lebanon; Al-Zarqawi yang mengontrolnya dari Irak. Pasukan jihad Suriah ini membangun semacam tempat persinggahan bagi para jihadis dari berbagai negara yang akan masuk ke Irak. Selama masa ini pula, mereka menjadi saluran utama distribusi dana bantuan yang digalang para jihadis di negara-negara Arab dan Teluk. 

    Salah satu anggota jaringan ini bernama Abu Mohammad al-Julani yang kemudian mendirikan Jabhah Al Nusrah. Ketika ‘revolusi’ Suriah dimulai, jihadis dari Irak juga diperbantukan ke Suriah. Koneksi antara JN dan Al Qaeda semakin terlihat nyata ketika pada tanggal 7 April 2013 pemimpin al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri, merilis video berisi seruannya agar para mujahidin bersatu untuk berjihad mendirikan sebuah negara Islam di Irak dan Suriah. Dua hari kemudian, Abu Bakr al-Baghdadi merilis pengumuman dibentuknya satu pemerintahan Islam yang meliputi wilayah Suriah dan Irak (ISIS). Al-Julani kemudian menjawab pengumuman ini dengan merilis video berisi rekaman suaranya, yang intinya, menolak bergabung dengan ISIS. 

    Bagaimana dengan FSA? Mustafa al-Sheikh (Ketua Dewan Tinggi Militer FSA) saat diwawancarai The Guardian (2012) mengatakan, “Mereka (Al Qaida) adalah kelompok garis keras yang berbeda. Kami tidak berhubungan dengan mereka tetapi kami tidak berkeberatan dengan aksi mereka di manapun di Suriah.” (tapi ada juga video yang memperlihatkan FSA mengibarkan bendera Al Qaida setelah memenggal kepala 7 warga sipil).

    Nah jelas kan? Mereka semua setali tiga uang. Meski beda nama, gaya ‘berjuang’ mereka sama saja: memenggal kepala. 

    Sekarang, muncul pertanyaan dalam diri saya, kenapa sih kok style-nya sama: memenggal kepala? Saya kebetulan baru nemu buku yang diterbitkan Hizbuttahrir berjudul “Struktur Negara Khilafah”. Di situ tercantum: “Dalam Riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: Siapa saja yang telah membaiat seorang imam/khalifah, lalu ia telah memberikan kepadanya genggapan tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia menaatinya dengan kemampuannya. Kemudian jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaannya, maka penggallah orang itu.”

    Saya bukan ahli agama jadi tidak bisa memverifikasi hadis. Mungkin rekan-rekan yang ahli agama bisa menjawab: apakah hadis ini sahih? Kalau tidak sahih, case close. Tapi, bila hadis ini sahih, apakah boleh dimaknai harfiah? Terus-terang saya menolak percaya bahwa Rasulullah yang saya cintai tega memerintahkan memenggal kepala sesama muslim hanya karena kekuasaan. Apalagi, mengingat banyaknya simpatisan HT dan IM di Indonesia, saya sungguh ngeri memikirkan kalau kelak mereka angkat senjata seperti di Suriah.
    Oleh : Dina Y Sulaeman

    Para pendukung jihad di Suriah selalu mengulang-ulang klaim bahwa rakyat Suriah menderita di bahwa Assad dan menginginkan tergulingnya Assad. Bahkan sebagian mereka mengklaim, rakyat Suriah ingin mendirikan khilafah. Pertanyaannya: seberapa banyak ‘rakyat’ yang mereka sebut ini?Apakah mayoritas? Kalau mayoritas, tanpa perlu perang, Assad sudah sejak setahun atau dua tahun lalu bisa ditumbangkan, seperti Mubarak atau Ben Ali.
    Yang perlu diakui, ADA bagian rakyat Suriah yang tak menginginkan perang. Mungkin mereka memang mencintai Assad, tapi mungkin juga yang mereka cintai adalah negeri dan kehidupan damai mereka selama ini. Mari kita bayangkan bila tiba-tiba saja di Jawa Barat muncul pasukan mujahidin yang ingin memisahkan Jawa Barat dari NKRI. Mereka mengaku memperjuangkan kepentingan rakyat Jabar, tapi yang terjadi justru hancur leburnya gedung-gedung, sekolah, universitas, fasilitas publik, dll (misalnya lho, naudzu billah.. tapi seperti inilah yang terjadi di Suriah).
    Foto-foto berikut ini membuktikan bahwa ADA rakyat Suriah yang memang tak mendukung aksi jihad. Saat melihat foto-foto Suriah, perhatikan benderanya. Bila orang-orang membawa bendera merah-putih-hitam, itu adalah bendera resmi Suriah dan yang mengibarkannya pastilah pro Assad, atau pro Suriah (sangat mungkin tidak pro Assad tapi mereka tak mau negara mereka dihancurkan milisi bayaran dari luar negeri). Sebaliknya, bila mereka membawa bendera hijau-putih-hitam, artinya mereka ini pendukung terorisme (tentu saja, mereka menyebutnya ‘jihad’, meski itu diwarnai dengan pengeboman di berbagai fasilitas publik termasuk sekolah dan universitas; bom bunuh diri, membantai dan memutilasi para ulama Sunni, antara lain Syekh Buthy dan Syekh Seifeddin, membongkar kuburan sahabat Nabi, serta memakan jantung mayat tentara Suriah). Perlu diketahui, bendera hijau-putih-hitam adalah bendera Suriah saat masih dijajah Prancis.
    Dibawah ini foto-foto pendukung pemberontak. (Sangat disayangkan, sebagian pendukung terorisme di Suriah justru mereka yang dulu dibela oleh rezim Assad, misalnya Khaled Meshal dan Ismail Haniyah).
    Ismail Haniyah, seorang pemimpin HAMAS yang dulu didukung Assad saat melawan Israel. Dibayai dan diberi kantor gratis tanpa syarat oleh Assad di Suriah.

    Khaled Meshal dan elite Hamas kibarkan bendera pro - pemberontak Suriah 

    Artis Maher Zen dalam acara penggalangan dana utk Free Syirian Army[FSA] 

    Adnan Ar’our, salah satu pemimpin spiritual pemberontak, tinggal di Saudi, dalam khutbahnya dia menyeru bahwa ‘orang-orang Alawi[keturunan nabi]  akan dicincang dan dagingnya diberikan ke anjing’

    Bernard Henry Levy, tokoh Zionis yang jadi makelar perang Libya dan Syria

    • Berikut ini, foto demo pro Assad, perhatikan warna benderanya.

    Anda juga bisa melihat Videonya di bawah ini⬇ 


    Kalimat berikut ini diungkapkan oleh seorang dokter Suriah, menurut saya jauh lebih tepat menggambarkan apa sebenarnya yang diinginkan rakyat Suriah:

    “Twenty percent of the people of all Syria love the president too much. And 20 percent may hate the president too much. But the rest, which is 60, loves their country. …They do not want their country to be destroyed… I am with any revolution who change for the better, who changes for democracy. But I do not agree with any revolution who destroy the country.”
    Dan karena itu, saya mengajak kita semua berpikir ulang dalam menanggapi seruan penggalangan dana untuk mujahidin Suriah. Benarkah mereka mujahidin? Kalaupun benar, apakah mereka memang diinginkan oleh mayoritas rakyat Suriah? Apakah perjuangan mereka membawa maslahat buat mayoritas rakyat Suriah? Sekali lagi, bayangkan bila situasi yang sama terjadi di Indonesia, naudzubillah…
    Alangkah lebih baiknya bila dana ratusan juta yang konon sudah terkumpul dalam aksi-aksi penggalangan dana Suriah itu disumbangkan untuk sesuatu yang lebih jelas maslahatnya, misalnya pembangunan RS Indonesia di Gaza yang hingga kini masih sangat membutuhkan bantuan dana kita bangsa Indonesia; karena penggagas RS ini (MER-C) bertekad menyelesaikan RS ini dengan murni dana bangsa Indonesia.
    Musuh kita adalah Zionis, bukan sesama umat Muslim 

    Rabu, 11 November 2015

    Oleh: Dina Y. Sulaeman*
    Ada informasi penting yang tidak terlalu dipedulikan masyarakat internasional, dan Dunia Islam khususnya: bom nuklir telah digunakan di Yaman. Setidaknya, bom itu dua kali dijatuhkan di Yaman oleh F-16 (dan satu-satunya negara Timteng yang memiliki F-16 adalah Israel) pada bulan Mei 2015. 


    Media yang mengungkapnya pertama kali adalah Veterans Today dan segera tersebar luas di jaringan media alternatif. Sementara itu, media mainstream bersikap pasif dan bantahan dari beberapa pengamat pro-Israel bermunculan. VT menggunakan rekaman video  sebagai basis analisisnya.
    Lihat Video dibawah ini :

    “Ini terlihat sebagai [ledakan] dari sebuah bom neutron kecil. Ukuran, warna, efek cahaya, dan durasi bola api terlihat di udara, dan awan berbentuk jamur yang sangat besar merupakan hasil dari ledakan bom ini. Fasiltas “CCD” pada kamera mampu “scintillating” (mendeteksi neutrons). Itulah mengapa muncul percikan cahaya putih di video. Ketika sebuah foto memperlihatkan adanya percikan cahaya putih (white pixel flashes), itu karena kamera terkena neutron yang terlepas dari ledakan bola nuklir. Neutron itu memenuhi sirkuit electronik CCD, sehingga memproduksi percikan cahaya putih,” tulis Jeff Smith, ahli fisika nuklir dan mantan inpektur IAEA.
    Menurut Smith, indikasi lainnya: ledakan yang terjadi jauh lebih besar daripada bom 2000 pound (907 kg); tapi F-16 tidak mampu mengangkut bom lebih berat dari 2000 pound. Jadi, ini pasti bom yang kekuatannya sangat besar, namun beratnya di bawah 2000 pound.
    Menanggapi kerasnya tekanan/intimidasi yang diberikan atas pemberitaan ini, VT kemudian secara detil menjelaskan cara kerja kamera modern yang mampu mendeteksi adanya neutron yang tersebar dalam ledakan bom tersebut, di sini.
    Prof Michel Chossudovsky menulis, meskipun belum bisa ditemukan bukti yang lebih banyak terkait penggunaan bom nuklir di Yaman, namun analisis video itu sangat relevan dengan agenda perang nuklir AS dan NATO yang telah diluncurkan sejak tahun 2002.

    Agenda Perang Nuklir AS - NATO 

    Agenda perang nuklir yang dimaksud Chossudovsky sudah ditulisnya secara detil dalam buku “Skenario Perang Dunia III” (edisi terjemahan Indonesia diterbitkan 2014 oleh penerbit Change). Poin-poin penting yang diungkapkan dalam buku itu antara lain:
    1. Melalui propaganda media, masyarakat dunia digiring untuk percaya bahwa “bom nuklir mini” berbeda dengan bom nuklir yang dulu diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki (1945). Pentagon menyebut bahwa bom nuklir mini (dengan daya ledak kurang dari 5000 ton) digunakan untuk ‘membela diri’ (untuk mengalahkan rezim-rezim jahat) dan tidak berdampak negatif bagi manusia karena ledakannya terjadi di dalam tanah. Bahaya asli pesenjataan nuklir dikaburkan dalam propaganda ini. Padahal, masing-masing bom mini itu menghasilkan ledakan antara seperrtiga hingga enam kali lipat bom yang dijatuhkan di Hiroshima.
    2. Kongres AS pada 2002 menyetujui proposal nuklir Pentagon mengenai penggunaan senjata nuklir terhadap negara-negara ‘poros kejahatan’ (termasuk Iran dan Korea Utara), bahkan terhadap Rusia dan Cina. Persetujuan Kongres artinya persetujuan cairnya dana.
    3. Pada 6 Agustus 2003 (tepat hari peringatan jatuhnya bom nuklir di Hiroshima), dilakukan rapat rahasia di markas Angkatan Udara AS di Nebraska, dihadiri petinggi militer, ilmuwan nuklir, dan para pengusaha militer membicarakan proyek pengadaan bom nuklir mini.
    4. Perusahaan industri militer merupakan aktor terkuat dalam proyek ini. Selain meraup keuntungan milyaran dollar dari produksi bom nuklir, mereka juga yang menetapkan agenda mengenai penggunaan dan peluncuran senjata nuklir. Di antara perusahaan tsb adalah: Lockheed Martin, General Dynamics, Northtrop Grunman, Raytheon, dan Boeing.
    5. Israel memiliki 100-200 hulu ledak bom nuklir strategis; tapi jumlah bom nuklir taktis yang dimiliki belum diketahui (bom nuklir mini diistilahkan juga “bom taktis”). Negara-negara Eropa non-nuklir (mengklaim diri tidak memiliki nuklir), seperti Belgia, Jerman, Belanda, Italia, (plus Turki) sebenarnya juga memiliki cadangan bom nuklir mini ini, dikirim oleh Pentagon. Turki memiliki sekitar 90 bom nuklir mini jenis B-61 di markas udara nuklir Incirlik.
    Pertempuran Demi Minyak
    Sekarang, siapa ‘musuh’ yang dihadapi oleh AS sehingga mereka perlu melakukan proliferasi nuklir (meski mengklaim ini sebagai bom nuklir yang ‘baik’)? Apa tujuan perang sebenarnya?
    Chossudovsky menulis (dengan berbagai argumen) bahwa tujuan perang sesungguhnya adalahpenguasaan minyak dan gas.
    “Lebih dari 60% cadangan minyak bumi dan gas di seluruh dunia terletak di tanah Muslim. Pertempuran demi minyak bumi yang dilancarkan oleh persekutuan AS-NATO-Israel membutuhkan demonisasi (dicitrakan sebagai monster) penduduk negara-negara tersebut,” tulis Chossudovsky (hlm 90).
    Di titik inilah, terorisme atas nama Islam memiliki peran penting. Di satu sisi, AS memfasilitasi (termasuk mendanai dan mempersenjatai) terbentuknya organisasi-organisasi teror itu (baik langsung oleh CIA, maupun lewat tangan Arab Saudi dan Qatar). Hal ini sudah diakui oleh pejabat AS, termasuk mantan menlu AS Hillary Clinton. Namun di sisi lain, anggota kelompok-kelompok teror itu benar-benar Muslim yang sukarela bergabung dan merasa sedang berjihad. Jaringan teror Al Qaida dan ISIS (dan berbagai kelompok sejenis lainnya) melakukan berbagai aksi barbar dan brutal atas nama agama. Aksi-aksi mereka telah membantu memuluskan upaya propaganda AS bahwa negara-negara kaya minyak adalah ‘negara liar’ atau ‘negara gagal’.
    Tujuan propaganda ini adalah agar publik AS (dan Barat pada umumnya) mau menerima doktrin perang nuklir Pentagon dan menganggap wajar pembunuhan massal terhadap rakyat sipil yang dilakukan pemerintah mereka. Pentagon (militer AS) dan NATO juga menggunakan skenario perang saudara, sehingga negara-negara Timteng diproyeksikan akan terpecah-pecah. Dalam peta baru Timur Tengah yang digunakan oleh Akademi Perang AS dan Sekolah Tinggi Pertahanan NATO, perbatasan internasional didefiniskan ulang sesuai garis aliran (mazhab) dan etnis, yang bersesuaian dengan kepentingan para raksasa minyak Barat.
    Berikut ini tabel cadangan minyak di negara-negara Muslim. Terlihat bahwa 74% cadangan minyak dunia berada di dalam genggaman kaum Muslim. (Dikutip sebagian dari buku Chossudovsky, hlm 100-101)
    UrutanNegara MuslimPersentase Cadangan Dunia
    1Arab Saudi24,2
    3Iran12,1
    4Irak10,6
    5Kuwait9,2
    6UAE6,5
    9Libya3,2
    10Nigeria3,4
    13Qatar1,8
    15Aljazair1,4
    17Kazakhstan0,8
    19Azerbaijan0,6
    21Oman0,4
    24Indonesia0,5
    26Yaman0,3
    27Mesir0,3
    28Malaysia0,3
    30Suriah0,2
    37Brunei0,1
    TOTAL NEGARA MUSLIM75,9%
    TOTAL NEGARA BARAT (Uni Eropa, Amerika Utara, Australia)4,1%
    Negara lain (termasuk Venezuela, Rusia, China, Brazil, Meksiko)20,6%

    Skenario Perang Dunia 3


    “Musuh” terbesar dalam skenario perang yang diluncurkan AS-NATO-Israel adalah Iran. Dalam arti, Iran di-demonisasi (dicitrakan sebagai monster). Proyek nuklir damai Iran (untuk sumber energi, bukan senjata) dijadikan isu utama dalam propaganda perang AS. Dengan kata lain: AS mengatakan kepada publik bahwa perlu dilakukan perang nuklir (termasuk artinya: mengalokasikan uang negara untuk mendanai pembuatan bom-bom nuklir) karena ada musuh besar di depan, yaitu IRAN.
    Hasil propaganda ini: 56% rakyat AS mendukung tindakan militer AS-NATO terhadap Iran (survey Februari 2010, dikutip Chossudovsky, hlm 122).
    Di titik ini, Chossudovsky mengungkapkan tesisnya bahwa serangan terhadap Iran akan memicu Perang Dunia Ketiga. Sebab, Iran juga memiliki persenjataan yang cukup signifikan. Selain itu, meskipun Iran dikelilingi pangkalan militer AS yang bercokol di negara-negara Muslim di sekitar Iran, pasukan Iran sangat besar bila dibanding jumlah personel AS-NATO di kawasan.
    Pasukan darat Iran 700.000 orang, pasukan laut 18.000 orang, dan pasukan udara 52.000 orang. Belum lagi pasukan paramiliter yang dikendalikan Garda Revolusi, yang totalnya 11 juta orang yang siap dimobilisasi sewaktu-waktu. Iran juga telah memiliki rudal jarak jauh yang siap diarahkan ke Israel dan berbagai negara Arab pro-AS bila pihaknya diserang. Di pihak lain, AS-NATO-Israel sudah bersiap menggunakan senjata nuklir untuk menyerang Iran. Penggunaan senjata nuklir inilah yang dikhawatirkan Chossudovsky, karena dampaknya akan sangat buruk bagi umat manusia secara luas.
    “Dalam skenario memanasnya keadaan, pasukan Iran dapat melintasi perbatasan dan masuk ke Irak dan Afghanistan. Pada gilirannya, memanasnya keadaan hingga menggunakan persenjataan nuklir dapat menyebabkan kita semua memasuki skenario Perang Dunia III yang meluas, melampaui regional Timteng/Asia Timur. Proyek militer ini, yang telah direncanakan Pentagon sejak [2002], mengancam masa depan umat manusia,” tulis Chossudovsky (hlm 184).
    Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat Sipil?

    Di bab akhir bukunya, Chossudovsky menulis bahwa rakyat sipil di seluruh dunia harus bangkit untuk mencegah perang. Di antara yang penting dilakukan:
    1. Bongkarlah kriminalitas proyek nuklir ini.
    2. Ungkapkan kedustaan media, lawan propaganda perang, dan balikkan arus penyesatan informasi; lakukan perlawanan secara konsisten terhadap media korporasi (media mainstream).
    3. Membongkar bagaimana perang sebenarnya disponsori oleh bank, perusahaan industri militer, raksasa minyak, raksasa media, serta konglomerat bioteknologi.
    4. dll (hlm 207-223).
    *peneliti ICMES, mahasiswa Program Doktor HI Unpad

    Terbaru

    Seri Kekejaman ISIS

    Video

    Mengenang Kembali Bom Teroris Wahabi Saat Peringatan Maulid Nabi


    VIDEO Terbaru

    Random Post

    pks